Senin, 08 Maret 2021

Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

 KATA SAMBUTAN


Assalamu’alaikum wr, wb.

Manusia merupakah makhluk sempurna, karena dibekali dengan cipta, rasa dan karsa. Dimilikinya tridaya tersebut menjadikan manusia sebagai insan yang inspiratif, termasuk sosok guru. Sesuai konsep Ki Hajar Dewantara, guru memikul tanggung jawab yang besar tidak hanya secara keilmian, namun juga secara moral dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh sebab itu, guru sebagai tenaga profesional tidak cukup hanya menguasai materi yang diajarkan. Namun, dituntut memahami kondisi peserta didik yang dihadapinya.

 

Diperlukan guru inspiratif, yang mampu mendidik, memberi teladan, memahami kondisi psikologis, serta mampu memotivasi peserta didik agar lebih maju. Clay P. Bedford menyatakan “You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.” Sebuah konsep yang menunjukkan betapa vitalnya peran guru inspiratif. Guru yang mampu menciptakan rasa ingin tahu peserta didik agar dapat melanjutkan pembelajaran secara mandiri sepanjang hayatnya.

 

Keberadaan sosok guru inspiratif relevan dengan tuntutan pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya terkait dengan konsep merdeka belajar. Hakikat merdeka belajar bahwa guru mendapat keleluasaan dalam mendesain pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, namun memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berinovasi, belajar mandiri dan kreatif. Konsep merdeka belajar tersebut menyiratkan betapa guru berada pada posisi sebagai inspirator dalam membangun inovasi, kemandirian dan pengembangan kreativitas peserta didik. Muara dari konsep tersebut adalah menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat.

 

Agar menjadi sosok inspiratif, guru seyogyanya berpegang teguh pada prinsip care, share, dan trust. Care, yakni memberi perhatian atas perbedaan latar belakang peserta didik, baik perbedaan fisik, intelektual, maupun sosio-emosional. Guru harus merangkul, memberi semangat, dan memotivasi peserta didik. Share, yakni mampu berbagi ilmu sesuai kompetensinya melalui proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menantang. Guru dituntut mampu merancang metode dan strategi pembelajaran yang menarik dengan dukungan media yang tersedia. Trust, yakni menjadi sosok yang digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani) serta mampu menanamkan karakter yang baik bagi peserta didik.

 

Guna menampilkan sosok-sosok guru inspiratif dari seluruh penjuru nusantara, maka Wardah menyelenggarakan ajang Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Ajang kompetisi bagi para guru untuk menunjukkan kemampuannya dalam menginspirasi lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Selain perlombaan, melalui ajang tersebut para guru mendapatkan pelatihan guna lebih meningkatkan kompetensinya sebagai guru yang inspiratif. Guru yang menjadi ujung tombak pelaksanaan merdeka belajar. Guru pembelajar yang peduli dengan peran dan tanggung jawabnya.

 

Salah satu bentuk inspirasi dari guru yang menjadi peserta WIT 2020 adalah lahirnya buku ini. Buku yang ditulis oleh Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH., seorang guru inspiratif dari NTT, bersama sepuluh penulis alumni WIT 2020 ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi para guru di seantero nusantara. Kesebelas penulis tersebut seolah menjadi pengejawantahan Dewi Sartika era milenial, karena semangatnya dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas melalui berbagai inovasi yang dilakukannya.

 

Semua terlukis jelas melalui lembar demi lembar kisah dalam buku ini. Mencermati keseluruhan kisah diperoleh nilai inspirasi dalam mengupdrage diri, membangun karakter, menebarkan kepedulian, mengembangkan kompetensi dengan penuh keterbukaan, serta menjalankan profesinya secara totalitas meski dalam suasana pandemi. Pantaslah mereka layak dinobatkan sebagai guru inspiratif.

 

Kisah sebelas penulis dalam buku ini identik dengan kata mutiara Brad Henry, bahwa "Seorang guru yang baik dapat mengilhami harapan, menyalakan imajinasi, dan menanamkan cinta belajar". Harapan dari buku ini tentunya tidak hanya sekedar menjadi bahan bacaan, namun mampu mengilhami para pembacanya tentang hakikat seorang guru inspiratif. Guru yang tak henti berinovasi, tak lelah menjalani profesi, totalitas dalam mengabdi, patut diteladani, pantang menyerah meski di masa pandemi, serta terus mengembangkan kapasitas diri.

 

Setelah buku ini, saya berharap akan lahir karya-karya berikutnya dari para peserta WIT 2020 khususnya maupun para guru umumnya. Karya yang dapat dijadikan sebagai bukti sejarah bahwa jiwa guru adalah jiwa petarung. Mampu menjawab semua tantangan, pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan serta mampu merubah hambatan menjadi peluang.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada Dra. Ika Lilis Herpianti Sutikno, SH., atas terbitnya buku inspiratif ini. Semoga selalu istiqomah dalam mengabdi dan berkarya demi majunya pendidikan di negeri ini.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Selasa, 02 Maret 2021

Berbagi Endorsment #2

Berbagi Endorsment #2

 Endors Buku "Panggil Aku Kak NUS"

Karya : Kak Nus


Setiap waktu berlalu, selalu menggoreskan kisah dalam kenangan. Tak sedikit kenangan yang hanya terkubur di dasar samudera logika hingga hilang tak berbekas, namun ada kisah yang tertanam di relung jiwa hingga terkenang sepanjang hayat. Buku ini menggambarkan betapa kenangan demi kenangan sebagai hadiah dari berlalunya waktu ternyata mengandung makna mendalam. Makna yang jika direfleksi dapat menjadi permata sebagai bekal dalam mengarungi perjalanan di masa depan dengan lebih baik lagi. Buku ini pula menyiratkan bahwa banyak makna dalam setiap jejak langkah manusia dalam mengarungi jalan hidupnya masing-masing. Makna yang tidak hanya berguna bagi pelakunya namun juga orang lain.


Eko “Sang Pena Lereng Lawu” Daryono

Pengajar Informatika, Penulis dan Editor Buku

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

Sabtu, 27 Februari 2021

MENULIS ITU NIKMAT

 


Pandemi tak terasa sudah hampir setahun menjelang. Makhluk mikro yang bernama virus Covid-19 telah mengubah wajah dunia. Masa depan dunia seolah makin tak menentu. Jurang resesi menganga di seluruh penjuru dunia. Dunia yang semula hiruk pikuk, mendadak sunyi. Bising suara mesin dan kepulan asap kendaraan bermotor seolah senyap. Manusia yang semula abai dengan nikmat yang bernama imun, mendadak begitu perhatian.

Cuci tangan yang jarang dilakukan mendadak menjadi trend. Begitupun kewaspadaan sosial yang meningkat dengan saling menjaga jarak. Hingga rela membatasi ruang gerak oksigen dengan memakai masker. Berbagai kebijakan pembatasan yang bernama lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM), maupun PPKM Mikro seolah memenjara ruang gerak aktivitas masyarakat.

Meski demikian, berkurangnya ruang gerak tak serta merta membatasi ruang kreativitas. Sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna, banyak aktivitas positif yang dapat dilakukan di masa pandemi. Terlebih wajah dunia memang telah berubah berkat kemajuan ilmu dan teknologi, sehingga aktivitas manusia semakin tak terbatas tempat dan waktu.

Tanpa disadari, Covid-19 telah menjelma menjadi “guru besar” yang membuka cakrawala manusia. Cakrawala tentang pemanfaatan teknologi digital dalam rangka membangun peradaban baru manusia yang lebih berkarakter. Beberapa bentuk di antaranya adalah work from home (bekerja dari rumah), learn from home (belajar dari rumah), training from home (pelatihan dari rumah) dan masih banyak yang lainnya.

Salah satu kegiatan pelatihan dari rumah adalah diklat menulis online melalui grup WhatsApp yang diselenggarakan Rumah Produktif Indonesia (RPI) Nusa Tenggara Timur ini. Saya akhirnya juga ikut terlibat dalam kegiatan diklat online tersebut sebagai penyedekah ilmu. Perkenalan saya dengan RPI tak lepas dari peran Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH. atau Bunda Lilis. Sosok guru inspiratif dari NTT. Guru cantik inspirasi dunia. Penulis buku best seller “Guru adalah Inspirasi”.

Kisah saya mengenal RPI bermula pada tanggal 20 Februari 2021 selepas waktu asar. Saya menerima pesan Bunda Lilis melalui WA yang bunyinya, “Pak Eko, minggu depan kita sedekah ilmu saget? Njenengan malam Jum’at Menulis itu Nikmat”. Spontan saya membalas, “Kelas MBI Bunda?” Maklum, selama ini saya bekerja sama dengan beliau di Kelas Menulis Buku Inspirasi (MBI). Sejak bulan Agustus 2020 saya aktif di Kelas MBI. Bunda Lilis menjawab, “Bukan. RPI (Rumah Produktif Indonesia) NTT. Mau launching buku sebagai penanda RPI ada di Kupang.” Wah… sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya diajak bersedekah ilmu.

Saya pun menyanggupi permintaan beliau untuk bersedekah ilmu seperti di kelas MBI maupun di kelas menulis online lainnya. Menjelang waktu zuhur tanggal 21 Februari 2021, Bunda Lilis memasukkan saya ke WhatsApp group RPI MENULIS BUKU BER-ISBN. Sore harinya sekira jam 16.00 WIB, saya menerima jadwal dari Bunda Lilis. Sesuai schedule, kegiatan berlangsung selama lima hari dari tanggal 22 hingga 26 Februari 2021. Saya mendapatkan jadwal hari Kamis malam tanggal 25 Februari 2021 dengan materi “Menulis Itu Nikmat”. Materi yang sudah tersampaikan dua kali pada Kelas MBI Gelombang I dan II. Meski judul temanya sama, namun secara content saya buat berbeda.

Foto 1. Jadwal Kelas Menulis Online Bersama RPI NTT

(Sumber : WA Image Bunda Lilis Tanggal 21 Februari 2021 Pukul 16.13 WIB)

Setelah menerima jadwal, saya menggali informasi lebih dalam tentang RPI dari Bunda Lilis. Tujuannya agar mengetahui secara jelas siapa audience kelas RPI, sehingga materi yang saya sajikan nantinya tepat sasaran. Saya sempatkan juga membuka keanggotaan grup, dan ternyata sebagian anggotanya berasal dari kelas MBI. Adapun peserta kelas RPI sendiri sebagian sudah membuat tulisan dengan tema Kisah Inspirasi. Kondisi itu membuat saya harus membuat style yang berbeda dalam menyajikan materi “Menulis itu Nikmat”.

Maksud hati, saya ingin mempersiapkan materi sejak dini agar content-nya berbobot. Namun, ada sesuatu tak terduga selepas subuh tanggal 23 Februari 2021. Bola mata kiri saya merah dengan urat-urat yang nampak jelas mengalami perdarahan seperti syarat pecah. Semula saya tak menyadari, hingga isteri mengingatkan bahwa bola mata kiri saya memerah. Awalnya tak terasa sakit, sehingga saya tetap ke kantor karena terpaku jadwal piket dengan absensi online. Sepulang kantor, barulah terasa sakit terlebih saat berada di depan layar komputer. Setelah konsultasi medis secara online, saya mendapatkan obat tetes mata yang alhamdulillah dapat meredam rasa sakitnya.

Rabu pagi tanggal 24 Februari 2021, Bunda Lilis berbicara langsung melalui call WA tentang teknis kegiatan pada Kamis malam. Setelah ada kesepakatan teknis, Rabu malam saya mulai melakukan persiapan. Saya mulai berselancar di dunia maya mencari informasi lebih dalam mengenai RPI secara menyeluruh. Sempat tak berhasil menemukan informasi, akhirnya Bunda Lilis memberikan alamat website rpi.or.id.

Website rpi.or.id. ternyata belum menyediakan informasi komprehensif tentang apa dan bagaimana RPI. Namun melihat content yang banyak diunggah di website RPI, saya punya keyakinan bahwa kegiatannya bersifat positif khususnya dalam membangun literasi. Selanjutnya, saya membuat flyer sesuai permintaan Bunda Lilis supaya mempersiapkannya sendiri. Meski menahan rasa sakit, saya berhasil menyelesaikan flyer yang sederhana. Flyer tersebut saya share ke Bunda Lilis jelang tengah malam.

Gambar 2. Flyer Penyaji Materi Eko Daryono

(Sumber : Dokumen Pribadi didesain dengan PosterMyWal) 

Sejak tanggal 25 Februari 2021 pagi, saya sempatkan menulis bahan materi untuk disajikan malam harinya. Rasa sakit begitu menyiksa di mata, namun saya berusaha menulis baris demi baris naskah dengan tema “Menulis itu Nikmat”. Tujuannya, agar saat berada di kelas saya tinggal copy paste sehingga mempercepat proses penyajian materi. Sambil mengetik naskah, saya sesekali melihat grup RPI. Hinggal jam 09.00 WIB tercatat 45 anggota yang telah bergabung di grup. Namun dalam waktu dua jam setelahnya, anggota grup bertambah 34 orang hingga keseluruhan menjadi 79 peserta.

Kondisi tersebut menambah motivasi untuk membagikan sesuatu yang bermanfaat bagi para peserta. Menjelang asar, materi selesai saya ketik mencakup empat sub, yakni mengapa menulis itu nikmat, mengapa menulis harus nikmat, jurus timeline serta asupan 4 sehat 5 sempurna dalam menulis.

Sub materi “Mengapa menulis itu nikmat?” berisi tentang latar belakang menulis itu nikmat. Menurut saya, ada delapan hal yang menjadikan menulis itu nikmat, yaitu:

1.   Menulis dapat melepaskan beban jiwa karena menulis seperti terapi jiwa. Menulis bahkan membantu berpikir lebih jernih melalui penyaluran emosi yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Misalnya bentuk curahan hati atau pelampiasan yang dituangkan dalam diary.

2.   Membuat orang bahagia karena dapat berbagi kebaikan dengan orang lain, misalnya berbagi pengalaman, kisah inspirasi, tips, ilmu, resep dan sebagainya.

3.   Menyampaikan ide atau gagasan, misalnya opini atau kritik. Ide atau gagasan bisa topik simpel yang ada di lingkungan sekitar atau pengalaman hidup sendiri maupun orang lain

4.   Sarana aktualisasi diri atau menunjukkan who am I (siapa diri kita sebenarnya) tanpa harus mengataknya pada orang lain. Biasanya saat kita menunjukkan aktualisasi diri dengan berbicara umumnya kita dianggap sombong. Namun, tidak dengan aktualisasi melalui tulisan.

5.   Menyalurkan bakat, minat ataupun hobi.

6.   Menunjang karier, khususnya bagi ASN atau dosen yang membutuhkan poin angka kredit dari pengembangan ilmiah

7.   Sumber pendapatan. Ingat JK Rowling? Dia adalah penulis seri novel “Harry Potter”. Bukunya telah terjual sebanyak 500 juta copy dalam 80 bahasa dan menghasilkan pendapatan sekitar 16 trilyun. Luar biasa bukan …!!!

8.   Ladang ibadah dan amal jariyah. Endingnya sebagai bekal di akhirat. Sebuah quote dari Ali bin Abi Thalib, “Semua orang akan mati kecuali karyanya maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”.

Sub materi “Mengapa Menulis itu harus dengan nikmat?” berisi tentang alasan menulis harus dilakukan dengan nikmat. Nikmat biasanya membuat orang merasa bahagia, senang, lega. Misalnya saat sedang galau atau sedih. Coba lampiaskan dengan menulis! Biasanya perasaan akan menjadi lega. Rasa lega membuat orang tenang dan terasa nikmat. Oleh karenanya, menulis dengan nikmat akan membuat kita merasa senang dan bahagia dalam menulis. Kalau perasaan senang dan bahagia, penulis akan enjoy dalam menulis.

Kenapa kita kesulitan mengawali kegiatan menulis? Bisa jadi karena kita tidak bahagia dalam menulis. Terbebani dengan aktivitas menulis. Menulis sesuatu yang sangat abstrak. Sesuatu yang belum pernah dialami, tidak diketahui, tidak dikuasai atau tidak dipahami. Bukankah beban merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan? Jika kita terpaksa dalam menulis, maka sulit untuk menghasilkan tulisan yang merdeka atau sulit melepaskan ide yang terpenjara. Misalnya, saat dikejar target dan dibatasi deadline, biasanya akan membuat perasaan penulis tertekan. Dampaknya, bukan proses menulis yang nikmat, tetapi menulis karena dituntut kewajiban.

Lantas, “Bagaimana cara nikmat dalam menulis?” Saat mulai menulis, suasana hati harus santai, rileks, senang dan bahagia. Maka, pilihlah waktu yang ideal untuk menulis dengan kondisi fisik yang fit. Lalu mulailah menerawang. Apa yang diterawang? Apa yang pernah dialami, dirasakan, dijumpai. Intinya yang mudah ditulis itu adalah yang kita tahu dan kita kuasai. Jangan menulis yang tidak kita pahami atau kita kuasai. Pasti dalam proses menulisnya akan menjumpai banyak kebuntuan.

Langkah selanjutnya, mulailah menulis. Nah, untuk tahap ini, proses awalnya memang harus dipaksa. Jangan terbawa suasana hati dan jangan hanya terpaku pada mood. Penulis yang baik bukan menunggu waktu luang, tapi meluangkan waktu untuk menulis. Apapun itu, yang penting mulailah menulis, tulis, tulis, dan tulis hingga selesai. Jangan merasa takut salah! Jangan pernah mengoreksi sambal menulis! Selesaikan saja semua tulisan hingga ide terakhir berhasil dituangkan! 

Saat menulis, abaikan aturan baku dalam menulis agar tidak mengalami deadlock. Saat menulis sambil mengoreksi, maka tulisan tidak akan pernah selesai. Penulis akan terjebak dalam lingkaran kebuntuan. Oleh karena itu, biarkan ide mengalir secara alamiah. Abaikan terlebih dahulu aspek kesempurnaan dalam setiap kalimat, agar tidak menjadi penghalang dalam merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dalam tulisan kita.

Pak Nafrizal, sahabat saya dari Sumatera Barat, pernah mengatakan, “Menulislah. Tidak usah berpikir dengan urusan titik koma dan tata bahasa.” Setelah tulisan selesai hingga tetes ide yang terakhir, barulah mencari waktu lain untuk mengoreksi. Ingat! Masih ada editor dan reviewer yang akan beraksi.

Sub materi ketiga adalah “Jurus Timeline”. Jurus ini sebagai sarana agar penulis dapat menikmati proses menulis. Timeline maksudnya garis waktu atau rangkaian kejadian yang urut berdasarkan waktu. Jurus ini biasa saya digunakan untuk melatih menuangkan ide dengan alur yang runtut dan enak dibaca. Adanya timeline membuat alur cerita mudah dipahami dan tidak meloncat-loncat, sehingga membingungkan pembaca.

Kejadian tiba-tiba yang tidak ada dalam timeline menjadi titik menariknya. Jadi, idealnya yang ditulis dalam timeline adalah kejadian yang sudah dialami. Sebab, “sesuatu yang tiba-tiba” itu hanya muncul saat kejadian berlangsung. Modal utama timeline adalah memori jangka pendek dan jangka panjang atau ingatan. Mengapa demikia? Karena hanya berbekal ingatan, seorang penulis dapat mengingat kembali secara detail apa yang dialaminya sehingga dapat menuangkan dalam kisah secara kronologis.

Contoh Timeline

Pukul 04.30 Bangun Tidur

Bagaimana suasana di rumah dan sekeliling rumah saat bangun tidur?

Apa saja aktivitas yang dilakukan setelah bangun tidur?

Adakah kejadian menarik selama menjalankan aktivitas tersebut?

Pukul 06.00 Berangkat ke Kantor

Berangkat naik apa?

Bagaimana kondisi jalan yang dilalui?

Kejadian apa saya yang dilihat atau dirasakan selama perjalanan?

Pukul 07.00  Sudah beraktivitas di Kantor

Apa saja kegiatan yang dilaksanakan selama di kantor?

Bagaimana suasana kerja di kantor?

Bagaimana kondisi fisik kita saat melaksanakan aktivitas kantor sejak masuk hingga selesai

Adakah hal-hal menarik yang terjadi selama melaksanakan kegiatan di kantor?

Pukul 13.30 Pulang Kantor

Bagaimana kondisi lingkungan sekitar saat pulang kantor?

Adakah hal menarik yang dijumpai selama pulang kantor? 

Narasi dari timeline tersebut, yakni : bangun tidur jam berapa, bagaimana keadaan sekitar saat bangun tidur, setelah bangun tidur apa yang pertama kali dikerjakan, kemudian apa lagi … hingga waktu berangkat ke kantor. Kejadian apa yang dialami dan seterusnya.

Melalui rangkaian aktivitas dalam timeline maka ide penulis dapat mengalir secara logis dan kronologis. Timeline kejadian pada hari tertentu bisa dapat dijadikan sebagai latihan menemukan, mengalirkan dan menuangkan ide. Setelah timeline harian, barulah kita berproses para peristiwa yang lebih besar. Misalnya, proses hingga berhasil menulis buku.

Timeline juga dapat dipergunakan untuk mengatasi kondisi deadlock saat menulis. Saat deadlock, cobalah mengingat detik demi detik aktivitas yang telah dilalui. Oleh karena itu, ingatan kejadian yang dialami harus benar-benar dikuak secara detail sehingga menghasilkan kisah yang runtut. Potongan-potongan puzzle peristiwa harus dirangkai secara cermat dan kronologis (berturutan)

Sub materi terakhir adalah ‘Asupan Menulis: 4 Sehat 5 Sempurna”. Agar semakin nikmat dalam menulis, maka dibutuhkan asupan menulis yaitu 4 Sehat 5 Sempurna dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama : Sehat Penglihatan

Seorang penulis harus sehat penglihatan lahiriah dan batiniahnya. Maksud sehat penglihatan lahiriah yaitu jeli dalam melihat sesuatu dari sudut pandang dirinya dan orang lain secara obyektif. Pandai mengambil sudut pandang penulisan secara seimbang. Maksud sehat penglihatan batiniah yaitu menggunakan mata batin untuk membantu proses pendalaman penglihatan lahiriah.

Kedua : Sehat Pendengaran

Seorang penulis harus mendengarkan hal-hal yang sudah pasti kebenarannya. Penulis sejati hanya akan menulis apa yang didengarnya setelah melalui klarifikasi, sekalipun itu didengar dari narasumbernya langsung. Penulis sejati tidak pernah menulis apa yang hanya didengarnya seklias sebelum mengklarifikasi dan memvalidasi terlebih dahulu. Sebab jika tidak berhati-hati justru hanya menghasilkan tulisan yang bersifat hoax.

Ketiga : Sehat pikiran

Maksudnya tidak hanya sebatas sehat akal, namun seorang penulis harus selalu berpikir positif. Menyikapi sesuatu dengan selalu mengedepankan praduga tak bersalah dan selalu berbaik sangka. Berpikiran luas dalam menangkap sebuah fenomena. Menilai kelogisan sebuah peristiwa untuk dituliskan.

Keempat : Sehat Perasaan

Maksudnya seorang penulis tidak mudah terbawa emosi atau baper agar isi tulisannya tidak mengedepankan aspek emosi yang kadang tidak terkontrol. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menyentuh emosi pembaca. Bukan tulisan yang berisi luapan emosional penulisnya. Oleh karena itu, ritme perasaan saat menulis harus dikelola dengan baik.

Kelima : Sempurna didasari dengan HATI

Penglihatan, pendengaran, pikiran dan perasaan akan menjadi optimal saat semuanya dilandasi dengan HATI. Libatkan hati yang terdalam. Menulis benar-benar dari dalam hati. Menulislah dengan sepenuh hati. Tulisan yang keluar dari hati, akan sampai ke hati pembacanya.

Materi tersebut akhirnya saya sajikan di Kelas Menulis RPI NTT pada Kamis malam 25 Februari 2021. Tak seperti narasumber lainnya, respon peserta sebelum acara dimulai terkesan dingin. Mirip dinginnya udara Lereng Lawu yang saya rasakan karena bersamaan dengan hujan lebat. Ha…ha…ha… Saya juga tidak mengetahui siapa yang menjadi moderator kelas. Saya sempat pesimis, hingga akhirnya Bunda Lilis japri menjelang magrib, “Pak Eko menawi sampun kula di WA njih” (Pak Eko kalau sudah siap saya di WA ya).

Selepas magrib saya pun tancap gas menyajikan materi yang sudah siap di komputer. Mendadak, motivasi tiba-tiba berlipat, karena Bunda Lilis yang menemani saya menyajikan materi. Mengingat anggota grup sebagian dari kelas MBI serta anggota RPI yang sudah menghasilkan tulisan, maka saya tidak berbicara sebagai penulis, namun sebagai editor dan reviewer buku. Kenapa demikian? Karena dari situlah saya menemukan nikmatnya membaca tulisan dan seolah merasakan proses menulis dari para penulisnya.

Saat mengedit buku, tak jarang saya temukan tulisan yang dipaksakan. Efeknya, saat dibaca terasa hambar dan tidak nikmat. Tidak sampai ke hati, karena menulisnya tidak sepenuh hati. Produk tulisan jangan dipaksakan. Jangan menulis apa yang tidak diketahui, tidak dikuasai, dan tidak dipahami. Jika dipaksakan, hasilnya pasti terasa oleh pembaca yang jeli. Maka dari itu, saya pun sharing materi menulis itu nikmat seperti tertulis sebelumnya.

Saat menyajikan materi, saya sisipkan “Teori 10.000” Jam dari Malcolm Gladwell yang bunyinya: “Seseorang akan menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu yang diinginkan setelah dia melakukan atau mempelajarinya dalam waktu 10.000 jam”. Lepas dari benar tidaknya, teori tersebut memberikan pesan mendalam. Pesannya bahwa “keberhasilan merupakan buah ketekunan dan kerja keras. Keberhasilan bukan sesuai yang instan, datang secara mendadak atau kebetulan. Namun berproses dan melalui perjuangan.” Orang-orang yang sudah memiliki bakat bawaan pun, akan menonjol bakatnya setelah diasah dengan tekun.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 20.30 WIB tersebut memang terkesan berarus datar. Maklumlah, selain pesertanya sudah menghasilkan tulisan atau bahkan buku, kegiatan ini sifatnya hanya berbagi pengalaman. Maka sedari awal saya menegaskan bahwa ingin berguru dari anggota grup RPI. Grup Rumah Produktif Indonesia yang tentunya menghasilkan produk beraneka ragam khususnya tulisan khususnya.

Pada akhir penyajian, saya tutup dengan quote yang menjadi niche (ciri khas). Sebagai penulis, saya punya niche sebutan “Sang Pena Lereng Lawu” dan niche berupa quote “Menulis itu olah kata dengan rasa, karena menulis seperti berbicara dan teman bicaranya adalah HATI”. Terima kasih Bunda Lilis, rekan-rekan pengurus dan anggota RPI serta peserta Kelas Menulis RPI atas ruang berbagi yang disediakan untuk saya. Saya punya keyakinan bahwa RPI tidak hanya menjadi Rumah Produksi Indonesia, namun juga menjadi Ruang Penulis Inspiratif. Ruang yang insyaallah akan menghasilkan para penulis, editor, reviewer, motivator dan mentor buku yang hebat.

Setelah acara ditutup, respon dari para peserta ternyata sangat meriah. Saya sempat berpikir, “Saat acara belangsung adem ayem. Setelah acara sangat semarak. Apa penyajian saya tadi membingungkan, ya???” Ah…sudahlah…semua sudah berlalu. Ada kejutan pantun saya dapatkan dari Pak Y. Joni Liwu, S.Pd., seorang tenaga pendidik sekaligus penulis tenar yang aktif menulis di Radar NTT.

Kemarau panjang di bulan Juni,

Rumput kering di tanah Savana.

Sungguh beruntung di malam ini,

Raup ilmu 4 sehat 4 sempurna.

Kejutan tak terhenti selepas kegiatan saja. Keseokan paginya menjelang subuh, dapat kejutan lagi. Kali ini pantun dari Ibu Ni Ketut Suastiwi, S.Pd.AUD. Sosok ibu guru TK Negeri Desa Tusan Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali. Sosok yang multitalent, menyandang banyak prestasi, cakap dalam menulis, membuat pantun berikut.

Belanja barang kita ke toko

Mampir ke pasar beli seledri

Belajar Menulis bareng Pak Eko

Jiwa sehat karya terpatri.

Sungguh apresiasi yang luar biasa bagi saya, yang juga masih harus banyak belajar dalam bidang tulis menulis. Terima kasih atas semua apresiasi yang diberikan. Semoga apa yang telah saya bagikan dapat membantu kemajuan literasi nusantara.

Sebagai bagian dari inspirasi di masa pandemi, saya sisipkan puisi berikut ini. 

SAJAK CORONA 

 

Saat engkau hadir ….

Keramaian menjelma menjadi kesunyian

Hiruk pikuk dunia seolah senyap

Suara bising mesin seolah bungkam

Kepulan asap di jalanan seolah sirna

 

Saat logika belum genap berpikir

Nada sendu terlantun dalam kesunyian

Deru ambulan menggema meski sekejap

Lampu sirine menjadi penghias menuju makam

Tangisan menjadi musik pengiringnya

 

Teriakan tanah pemakaman keras terdengar

Tak kuasa menahan beban

Lambaian pencakar langit meminta belas kasihan

Tak kuasa menahan kesunyian

Detak urat nadi ekonomi lemah lunglai mati suri

Tak kuasa menahan resesi

 

 Saat engkau hadir ….

Yang dekat tak kuasa menyekat

Yang bersahabat tak kuasa mendekat

Yang kuat tak kuasa menggeliat

Yang hebat tak kuasa berbuat

 

Hanya terbayang takdir

Yang sehat bersandar iman dan imun kuat

Yang dirawat memandang yang berhazmat

Yang pergi berharap dilepas dengan hormat

Yang tinggal meratap penuh khidmat

 

Engkau runtuhkan tembok kesombongan

Engkau padamkan api keegoisan

Engkau sibakkan tabir kelemahan

Engkau tunjukkan jalan kebenaran

Engkau pahamkan hakikat makna kehidupan

Engkau kembalikan jati diri sebagai insan

  

27 Februari 2021

Sang Pena Lereng Lawu

Rabu, 03 Februari 2021

Menulis dari NOL

Menulis dari NOL

 

MENJADI PENULIS DARI NOL

N – IAT

Melakukan sesuatu kegiatan tanpa ada niat maka pelakunya tidak akan memiliki semangat. Dia akan dihinggapi rasa enggan, malas dan bahkan tidak mau untuk melakukan termasuk aktivitas menulis. Seseorang yang tidak ada niat untuk menulis maka dia tidak akan menulis, bahkan memulainya pun tidak.

O – RIENTASI

Melakukan aktivitas apapun harus bertujuan, tak terkecuali menulis. Tanpa tujuan yang jelas maka kegiatan tidak akan memiliki arah, dan jika tak berarah maka akan membuang waktu dan energi. Saat kita memutuskan untuk menulis, harus jelas orientasinya. Misal tujuan kita menulis untuk mendapatkan poin kenaikan pangkat, maka kita harus menulis karya ilmiah.

L – ITERASI

LI-HAT. Literasi umumnya diidentikkan dengan membaca. Agar dapat membaca dengan baik maka harus melihat apa yang dibaca. Bacaan tidak harus berupa buku. Apa saja yang kita lihat itulah bahan bacaan, misalnya kejadian langsung yang kita lihat, berita di televise, berita di media digital, dan sebagainya

TE-LAAH. Setelah kita lihat maka perlu kita telaah dari berbagai sudut pandang agar kita mendapat keleluasaan dalam mengembangkan ide. Seseorang bisa menelaah terjadinya bencana banjir, misalnya dari sudut pandang perilaku manusi, memang karena faktor alam, atau dari aspek religious sebagai peringatan dari Sang Pencipta.

RA-SAKAN. Setelah ditelaah, akan banyak cabang ide yang dapat dijadikan bahan tulisan. Namun jika kita ikuti semua cabang, yakinlah justru tulisan tidak akan pernah selesai. Untuk itu dalam memilih ide perlu dirasakan kira-kira mana yang akan dikembangkan. Usahakan pada tahap awal untuk merasakan hal yang paling menarik bagi kita untuk menuliskannya. Jika sudah berproses menjadi mahir, dapat keluar dari zona nyaman dengan ide-ide yang menantang dan up to date.

Selasa, 02 Februari 2021

Kata Pengantar untuk Sang Profesor #2

Kata Pengantar untuk Sang Profesor #2

 

KATA PENGANTAR

Sebuah pepatah Arab menyatakan Jarib wa laahidzhtakun a’arifan (Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu). Terkadang dalam mempelajari sesuatu, orang terlalu banyak berfikir. Akibatnya, selain terpenjara oleh hal-hal teoretis, juga menjadikan seseorang kehilangan arah bertindak serta menghabiskan energi yang tidak perlu.

Mindset banyak berpikir sudah saatnya dirubah menjadi mindset mencoba dan memperhatikan. Mengapa? Karena dari aktivitas mencoba dan memperhatikan maka apa yang kita ketahui lebih implementatif, tidak sekedar teoritis. Aktivitas mencoba dan memperhatikan pun harus dilaksanakan sepenuh hati.

Saat sesuatu dilaksanakan sepenuh hati, maka akan membawa nikmat dalam hati. Bahkan mampu meresapkan makna mengantarkan jiwa menggapai tujuan yang hakiki. Pada akhirnya dapat melahirkan pribadi yang mempunyai banyak inspirasi. Sebab, sejatinya inspirasi tidak hanya sekedar teori tetapi tindakan nyata.

Inspirasi dapat berasal dari mana saja, di mana saja, kapan saja dan dari segala aktivitas apa saja yang dijalani. Ia hadir dan meresap di setiap lorong waktu, mengisi setiap celah relung jiwa, bergerak dinamis melalui aliran sungai logika, dan memenuhi luasnya samudera hati.

Bagi seorang guru, inspirasi merupakan hal yang sangat penting dimiliki. Iskandar Agung, seorang Raja Makedonia yang hidup pada 356-323 SM pernah berkata, "Apakah guru itu? Kukatakan padamu: guru bukanlah seseorang yang mengajari sesuatu, tapi seseorang yang menghilhami murid agar membangkitkan yang terbaik dari dalam dirinya untuk menemukan apa yang telah ia ketahui." Perkataan tersebut menyiratkan bahwa seorang guru tidak cukup hanya mengajar, namun mampu menginspirasi peserta didiknya.

Guna mewadahi inspirasi para guru, brand kecantikan Wardah menyelenggarakan Program Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Sebuah program yang bertujuan memberikan apresiasi kepada para guru inspiratif hasil rekomendasi dari siswa maupun masyarakat umum. Bentuk apresiasi yang diberikan berupa pelatihan dengan narasumber para pakar pendidikan.

Harapan dari Program WIT adalah meningkatkan kapabilitas para guru, termasuk 15 penulis dalam buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri (Antologi Kisah WIT 2020 dalam KELAS WAG MBI Bersama Bunda Lilis Sutikno)”. Para penulis buku ini adalah peserta WIT Tahun 2020 yang berhasil lolos seleksi dan telah menjalani beberapa tahap pelatihan.

Membaca isi buku secara keseluruhan menyiratkan bahwa para penulisnya adalah sosok guru inspiratif, sehingga layak dijadikan inspirasi. Mereka adalah guru yang jeli menyikapi keadaan dan tak henti untuk terus belajar dan mengupdgrade diri. Belajar dengan melihat (learning by seeing), belajar dengan mendengar (learning by hearing) dan belajar dengan mencoba (learning by trying). Selanjutnya mereka memaknai dan mengimplementasikan apa saja yang sudah diperoleh guna mendukung tugas profesinya.

Menyimak perjuangan dan berbagai inspirasi yang telah mereka ciptakan menunjukkan bahwa, para penulis benar-benar menjadikan pengalaman sebagai guru yang berharga. Mereka adalah sosok yang jeli mengelola pengalaman dengan bijak, sehingga menjadikannya dirinya pribadi yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan kualitas yang mumpuni.

Pribadi yang selalu mengupgrade diri dilandasi keterbukaan hati dalam menimba pengetahuan dan pengalaman dari berbagai sumber. Pribadi yang memiliki kualitas diri, yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, namun juga orang lain dan lingkungannya terkhusus di tempat mereka mengajar.

Tulisan dalam buku ini layak dijadikan sumber inspirasi serta pembuka cakrawala akan hakikat tugas seorang guru. Guru adalah sosok yang multi tasking. Tugasnya tidak hanya mengajar atau berkutat dengan masalah sekolah. Guru mampu memposisikan dirinya sebagai sosok yang berguna baik di dalam maupun di luar sekolah. Mampu menjalankan tugas-tugas kependidikan maupun non kependidikan. Nyata dalam kerja dan inspiratif dalam setiap tindakannya.

Buku ini menjadi awal dimulainya proses belajar dengan menulis (learning by writing). Oleh karenanya, saya berharap akan lahir buku-buku selanjutnya yang mampu menunjukkan jati diri seorang guru sebagai sosok yang inspiratif, menjadi idola dan berintegritas. Guru yang benar-benar mampu mengejawantahkan konsep Ki Hajar Dewantara, ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha,  Ing Madra Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Akhirnya saya ucapkan selamat kepada Dra. Ika Lilis Herpianti Sutikno, SH., bersama rekan-rekan peserta WIT 2020 yang telah berhasil menerbitkan buku inspiratif ini. Teruslah berjuang memajukan bangsa dengan karya-karya hebat lainnya. Teruslah menginspirasi karena guru yang hebat adalah guru yang inspiratif.

Minggu, 24 Januari 2021

Berbagi Endorsment #1

Berbagi Endorsment #1

Endors Buku "Hidup untuk Berkarya"

Penulis : Sahat Serasi Naibaho, S.Si.,Gr.


Hidup adalah perjalanan sang jiwa raga menyusuri kehidupan demi menggapai mutiara keabadian. Sepanjang jalan terhampar ladang pengabdian yang disebut dengan karya. Karya yang senantiasa tertoreh di setiap langkah perjalanan hidup dan akan menjadi maghligai bagi pemilik karya. 

Buku “Hidup Untuk Berkaya” menyiratkan pesan bahwa hidup akan penuh dengan makna dan bertabur mutiara keabadian jika dihiasi dengan karya. Apa yang dilakukan sang jiwa raga dalam berkarya? Semua dapat ditemukan dalam setiap bab dalam buku ini. Buku ini memberikan motivasi untuk terus berkarya dan berkarya, hingga akhirnya kembali pada keabadian dengan meninggalkan karya yang dikenang sepanjang masa.

Eko “Sang Pena Lereng Lawu” Daryono

Penulis Buku, Editor 

Karanganyar,k Jawa Tengah

Minggu, 03 Januari 2021

Kata Sambutan untuk Sang Professor #1

Kata Sambutan untuk Sang Professor #1

 

KATA SAMBUTAN

 

Jika “Rumahku adalah Surgaku”, maka tak salah jika “Sekolahku adalah Ladang Surgaku”. Mengapa? Bagi seorang pendidik, sekolah merupakan tempat mengabdi, membelajarkan ilmu kepada peserta didik, mengajarkan keterampilan kecakapan hidup (life skills), serta menanamkan karakter kepribadian. Tujuannya agar peserta didik menjadi insan yang tidak hanya cerdas secara intelektualitas, namun juga cerdas emosional, spiritual dan karakterya, sehingga menjadi pribadi yang siap berperan serta demi kemajuan bangsa dan negaranya.

Sekolah juga menjadi tempat bagi tenaga pendidik untuk meng-upgrade dirinya, sehingga memiliki kompetensi yang mumpuni secara pedagogis, profesional, pribadi, dan sosial. Kompetensi yang tidak saja berguna bagi diri pribadi, namun juga bagi lingkungan di dalam dan di luar sekolah secara integral. Tak heran kiranya jika seorang pendidik disebut dengan guru, sosok yang digugu dan ditiru. Sosok yang dipegang teguh ucapannya dan diteladani tindakannya.

Dalam menjalankan tugas profesinya di sekolah, pendidik tentu dihadapkan pada berbagai macam dinamika, baik yang berhubungan dengan manajemen kerja, lingkungan kerja, rekan kerja maupun peserta didik. Dinamika yang unik, menarik sesuai dengan latar belakang demografi serta sosial budaya tempat di mana ia mengabdikan dirinya. Dinamika yang semakin mendewasakan jiwa maupun karakter sebagai pendidik.

Dinamika yang akhirnya dikisahkan dalam buku berjudul “Sekolahku Rumah Pengabdianku”. Buku yang lahir dari Kelas Menulis Buku Inspirasi bersama Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. ini sungguh menarik. Sebelas penulis yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, baik dari daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) maupun daerah perkotaan, mampu menampilkan dinamika kisah yang penuh warna. Kisah yang tidak hanya menarik dibaca, namun menginspirasi para pembaca tentang makna sebuah pengabdian.

Apresiasi luar biasa patut diberi kepada sebelas penulis dalam buku ini. Pada situasi pandemi yang penuh tantangan, mampu menyempatkan diri untuk terus berkarya dengan menulis bersama. Tak mudah tentunya membangun kolaborasi dan menyatukan ide demi lahirnya buku ini. Namun berkat dorongan untuk terus mengabdi demi mengukir prestasi dan melanggengkan jati diri demi kemajuan negeri, semuanya bisa terwujud.

Buku “Sekolahku Rumah Pengabdianku” merupakan  karya yang unik dan istimewa, karena: 1) para penulisnya berasal dari wilayah dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda, 2) beragamnya dinamika kehidupan sekolah yang dihadapi para penulis, 3) semangat pengabdian dalam mengalahkan segala keterbatasan, dan 4) beragamnya cara membangun optimisme demi kemajuan pendidikan di negeri tercinta ini. Oleh karena itu, jika membaca buku ini akan lebih memahami bahwa tugas mendidik terkadang dihadapkan para berbagai keterbatasan. Namun dengan semangat pengabdian tanpa batas maka semua keterbatasan tersebut dapat terlewati.

Mengutip pendapat dari William Arthur Ward bahwa “Guru biasa hanya bisa menceritakan, guru yang baik mampu menjelaskan, guru yang unggul mampu menunjukkan, dan guru yang hebat bisa memberikan inspirasi”. Saya ucapkan selamat kepada sebelas penulis buku ini karena telah menjelma menjadi guru yang hebat, karena mampu memberikan inspirasi melalui karya bersama ini.

Saya berharap mudah-mudahan buku ini dapat menjadi role model bagi guru dan tenaga pendidik lainnya di seluruh nusantara untuk terus berkarya di tengah berbagai situasi dan kondisi. Selain itu dapat memberikan nilai tambah dalam memperkenalkan berbagai kultur sekolah yang ada di negeri tercinta ini. Sekolah merupakan padepokan sekaligus kawah candradimuka yang melahirkan generas-generasi emas penerus estafet perjuangan bangsa. Maka, teruslah ikhlas mengabdi dengan segenap hati demi meretas pendidikan yang berkualitas.