Jumat, 12 Maret 2021

Berbagi Endorsment #4

Berbagi Endorsment #4

Judul Buku : Memberi Inpirasi Untuk Negeri

Antologi Wardah Inspiring Teacher 2021 


Endorsement

Menikmati lembar demi lembar kisah dalam buku “Memberi Inpirasi Untuk Negeri” mampu membimbing pembaca untuk menemukan hakikat bagaimana seharusnya menjadi seorang guru. Guru yang care, open minded , be a role models, adaptable, yang mampu menjawab semua tantangan zaman.  Semua kisah yang tersaji seolah menjadi aktualisasi konsep merdeka belajar, yakni kemerdekaan berpikir yang dimulai dari dalam diri guru. Kemerdekaan yang memberikan keleluasaan guru untuk mendidik sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik.  

Semua terlukis melalui pengalaman yang dibagikan para penulis dalam buku ini. Pengalaman nyata yang berharga dan penuh bermakna. Pengalaman yang inspiratif, unik serta mengandung nilai-nilai positif yang patut diteladani. Buku ini sekaligus menjadi miniatur best practice yang ilmiah sifatnya, namun disajikan dalam bentuk karya nonfiksi bergaya kekinian. Penyajiannya yang ringan namun penuh makna, membuat buku ini layak dibaca oleh pecinta literasi di manapun berada. Selamat berliterasi dan temukan hakikat merdeka belajar dalam kehidupan nyata melalui kisah dalam buku ini!

Minhajul Ngabidin, S.Pd, M.Si
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Daerah Istimewa Yogyakarta

 

 

Endorsement

Menyimak lembar pertama buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri” sudah tercemin spirit para penulisnya dalam memberikan inspirasi kepada para pembaca. Tak salah menduga, buku yang ditulis  oleh para alumnus WIT 2020 ini memang “menakjubkan” contentnya. Para penulis yang semuanya berprofesi sebagai guru yang cerdas dan inspiratif, yang mampu menyajikan pengalamannya dalam praktik mengajar dan mendidik yang baik, secara detail, lugas dan cerdas.

Kebhinekaan latar belakang para penulis, memberikan nilai tambah yang membuat kisah dalam buku ini sayang dilewatkan begitu saja. Didukung dengan sudut pandang penyajian yang bervariasi membuat buku ini sangat istimewa dan enak dinikmati.

Lembaran kisah yang luar biasa dalam karya ini juga layak dibaca.  Tidak saja sebagai bahan literasi namun sumber inspirasi tentang bagaimana kiprah guru dalam melaksanakan tugasnya secara kreatif dan inovatif. Salut atas terbitnya buku yang istimewa ini. Ayo pembaca, segera berliterasi dengan buku ini! Banyak nilai positif yang akan Anda peroleh setelah berkontemplasi dengan isi buku ini. Salam literasi.

 

Prof. Pujiati, M.Soc. Sc., Ph.D.

Guru Besar Ilmu Telaah Pranata Sosial Masyarakat Arab

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara

Medan


 

Endorsement

Mencermati sinopsis pada cover belakang buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri” tersirat akan kebermanfaatan buku ini. Kisah dalam buku ini merupakan pengalaman nyata dari para penulisnya dalam belajar, menggali potensi diri sekaligus melakukan karya nyata demi kemajuan bangsa. Pengalaman baik para penulisnya sebagai seorang guru mampu menggugah semangat untuk turut serta memberikan inspirasi kepada para anak bangsa, khususnya di masa pandemi Covid-19. Pandemi yang ternyata menjadi pembuka tabir inspirasi sebagai jalan mengatasi berbagai keterbatasan dalam aktivitas pembelajaran.

Saat mulai membaca isi buku sejak lembar pertama, seolah mata tak berkedip, samudera logika penuh dengan inspirasi dan relung jiwa seolah dialiri sejuta percikan makna. Kisah yang disajikan mampu menyihir siapapun yang membacanya, sekaligus mengantarkan para pembaca memperoleh mutiara inspirasi. Selamat membaca!

 

Eko Daryono, S.Kom.

Tenaga Pendidik SMP Negeri 3 Mojolaban, Penulis, Editor

Karanganyar, Jawa Tengah

Senin, 08 Maret 2021

Berbagi Endorsment #3

Berbagi Endorsment #3

 

“HADIAH UNTUK BUNDAKU”

Jilid 2

 Antologi Persembahan Khusus Buat IBU,

Bersama “KELAS WAG MBI” Bunda Lilis Sutikno


Perjuangan dan pengorbanan seorang ibu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berkat ibulah mentari pagi selalu tersenyum karena setiap hari berganti terlahir generasi dari kandungan sang ibu. Sosok yang penuh kasih yang tidak saja mengandung, namun merawat, melindungi, mendidik agar kita siap mengarungi bahtera kehidupan. Semua itu tercermin dalam kisah yang dibagikan para penulis tentang ibundanya pada buku “Hadiah untuk Bundaku Jilid 2” ini. Banyak nilai yang bisa dipetik setelah membaca buku ini terutama tentang nilai kejuangan, pengorbanan dan keluhuran budi seorang ibu. Buku ini layak dibaca agar setiap orang dapat lebih menghargai peran dan kedudukan seorang ibu, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Eko Daryono

Guru SMP Negeri 3 Mojolaban Sukoharjo, Editor, dan Penulis buku

Karanganyar Jawa Tengah



Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

 KATA SAMBUTAN


Assalamu’alaikum wr, wb.

Manusia merupakah makhluk sempurna, karena dibekali dengan cipta, rasa dan karsa. Dimilikinya tridaya tersebut menjadikan manusia sebagai insan yang inspiratif, termasuk sosok guru. Sesuai konsep Ki Hajar Dewantara, guru memikul tanggung jawab yang besar tidak hanya secara keilmian, namun juga secara moral dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh sebab itu, guru sebagai tenaga profesional tidak cukup hanya menguasai materi yang diajarkan. Namun, dituntut memahami kondisi peserta didik yang dihadapinya.

 

Diperlukan guru inspiratif, yang mampu mendidik, memberi teladan, memahami kondisi psikologis, serta mampu memotivasi peserta didik agar lebih maju. Clay P. Bedford menyatakan “You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.” Sebuah konsep yang menunjukkan betapa vitalnya peran guru inspiratif. Guru yang mampu menciptakan rasa ingin tahu peserta didik agar dapat melanjutkan pembelajaran secara mandiri sepanjang hayatnya.

 

Keberadaan sosok guru inspiratif relevan dengan tuntutan pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya terkait dengan konsep merdeka belajar. Hakikat merdeka belajar bahwa guru mendapat keleluasaan dalam mendesain pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, namun memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berinovasi, belajar mandiri dan kreatif. Konsep merdeka belajar tersebut menyiratkan betapa guru berada pada posisi sebagai inspirator dalam membangun inovasi, kemandirian dan pengembangan kreativitas peserta didik. Muara dari konsep tersebut adalah menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat.

 

Agar menjadi sosok inspiratif, guru seyogyanya berpegang teguh pada prinsip care, share, dan trust. Care, yakni memberi perhatian atas perbedaan latar belakang peserta didik, baik perbedaan fisik, intelektual, maupun sosio-emosional. Guru harus merangkul, memberi semangat, dan memotivasi peserta didik. Share, yakni mampu berbagi ilmu sesuai kompetensinya melalui proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menantang. Guru dituntut mampu merancang metode dan strategi pembelajaran yang menarik dengan dukungan media yang tersedia. Trust, yakni menjadi sosok yang digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani) serta mampu menanamkan karakter yang baik bagi peserta didik.

 

Guna menampilkan sosok-sosok guru inspiratif dari seluruh penjuru nusantara, maka Wardah menyelenggarakan ajang Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Ajang kompetisi bagi para guru untuk menunjukkan kemampuannya dalam menginspirasi lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Selain perlombaan, melalui ajang tersebut para guru mendapatkan pelatihan guna lebih meningkatkan kompetensinya sebagai guru yang inspiratif. Guru yang menjadi ujung tombak pelaksanaan merdeka belajar. Guru pembelajar yang peduli dengan peran dan tanggung jawabnya.

 

Salah satu bentuk inspirasi dari guru yang menjadi peserta WIT 2020 adalah lahirnya buku ini. Buku yang ditulis oleh Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH., seorang guru inspiratif dari NTT, bersama sepuluh penulis alumni WIT 2020 ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi para guru di seantero nusantara. Kesebelas penulis tersebut seolah menjadi pengejawantahan Dewi Sartika era milenial, karena semangatnya dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas melalui berbagai inovasi yang dilakukannya.

 

Semua terlukis jelas melalui lembar demi lembar kisah dalam buku ini. Mencermati keseluruhan kisah diperoleh nilai inspirasi dalam mengupdrage diri, membangun karakter, menebarkan kepedulian, mengembangkan kompetensi dengan penuh keterbukaan, serta menjalankan profesinya secara totalitas meski dalam suasana pandemi. Pantaslah mereka layak dinobatkan sebagai guru inspiratif.

 

Kisah sebelas penulis dalam buku ini identik dengan kata mutiara Brad Henry, bahwa "Seorang guru yang baik dapat mengilhami harapan, menyalakan imajinasi, dan menanamkan cinta belajar". Harapan dari buku ini tentunya tidak hanya sekedar menjadi bahan bacaan, namun mampu mengilhami para pembacanya tentang hakikat seorang guru inspiratif. Guru yang tak henti berinovasi, tak lelah menjalani profesi, totalitas dalam mengabdi, patut diteladani, pantang menyerah meski di masa pandemi, serta terus mengembangkan kapasitas diri.

 

Setelah buku ini, saya berharap akan lahir karya-karya berikutnya dari para peserta WIT 2020 khususnya maupun para guru umumnya. Karya yang dapat dijadikan sebagai bukti sejarah bahwa jiwa guru adalah jiwa petarung. Mampu menjawab semua tantangan, pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan serta mampu merubah hambatan menjadi peluang.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada Dra. Ika Lilis Herpianti Sutikno, SH., atas terbitnya buku inspiratif ini. Semoga selalu istiqomah dalam mengabdi dan berkarya demi majunya pendidikan di negeri ini.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Selasa, 02 Maret 2021

Berbagi Endorsment #2

Berbagi Endorsment #2

 Endors Buku "Panggil Aku Kak NUS"

Karya : Kak Nus


Setiap waktu berlalu, selalu menggoreskan kisah dalam kenangan. Tak sedikit kenangan yang hanya terkubur di dasar samudera logika hingga hilang tak berbekas, namun ada kisah yang tertanam di relung jiwa hingga terkenang sepanjang hayat. Buku ini menggambarkan betapa kenangan demi kenangan sebagai hadiah dari berlalunya waktu ternyata mengandung makna mendalam. Makna yang jika direfleksi dapat menjadi permata sebagai bekal dalam mengarungi perjalanan di masa depan dengan lebih baik lagi. Buku ini pula menyiratkan bahwa banyak makna dalam setiap jejak langkah manusia dalam mengarungi jalan hidupnya masing-masing. Makna yang tidak hanya berguna bagi pelakunya namun juga orang lain.


Eko “Sang Pena Lereng Lawu” Daryono

Pengajar Informatika, Penulis dan Editor Buku

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

Selasa, 02 Februari 2021

Kata Pengantar untuk Sang Profesor #2

Kata Pengantar untuk Sang Profesor #2

 

KATA PENGANTAR

Sebuah pepatah Arab menyatakan Jarib wa laahidzhtakun a’arifan (Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu). Terkadang dalam mempelajari sesuatu, orang terlalu banyak berfikir. Akibatnya, selain terpenjara oleh hal-hal teoretis, juga menjadikan seseorang kehilangan arah bertindak serta menghabiskan energi yang tidak perlu.

Mindset banyak berpikir sudah saatnya dirubah menjadi mindset mencoba dan memperhatikan. Mengapa? Karena dari aktivitas mencoba dan memperhatikan maka apa yang kita ketahui lebih implementatif, tidak sekedar teoritis. Aktivitas mencoba dan memperhatikan pun harus dilaksanakan sepenuh hati.

Saat sesuatu dilaksanakan sepenuh hati, maka akan membawa nikmat dalam hati. Bahkan mampu meresapkan makna mengantarkan jiwa menggapai tujuan yang hakiki. Pada akhirnya dapat melahirkan pribadi yang mempunyai banyak inspirasi. Sebab, sejatinya inspirasi tidak hanya sekedar teori tetapi tindakan nyata.

Inspirasi dapat berasal dari mana saja, di mana saja, kapan saja dan dari segala aktivitas apa saja yang dijalani. Ia hadir dan meresap di setiap lorong waktu, mengisi setiap celah relung jiwa, bergerak dinamis melalui aliran sungai logika, dan memenuhi luasnya samudera hati.

Bagi seorang guru, inspirasi merupakan hal yang sangat penting dimiliki. Iskandar Agung, seorang Raja Makedonia yang hidup pada 356-323 SM pernah berkata, "Apakah guru itu? Kukatakan padamu: guru bukanlah seseorang yang mengajari sesuatu, tapi seseorang yang menghilhami murid agar membangkitkan yang terbaik dari dalam dirinya untuk menemukan apa yang telah ia ketahui." Perkataan tersebut menyiratkan bahwa seorang guru tidak cukup hanya mengajar, namun mampu menginspirasi peserta didiknya.

Guna mewadahi inspirasi para guru, brand kecantikan Wardah menyelenggarakan Program Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Sebuah program yang bertujuan memberikan apresiasi kepada para guru inspiratif hasil rekomendasi dari siswa maupun masyarakat umum. Bentuk apresiasi yang diberikan berupa pelatihan dengan narasumber para pakar pendidikan.

Harapan dari Program WIT adalah meningkatkan kapabilitas para guru, termasuk 15 penulis dalam buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri (Antologi Kisah WIT 2020 dalam KELAS WAG MBI Bersama Bunda Lilis Sutikno)”. Para penulis buku ini adalah peserta WIT Tahun 2020 yang berhasil lolos seleksi dan telah menjalani beberapa tahap pelatihan.

Membaca isi buku secara keseluruhan menyiratkan bahwa para penulisnya adalah sosok guru inspiratif, sehingga layak dijadikan inspirasi. Mereka adalah guru yang jeli menyikapi keadaan dan tak henti untuk terus belajar dan mengupdgrade diri. Belajar dengan melihat (learning by seeing), belajar dengan mendengar (learning by hearing) dan belajar dengan mencoba (learning by trying). Selanjutnya mereka memaknai dan mengimplementasikan apa saja yang sudah diperoleh guna mendukung tugas profesinya.

Menyimak perjuangan dan berbagai inspirasi yang telah mereka ciptakan menunjukkan bahwa, para penulis benar-benar menjadikan pengalaman sebagai guru yang berharga. Mereka adalah sosok yang jeli mengelola pengalaman dengan bijak, sehingga menjadikannya dirinya pribadi yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan kualitas yang mumpuni.

Pribadi yang selalu mengupgrade diri dilandasi keterbukaan hati dalam menimba pengetahuan dan pengalaman dari berbagai sumber. Pribadi yang memiliki kualitas diri, yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, namun juga orang lain dan lingkungannya terkhusus di tempat mereka mengajar.

Tulisan dalam buku ini layak dijadikan sumber inspirasi serta pembuka cakrawala akan hakikat tugas seorang guru. Guru adalah sosok yang multi tasking. Tugasnya tidak hanya mengajar atau berkutat dengan masalah sekolah. Guru mampu memposisikan dirinya sebagai sosok yang berguna baik di dalam maupun di luar sekolah. Mampu menjalankan tugas-tugas kependidikan maupun non kependidikan. Nyata dalam kerja dan inspiratif dalam setiap tindakannya.

Buku ini menjadi awal dimulainya proses belajar dengan menulis (learning by writing). Oleh karenanya, saya berharap akan lahir buku-buku selanjutnya yang mampu menunjukkan jati diri seorang guru sebagai sosok yang inspiratif, menjadi idola dan berintegritas. Guru yang benar-benar mampu mengejawantahkan konsep Ki Hajar Dewantara, ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha,  Ing Madra Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Akhirnya saya ucapkan selamat kepada Dra. Ika Lilis Herpianti Sutikno, SH., bersama rekan-rekan peserta WIT 2020 yang telah berhasil menerbitkan buku inspiratif ini. Teruslah berjuang memajukan bangsa dengan karya-karya hebat lainnya. Teruslah menginspirasi karena guru yang hebat adalah guru yang inspiratif.

Minggu, 24 Januari 2021

Berbagi Endorsment #1

Berbagi Endorsment #1

Endors Buku "Hidup untuk Berkarya"

Penulis : Sahat Serasi Naibaho, S.Si.,Gr.


Hidup adalah perjalanan sang jiwa raga menyusuri kehidupan demi menggapai mutiara keabadian. Sepanjang jalan terhampar ladang pengabdian yang disebut dengan karya. Karya yang senantiasa tertoreh di setiap langkah perjalanan hidup dan akan menjadi maghligai bagi pemilik karya. 

Buku “Hidup Untuk Berkaya” menyiratkan pesan bahwa hidup akan penuh dengan makna dan bertabur mutiara keabadian jika dihiasi dengan karya. Apa yang dilakukan sang jiwa raga dalam berkarya? Semua dapat ditemukan dalam setiap bab dalam buku ini. Buku ini memberikan motivasi untuk terus berkarya dan berkarya, hingga akhirnya kembali pada keabadian dengan meninggalkan karya yang dikenang sepanjang masa.

Eko “Sang Pena Lereng Lawu” Daryono

Penulis Buku, Editor 

Karanganyar,k Jawa Tengah

Minggu, 03 Januari 2021

Kata Sambutan untuk Sang Professor #1

Kata Sambutan untuk Sang Professor #1

 

KATA SAMBUTAN

 

Jika “Rumahku adalah Surgaku”, maka tak salah jika “Sekolahku adalah Ladang Surgaku”. Mengapa? Bagi seorang pendidik, sekolah merupakan tempat mengabdi, membelajarkan ilmu kepada peserta didik, mengajarkan keterampilan kecakapan hidup (life skills), serta menanamkan karakter kepribadian. Tujuannya agar peserta didik menjadi insan yang tidak hanya cerdas secara intelektualitas, namun juga cerdas emosional, spiritual dan karakterya, sehingga menjadi pribadi yang siap berperan serta demi kemajuan bangsa dan negaranya.

Sekolah juga menjadi tempat bagi tenaga pendidik untuk meng-upgrade dirinya, sehingga memiliki kompetensi yang mumpuni secara pedagogis, profesional, pribadi, dan sosial. Kompetensi yang tidak saja berguna bagi diri pribadi, namun juga bagi lingkungan di dalam dan di luar sekolah secara integral. Tak heran kiranya jika seorang pendidik disebut dengan guru, sosok yang digugu dan ditiru. Sosok yang dipegang teguh ucapannya dan diteladani tindakannya.

Dalam menjalankan tugas profesinya di sekolah, pendidik tentu dihadapkan pada berbagai macam dinamika, baik yang berhubungan dengan manajemen kerja, lingkungan kerja, rekan kerja maupun peserta didik. Dinamika yang unik, menarik sesuai dengan latar belakang demografi serta sosial budaya tempat di mana ia mengabdikan dirinya. Dinamika yang semakin mendewasakan jiwa maupun karakter sebagai pendidik.

Dinamika yang akhirnya dikisahkan dalam buku berjudul “Sekolahku Rumah Pengabdianku”. Buku yang lahir dari Kelas Menulis Buku Inspirasi bersama Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. ini sungguh menarik. Sebelas penulis yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, baik dari daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) maupun daerah perkotaan, mampu menampilkan dinamika kisah yang penuh warna. Kisah yang tidak hanya menarik dibaca, namun menginspirasi para pembaca tentang makna sebuah pengabdian.

Apresiasi luar biasa patut diberi kepada sebelas penulis dalam buku ini. Pada situasi pandemi yang penuh tantangan, mampu menyempatkan diri untuk terus berkarya dengan menulis bersama. Tak mudah tentunya membangun kolaborasi dan menyatukan ide demi lahirnya buku ini. Namun berkat dorongan untuk terus mengabdi demi mengukir prestasi dan melanggengkan jati diri demi kemajuan negeri, semuanya bisa terwujud.

Buku “Sekolahku Rumah Pengabdianku” merupakan  karya yang unik dan istimewa, karena: 1) para penulisnya berasal dari wilayah dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda, 2) beragamnya dinamika kehidupan sekolah yang dihadapi para penulis, 3) semangat pengabdian dalam mengalahkan segala keterbatasan, dan 4) beragamnya cara membangun optimisme demi kemajuan pendidikan di negeri tercinta ini. Oleh karena itu, jika membaca buku ini akan lebih memahami bahwa tugas mendidik terkadang dihadapkan para berbagai keterbatasan. Namun dengan semangat pengabdian tanpa batas maka semua keterbatasan tersebut dapat terlewati.

Mengutip pendapat dari William Arthur Ward bahwa “Guru biasa hanya bisa menceritakan, guru yang baik mampu menjelaskan, guru yang unggul mampu menunjukkan, dan guru yang hebat bisa memberikan inspirasi”. Saya ucapkan selamat kepada sebelas penulis buku ini karena telah menjelma menjadi guru yang hebat, karena mampu memberikan inspirasi melalui karya bersama ini.

Saya berharap mudah-mudahan buku ini dapat menjadi role model bagi guru dan tenaga pendidik lainnya di seluruh nusantara untuk terus berkarya di tengah berbagai situasi dan kondisi. Selain itu dapat memberikan nilai tambah dalam memperkenalkan berbagai kultur sekolah yang ada di negeri tercinta ini. Sekolah merupakan padepokan sekaligus kawah candradimuka yang melahirkan generas-generasi emas penerus estafet perjuangan bangsa. Maka, teruslah ikhlas mengabdi dengan segenap hati demi meretas pendidikan yang berkualitas.

 


Sabtu, 12 Desember 2020

Kata Pengantar untuk Sang Profesor #1

Kata Pengantar untuk Sang Profesor #1

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah, segala puji syukur terucap kepada Allah, tuhan semesta alam. Atas segala rahmat-Nya buku Bundaku akhirnya dapat terwujud dan hadir di hadapan pembaca. Buku yang lahir dari kawah candradimuka yang bernama “Kelas Menulis Buku Inspirasi (MBI)”, komunitas belajar menulis secara online melalui WA Group yang dipelopori oleh Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH.

Kelas Menulis Buku Inspirasi merupakan kelas yang digagas untuk menjalin persaudaraaan, membangun jejaring dalam dunia tulis menulis, saling berbagi, saling memotivasi, saling memberi inspirasi dan akhirnya saling berkolaborasi dalam menghasilkan karya khususnya dalam bentuk buku.

Apresiasi yang setinggi-tingginya patut disematkan atas kesuksesan penerbitan buku ini. Buku yang lahir dari keinginan para penulisnya untuk tiada henti terus berkarya meski berada di tengah pandemi. Kegiatan yang sangat positif tentunya mengisi hari-hari selama masa pandemi dengan menulis. 

Menulis adalah aktivitas rasa yang didasari hati. Saat sebuah tulisan diberi sentuhan hati, maka esensi tulisannya akan sampai ke hati pembacanya juga. Demikian halnya dengan membuat buku yang hakikatnya merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan. Selain tersampaikannya pesan yang tertuang dalam buku, dengan membaca isinya dapat memberikan makna bagi para pembacanya.

Buku Bundaku adalah salah satu yang ditulis dengan perasaan hati mendalam. Tulisan di dalam buku ini begitu apik disusun dalam untaian kalimat bermakna, menyentuh perasaan, penuh haru biru, dan menyadarkan pembaca tentang hakikat seorang ibu.

Tulisan dalam buku benar-benar menggambarkan betapa pentingnya peran seorang ibu dalam kehidupan anak-anaknya sedari kecil hingga dewasa. Perjuangan sejak awal melahirkan, mengawal proses tumbuh kembang hingga menanamkan karakter pada anak jelas tergambar dalam buku ini.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa pernah suatu ketika Ibnu Umar melihat seorang penduduk Yaman melakukan thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya. Orang itu bertanya, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad nomor 11)

Tak heran jika para penulis dalam buku ini begitu mengagumi dan membanggakan sosok yang bernama Ibu. Sosok yang diibaratkan “Malaikat Tanpa Sayap” Sosok yang pengorbanannya begitu totalitas dan tidak akan terbalaskan jasanya oleh seorang anak sekalipun selama hidup sang anak selalu ada untuk ibundanya.

Sisi lain dari buku ini bahwa para penulisnya begitu kreatif dalam menuangkan kisah nyata tentang sosok ibu. Hal ini menunjukkan kegiatan menulis itu berproses yang jika ditekuni secara konsisten dapat menghasilkan tulisan seperti yang tertuang dalam buku ini. Tulisan yang tidak hanya enak dinikmati, namun syarat dengan rasa dan makna.

Tak ada gading yang tak retak. Para penulis dalam buku ini telah berusaha sekuat tenaga memberikan berbagai sentuhan rasa, namun semua tidak ada yang sempurna. Karya yang baik membutuhkan proses dan semoga dengan proses itu para penulis akhirnya bisa menghasilkan karya yang sempurna.

Semoga hadirnya buku ini dapat mengobati rasa dahaga di tengah padang kerinduan yang bernama literasi. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Rabu, 02 September 2020

Menempa Mental Baja

MENEMPA MENTAL BAJA DI ALASKA
 Penulis : Eko Daryono

"Karakter tidak dapat dikembangkan dalam kemudahan dan ketenangan. Hanya melalui pengalaman pencobaan dan penderitaan, jiwa dapat diperkuat, visi menjadi jelas, ambisi terinspirasi, dan kesuksesan dicapai." - Helen Keller.

Nukilan kata motivasi di atas rasanya identik dengan apa yang pernah saya alami. Ternyata tidak semua penderitaan membawa kesengsaraan. Apa yang saya rasakan justru sengsara itu membawa nikmat. Nikmat yang saya dapat adalah terbentuknya karakter bermental baja dan selalu berupaya untuk mengatasi segala persoalan. Alhamdulillah saya dapat berperan sebagai solution maker di berbagai posisi yang saya emban. Berkat penanaman karakter dari orang tua dan tempaan keadaan masa lalu.
Kisah ini saya ceritakan berdasarkan apa yang saya ingat sewaktu duduk di kelas 3 sekolah dasar atau saat berusia 10 tahun. Karena tak semua kisah di waktu kecil dapat saya ingat kembali dengan jelas. Saya lahir 45 tahun yang lalu, di sebuah dusun kecil yang masih jarang penduduknya. Dusun Ngasem, itulah nama dusun kelahiran saya. Letaknya kurang lebih 30 kilometer dari kota Kabupaten Karanganyar dan 3 kilometer dari kota Kecamatan Kerjo. Sebuah dusun yang sangat terisolir dari dunia luar karena letaknya di tengah hutan karet sehingga sering disebut kampung alaska atau kampung di tengah alas (hutan) karet.
Dusun Ngasem dapat dikatakan lebih dari tertinggal pada tahun 1980-an. Infrastruktur jalan yang jauh dari kata layak, karena hanya beralaskan tanah dan harus melewati perkebunan karet milik PTP VIII Kerjo Arum. Pada saat musim penghujan, jalan tidak dapat dilewati kendaraan. Selain banyak kubangan air, jalan juga licin karena bertekstur tanah liat. Waktu itu di dusun saya hanya segelintir orang yang memiliki kendaraan bermotor. Seingat saya, baru Pak Sutris (pegawai pos) dan Pak Jafar (pegawai bank) yang memiliki sepeda motor. Orang dusun lebih banyak beraktifitas dengan berjalan kaki betapapun jauhnya. Bahkan untuk pergi ke pasar terdekat, Pasar Batujamus, yang jaraknya 7 kilometer pun juga berjalan kaki.
Keadaan tersebut diperparah dengan ketiadaan aliran listrik, sehingga masyarakat hanya mengandalkan lampu minyak atau lampu teplok sebagai penerangan di waktu malam. Setiap malam saya belajar bersama adik-adik saya dibawah cahaya temaram lampu dinding. Beruntungnya pada masa itu masih jarang masyarakat yang menggunakan alat elektronik menggunakan listrik. Alat komunikasi yang dimiliki masyarakat Dusun Ngasem umumnya adalah radio transistor ditenagai baterai. Televisi menjadi barang yang sangat ekslusif karena satu kampung hanya Pak Mo yang memilikinya. Itupun hanya bisa ditonton seminggu sekali saat malam Minggu karena mengandalkan stroom accu di kota.
Kondisi dusun juga tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi warga yang hampir 97% berada di bawah garis kemiskinan. Masyarakat hanya dapat mengandalkan sektor pertanian, tanaman palawija di tanah tegalan, serta menjadi buruh di perkebunan karet. Hanya segelintir orang yang dapat mengenyam pekerjaan formal. Termasuk Bapak saya yang berprofesi sebagai guru. Namun apalah daya, gaji guru tahun 1970-an jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama satu bulan. Tak heran, Bapak harus banting tulang selepas mengajar di sekolah. Itulah mengapa Kakek dan Bapak mengatakan jangan pernah bercita-cita menjadi guru, jadilah pegawai bank. Kata-kata itu masih terngiang di telinga saya hingga sekarang.
Iseng-iseng saya pernah membuka file berkas Bapak di almari yang sudah keropos dimakan teter (seranggga pemakan kayu). Betapa terkejutnya saat saya tahu ternyata gaji Bapak hanya dua belas ribu rupiah untuk menghidupi lima orang anggota keluarga. Tak terasa menetes air mata saya, ternyata Bapak pantang menyerah agar mampu menyekolahkan kami bertiga hingga sarjana. Meskipun hingga pensiun empat belas tahun yang lalu, Bapak juga masih berhutang di bank untuk membiayai kami bertiga.
Beratnya kehidupan 35 tahun lalu masih terbayang jelas di kelompak mata saya. Saya sekeluarga tinggal di rumah berukuran enam kali lima meter persegi dengan dinding dari anyaman bambu dan menumpang di tanah milik orang. Hari-hari saya lalui dengan penderitaan yang mungkin tidak dirasakan anak zaman sekarang, apalagi sekelas anak seorang guru. Bangun sebelum waktu subuh, mengisi bak mandi, mengisi tempayan air minum, mencari rumput, menggembala kambing adalah aktivitas rutin yang menemani saya mengiring berputarnya waktu. Bapak adalah seorang pendidik yang keras baik di sekolah maupu di rumah. Mas Agung, mantan murid Bapak pernah bercerita kalau Bapak saya adalah guru killer kalau istilah sekarang.
Setiap pukul dua dini hari, ibu sudah membangunkan saya untuk menemaninya mengambil air di sumber mata air satu-satunya di kampung saya. Jarak tempuh pulang pergi sekitar lima kilometer. Berbekal dua jerigen air bervolume tujuh belas literan, saya memikul air bersih untuk mengisi dua tempayan air besar di dapur. Maklum saat itu belum ada layanan air bersih. Meskipun ada sumur di sebelah barat rumah, namun airnya tidak layak diminum karena berwarna coklat. Setiap hari saya harus bolak-balik sebanyak dua kali di waktu pagi dan dua kali di waktu sore ke mata air itu. Meskipun berjalan hampir dua puluh kilometer setiap hari, tetapi ringan terasa karena banyak teman yang beraktifitas serupa.
Selepas mengisi tempayan air, tugas selanjutnya menimba air untuk memenuhi bak mandi rumah. Sekilas pekerjaan itu mudah, tapi kedalaman sumur di rumah saya tiga puluh tiga meter. Setidaknya saya harus menimba sepuluh kali untuk dapat memenuhi bak mandi setiap pagi dan sore. Capek memang, namun sedikitpun tak terbersit perasaan mengeluh. Mungkin karena usia saya masih sekolah dasar. Pikiran yang terlintas hanyalah ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa segera ke sekolah jika pagi atau bermain jika sore hari.
Setiap pagi jam setengah tujuh, saya harus bersiap berangkat sekolah. Kebetulan sekolah saya dekat, letaknya hanya di seberang jalan depan rumah. Waktu sekolah pun dengan kondisi seadanya tanpa memakai alas kaki. Saya masih ingat hingga lulus SD tidak pernah memakai sepatu. Fasilitas sekolahpun juga sangat terbatas. Meja dan kursi panjang ditempati oleh empat siswa sekaligus. Papan tulis dari papan kayu bercat hitam dengan kapur sebagai alat tulisnya. Buku pelajaran pun diberikan turun temurun dari kakak angkatan sebelumnya. Baju seragam sekolah pun hanya tiga pasang yang dipakai dua hari sekali.
Guru dalam mengajar tidaklah seramah guru model era milenial. Karakter mendidik dengan kedisiplinan tingkat tinggi selalu saya rasakan hingga lulus sekolah dasar. Saya masih ingat dan terkenang dengan dua orang guru saya yang sudah almarhum yaitu Pak Kas (kepala sekolah) dan Pak Di (wali kelas enam). Sebelum masuk kelas, satu persatu harus dapat menjawab soal pengurangan, penjumlahan, perkalian dan pembagian. Apabila tidak mampu menjawab maka tidak boleh masuk kelas bahkan hingga pelajaran selesai.
Pak Di khususnya selalu mengajar dengan sangat disiplin. Saat pelajaran mencongak, kedua tangan siswa harus diletakkan di atas meja. Apabila tidak dapat menjawab maka pemukul rotan akan melayang ke tangan. Kondisi tersebut berlangsung setiap pembelajaran Matematika. Meskipun demikian, tidak ada rasa takut ataupun dendam baik kepada Pak Kas maupun Pak Di. Saat beliau datang setiap pagi, tetap saja kami berebut membawakan tas beliau berdua ke dalam kantor. Entah magis apa yang membuat kami selalu menaruh rasa hormat yang begitu mendalam kepada beliau berdua.
Jangan pernah membandingkan dengan kondisi sekarang yang apa-apa sedikit anak mengeluh diperlakukan guru dan bahkan orang tua mengkasuskan guru. Kerasnya pendidikan pada masa lalu bukan dimaksudkan untuk menyiksa atau membuat siswa menderita, namun membentuk karakter agar siswa memiliki mental baja serta memiliki daya ingat yang baik. Apalagi pendidikan menjadi barang yang tergolong mahal karena tidak semua anak bisa merasakan bangku sekolah.
Sehabis maka siang sepulang sekolah jam satu siang, saya berangkat menggembala kambing bersama teman sepermainan. Sabit dan karung bekas pupuk selalu saya bahwa untuk mencari rumput. Saat kambing makan rumput di padang rumput, saya dan teman-teman mencari rumput di pematang sawah. Waktu menggembala kambing dan mencari rumput pun terbatas hanya sampai jam setengah empat sore. Oleh karena itu, saya benar-benar memanfaatkan waktu sekalian untuk bermain bersama teman-teman sebaya.
Kegiatan harian begitu ketat dijadwal oleh Bapak dan tidak ada toleransi keterlambatan. Apabila terlambat maka konsekuensinya mendapat hukuman pukul pantat dengan rotan atau tidak mendapat jatah makan. Maklum saat itu nasi menjadi barang yang mahal. Nasi jagung dan tiwul (nasi singkong) adalah makanan sehari-hari kami sekeluarga. Meskipun menggarap sebidang tanah sawah punya Kakek, namun hasil panen padi tidak mencukupi untuk dimakan. Penyebabnya sering gagal panen akibat serangan hama tikus dan wereng. Tak jarang pula dusun saya mengalami paceklik sehingga masyarakat harus makan seadanya.
Waktu setengah empat hingga menjelang magrib saya gunakan untuk mengambil air bersih dan memenuhi bak mandi seperti aktivitas di pagi hari. Selepas magrib, Bapak sudah bersiap di meja belajar membimbing saya belajar. Bapak paling keras mengajarkan matematika. Bapak mengatakan yen kowe pinter matematika, kowe ora bakal diapusi uwong (kalau kamu pandai matematika, kamu tidak akan ditipu orang). Saya sering menangis karena kerasnya Bapak mengajar. Saat kondisi itulah, Ibu muncul sebagai pahlawan yang membela dan menenangkan hati saya. Memang efek positif yang saya terima dari bimbingan Bapak. Semenjak kelas tiga SD hingga kelas tiga SMP, saya selalu menduduki rangking satu di kelas. Saat penerimaan siswa SMA pun, saya berhasil masuk sekolah paling favorit di Karesidenan Surakarta pada saat itu.
Rasa lelah, capek, kehilangan kebahagiaan masa anak-anak, penderitaan hidup yang saya rasakan hingga kelas tiga SMP adalah pengorbanan luar biasa yang telah saya lalui. Mengapa hanya sampai SMP, karena semenjak SMA hingga menikah saya selalu berada di perantauan. Nenek To dan Nenek Emo, saksi hidup atas apa yang saya alami, selalu meneteskan air mata saat bertemu dengan saya hingga sekarang. Mereka tidak pernah membayangkan saya mampu bertahan hingga bisa menjadi seperti sekarang. Mereka begitu terharu dan berulang kali mengatakan bocah ki yen manut bakal nemoni dalan padhang uripe (anak kalau penurut akan menemukan jalan sukses hidupnya).
Semua yang saya rasakan dahulu tak satupun yang menumbuhkan rasa dendam. Saya begitu hormat dengan Bapak yang kini sudah memasuki 74 tahun dan Ibu yang sudah memasuki usia 70 tahun. Selalu tersemat senyum kebanggaan saat melihat anak-anaknya telah berhasil berkat tempaan didikan mereka. Tak jarang Bapak bercerita saat bertemu dengan teman-teman sebayanya sering ditanya piye carane anak-anakmu iso sukses kabeh (bagaimana caranya anak-anakmu dapat sukses semua). Saya merasakan manfaat yang mendalam dari apa yang mereka ajarkan pada masa lalu.
Kini kehidupan di dusun kelahiran saya sudah berubah drastis ibarat membalik dunia. Sejak masuknya listrik tahun 1994 dan pengerasan jalan tahun 2000, dusun saya mulai mengalami modernisasi. Kondisi sosial ekonomi naik strata dari miskin menjadi menengah ke atas. Masyarakat banyak yang merantau baik di dalam maupun luar negeri serta bekerja di sektor formal. Mulai banyak anak yang mengenyam jenjang perguruan tinggi. Tahun 2010 boleh dibilang sebagai tahun keemasan, karena Pemerintah Kabupaten Karanganyar membuka akses jalan tembus yang menghubungkan dua Kecamatan berbatasan, sehingga jalur transportasi semakin ramai menuju lokasi wisata di Lereng Utara Gunung Lawu.
Kondisi memang telah berubah drastis. Gaya mendidik maupun pengalaman hidup yang dulu saya alami mungkin tidak lagi dijumpai oleh anak-anak di dusun saya sekarang. Namun saya menaruh harapan besar bahwa apapun gayanya, menempa mental baja pada anak merupakan sesuatu yang harus terus ditanamkan. Anak-anak pada masa mendatang akan menghadapi kondisi kehidupan yang lebih keras dari apa yang saya alami dahulu.
Setelah meresapi dan merenungi masa lalu, saya banyak mendapat hikmah. Hikmah yang saya petik dari pengalaman ini bahwa jangan pernah menyerah dengan keadaan. Justru dengan bertahan dalam penderitaan akan menempa mental petarung dalam mengarungi hidup. Hidup ini keras seperti besi maka hadapilah dengan mental sekeras baja. Karenanya teruslah belajar dan belajar dari pengalaman hidup yang kita jalani. 

Lereng Lawu, 25 Agustus 2020.

Profil Penulis


Eko Daryono, S.Kom lahir di Karanganyar, 20 Desember 1975. Profesi sebagai guru TIK di SMP Negeri 3 Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Mulai menulis sejak tahun 1999 dan ngeBlog mulai tahun 2013. Banyak menulis buku tentang sejarah nasional, budaya lokal, karya ilmiah bidang pendidikan, jurnal dan buku antologi. No HP/WA: 088220032204, email: masdaryono1275@gmail.com, blog: maseko1275.blogspot.com, facebook: Eko Daryono, instagram: masdaryono1275, twitter : @Maseko06550776