Sabtu, 27 Februari 2021

MENULIS ITU NIKMAT

 


Pandemi tak terasa sudah hampir setahun menjelang. Makhluk mikro yang bernama virus Covid-19 telah mengubah wajah dunia. Masa depan dunia seolah makin tak menentu. Jurang resesi menganga di seluruh penjuru dunia. Dunia yang semula hiruk pikuk, mendadak sunyi. Bising suara mesin dan kepulan asap kendaraan bermotor seolah senyap. Manusia yang semula abai dengan nikmat yang bernama imun, mendadak begitu perhatian.

Cuci tangan yang jarang dilakukan mendadak menjadi trend. Begitupun kewaspadaan sosial yang meningkat dengan saling menjaga jarak. Hingga rela membatasi ruang gerak oksigen dengan memakai masker. Berbagai kebijakan pembatasan yang bernama lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM), maupun PPKM Mikro seolah memenjara ruang gerak aktivitas masyarakat.

Meski demikian, berkurangnya ruang gerak tak serta merta membatasi ruang kreativitas. Sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna, banyak aktivitas positif yang dapat dilakukan di masa pandemi. Terlebih wajah dunia memang telah berubah berkat kemajuan ilmu dan teknologi, sehingga aktivitas manusia semakin tak terbatas tempat dan waktu.

Tanpa disadari, Covid-19 telah menjelma menjadi “guru besar” yang membuka cakrawala manusia. Cakrawala tentang pemanfaatan teknologi digital dalam rangka membangun peradaban baru manusia yang lebih berkarakter. Beberapa bentuk di antaranya adalah work from home (bekerja dari rumah), learn from home (belajar dari rumah), training from home (pelatihan dari rumah) dan masih banyak yang lainnya.

Salah satu kegiatan pelatihan dari rumah adalah diklat menulis online melalui grup WhatsApp yang diselenggarakan Rumah Produktif Indonesia (RPI) Nusa Tenggara Timur ini. Saya akhirnya juga ikut terlibat dalam kegiatan diklat online tersebut sebagai penyedekah ilmu. Perkenalan saya dengan RPI tak lepas dari peran Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH. atau Bunda Lilis. Sosok guru inspiratif dari NTT. Guru cantik inspirasi dunia. Penulis buku best seller “Guru adalah Inspirasi”.

Kisah saya mengenal RPI bermula pada tanggal 20 Februari 2021 selepas waktu asar. Saya menerima pesan Bunda Lilis melalui WA yang bunyinya, “Pak Eko, minggu depan kita sedekah ilmu saget? Njenengan malam Jum’at Menulis itu Nikmat”. Spontan saya membalas, “Kelas MBI Bunda?” Maklum, selama ini saya bekerja sama dengan beliau di Kelas Menulis Buku Inspirasi (MBI). Sejak bulan Agustus 2020 saya aktif di Kelas MBI. Bunda Lilis menjawab, “Bukan. RPI (Rumah Produktif Indonesia) NTT. Mau launching buku sebagai penanda RPI ada di Kupang.” Wah… sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya diajak bersedekah ilmu.

Saya pun menyanggupi permintaan beliau untuk bersedekah ilmu seperti di kelas MBI maupun di kelas menulis online lainnya. Menjelang waktu zuhur tanggal 21 Februari 2021, Bunda Lilis memasukkan saya ke WhatsApp group RPI MENULIS BUKU BER-ISBN. Sore harinya sekira jam 16.00 WIB, saya menerima jadwal dari Bunda Lilis. Sesuai schedule, kegiatan berlangsung selama lima hari dari tanggal 22 hingga 26 Februari 2021. Saya mendapatkan jadwal hari Kamis malam tanggal 25 Februari 2021 dengan materi “Menulis Itu Nikmat”. Materi yang sudah tersampaikan dua kali pada Kelas MBI Gelombang I dan II. Meski judul temanya sama, namun secara content saya buat berbeda.

Foto 1. Jadwal Kelas Menulis Online Bersama RPI NTT

(Sumber : WA Image Bunda Lilis Tanggal 21 Februari 2021 Pukul 16.13 WIB)

Setelah menerima jadwal, saya menggali informasi lebih dalam tentang RPI dari Bunda Lilis. Tujuannya agar mengetahui secara jelas siapa audience kelas RPI, sehingga materi yang saya sajikan nantinya tepat sasaran. Saya sempatkan juga membuka keanggotaan grup, dan ternyata sebagian anggotanya berasal dari kelas MBI. Adapun peserta kelas RPI sendiri sebagian sudah membuat tulisan dengan tema Kisah Inspirasi. Kondisi itu membuat saya harus membuat style yang berbeda dalam menyajikan materi “Menulis itu Nikmat”.

Maksud hati, saya ingin mempersiapkan materi sejak dini agar content-nya berbobot. Namun, ada sesuatu tak terduga selepas subuh tanggal 23 Februari 2021. Bola mata kiri saya merah dengan urat-urat yang nampak jelas mengalami perdarahan seperti syarat pecah. Semula saya tak menyadari, hingga isteri mengingatkan bahwa bola mata kiri saya memerah. Awalnya tak terasa sakit, sehingga saya tetap ke kantor karena terpaku jadwal piket dengan absensi online. Sepulang kantor, barulah terasa sakit terlebih saat berada di depan layar komputer. Setelah konsultasi medis secara online, saya mendapatkan obat tetes mata yang alhamdulillah dapat meredam rasa sakitnya.

Rabu pagi tanggal 24 Februari 2021, Bunda Lilis berbicara langsung melalui call WA tentang teknis kegiatan pada Kamis malam. Setelah ada kesepakatan teknis, Rabu malam saya mulai melakukan persiapan. Saya mulai berselancar di dunia maya mencari informasi lebih dalam mengenai RPI secara menyeluruh. Sempat tak berhasil menemukan informasi, akhirnya Bunda Lilis memberikan alamat website rpi.or.id.

Website rpi.or.id. ternyata belum menyediakan informasi komprehensif tentang apa dan bagaimana RPI. Namun melihat content yang banyak diunggah di website RPI, saya punya keyakinan bahwa kegiatannya bersifat positif khususnya dalam membangun literasi. Selanjutnya, saya membuat flyer sesuai permintaan Bunda Lilis supaya mempersiapkannya sendiri. Meski menahan rasa sakit, saya berhasil menyelesaikan flyer yang sederhana. Flyer tersebut saya share ke Bunda Lilis jelang tengah malam.

Gambar 2. Flyer Penyaji Materi Eko Daryono

(Sumber : Dokumen Pribadi didesain dengan PosterMyWal) 

Sejak tanggal 25 Februari 2021 pagi, saya sempatkan menulis bahan materi untuk disajikan malam harinya. Rasa sakit begitu menyiksa di mata, namun saya berusaha menulis baris demi baris naskah dengan tema “Menulis itu Nikmat”. Tujuannya, agar saat berada di kelas saya tinggal copy paste sehingga mempercepat proses penyajian materi. Sambil mengetik naskah, saya sesekali melihat grup RPI. Hinggal jam 09.00 WIB tercatat 45 anggota yang telah bergabung di grup. Namun dalam waktu dua jam setelahnya, anggota grup bertambah 34 orang hingga keseluruhan menjadi 79 peserta.

Kondisi tersebut menambah motivasi untuk membagikan sesuatu yang bermanfaat bagi para peserta. Menjelang asar, materi selesai saya ketik mencakup empat sub, yakni mengapa menulis itu nikmat, mengapa menulis harus nikmat, jurus timeline serta asupan 4 sehat 5 sempurna dalam menulis.

Sub materi “Mengapa menulis itu nikmat?” berisi tentang latar belakang menulis itu nikmat. Menurut saya, ada delapan hal yang menjadikan menulis itu nikmat, yaitu:

1.   Menulis dapat melepaskan beban jiwa karena menulis seperti terapi jiwa. Menulis bahkan membantu berpikir lebih jernih melalui penyaluran emosi yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Misalnya bentuk curahan hati atau pelampiasan yang dituangkan dalam diary.

2.   Membuat orang bahagia karena dapat berbagi kebaikan dengan orang lain, misalnya berbagi pengalaman, kisah inspirasi, tips, ilmu, resep dan sebagainya.

3.   Menyampaikan ide atau gagasan, misalnya opini atau kritik. Ide atau gagasan bisa topik simpel yang ada di lingkungan sekitar atau pengalaman hidup sendiri maupun orang lain

4.   Sarana aktualisasi diri atau menunjukkan who am I (siapa diri kita sebenarnya) tanpa harus mengataknya pada orang lain. Biasanya saat kita menunjukkan aktualisasi diri dengan berbicara umumnya kita dianggap sombong. Namun, tidak dengan aktualisasi melalui tulisan.

5.   Menyalurkan bakat, minat ataupun hobi.

6.   Menunjang karier, khususnya bagi ASN atau dosen yang membutuhkan poin angka kredit dari pengembangan ilmiah

7.   Sumber pendapatan. Ingat JK Rowling? Dia adalah penulis seri novel “Harry Potter”. Bukunya telah terjual sebanyak 500 juta copy dalam 80 bahasa dan menghasilkan pendapatan sekitar 16 trilyun. Luar biasa bukan …!!!

8.   Ladang ibadah dan amal jariyah. Endingnya sebagai bekal di akhirat. Sebuah quote dari Ali bin Abi Thalib, “Semua orang akan mati kecuali karyanya maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”.

Sub materi “Mengapa Menulis itu harus dengan nikmat?” berisi tentang alasan menulis harus dilakukan dengan nikmat. Nikmat biasanya membuat orang merasa bahagia, senang, lega. Misalnya saat sedang galau atau sedih. Coba lampiaskan dengan menulis! Biasanya perasaan akan menjadi lega. Rasa lega membuat orang tenang dan terasa nikmat. Oleh karenanya, menulis dengan nikmat akan membuat kita merasa senang dan bahagia dalam menulis. Kalau perasaan senang dan bahagia, penulis akan enjoy dalam menulis.

Kenapa kita kesulitan mengawali kegiatan menulis? Bisa jadi karena kita tidak bahagia dalam menulis. Terbebani dengan aktivitas menulis. Menulis sesuatu yang sangat abstrak. Sesuatu yang belum pernah dialami, tidak diketahui, tidak dikuasai atau tidak dipahami. Bukankah beban merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan? Jika kita terpaksa dalam menulis, maka sulit untuk menghasilkan tulisan yang merdeka atau sulit melepaskan ide yang terpenjara. Misalnya, saat dikejar target dan dibatasi deadline, biasanya akan membuat perasaan penulis tertekan. Dampaknya, bukan proses menulis yang nikmat, tetapi menulis karena dituntut kewajiban.

Lantas, “Bagaimana cara nikmat dalam menulis?” Saat mulai menulis, suasana hati harus santai, rileks, senang dan bahagia. Maka, pilihlah waktu yang ideal untuk menulis dengan kondisi fisik yang fit. Lalu mulailah menerawang. Apa yang diterawang? Apa yang pernah dialami, dirasakan, dijumpai. Intinya yang mudah ditulis itu adalah yang kita tahu dan kita kuasai. Jangan menulis yang tidak kita pahami atau kita kuasai. Pasti dalam proses menulisnya akan menjumpai banyak kebuntuan.

Langkah selanjutnya, mulailah menulis. Nah, untuk tahap ini, proses awalnya memang harus dipaksa. Jangan terbawa suasana hati dan jangan hanya terpaku pada mood. Penulis yang baik bukan menunggu waktu luang, tapi meluangkan waktu untuk menulis. Apapun itu, yang penting mulailah menulis, tulis, tulis, dan tulis hingga selesai. Jangan merasa takut salah! Jangan pernah mengoreksi sambal menulis! Selesaikan saja semua tulisan hingga ide terakhir berhasil dituangkan! 

Saat menulis, abaikan aturan baku dalam menulis agar tidak mengalami deadlock. Saat menulis sambil mengoreksi, maka tulisan tidak akan pernah selesai. Penulis akan terjebak dalam lingkaran kebuntuan. Oleh karena itu, biarkan ide mengalir secara alamiah. Abaikan terlebih dahulu aspek kesempurnaan dalam setiap kalimat, agar tidak menjadi penghalang dalam merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dalam tulisan kita.

Pak Nafrizal, sahabat saya dari Sumatera Barat, pernah mengatakan, “Menulislah. Tidak usah berpikir dengan urusan titik koma dan tata bahasa.” Setelah tulisan selesai hingga tetes ide yang terakhir, barulah mencari waktu lain untuk mengoreksi. Ingat! Masih ada editor dan reviewer yang akan beraksi.

Sub materi ketiga adalah “Jurus Timeline”. Jurus ini sebagai sarana agar penulis dapat menikmati proses menulis. Timeline maksudnya garis waktu atau rangkaian kejadian yang urut berdasarkan waktu. Jurus ini biasa saya digunakan untuk melatih menuangkan ide dengan alur yang runtut dan enak dibaca. Adanya timeline membuat alur cerita mudah dipahami dan tidak meloncat-loncat, sehingga membingungkan pembaca.

Kejadian tiba-tiba yang tidak ada dalam timeline menjadi titik menariknya. Jadi, idealnya yang ditulis dalam timeline adalah kejadian yang sudah dialami. Sebab, “sesuatu yang tiba-tiba” itu hanya muncul saat kejadian berlangsung. Modal utama timeline adalah memori jangka pendek dan jangka panjang atau ingatan. Mengapa demikia? Karena hanya berbekal ingatan, seorang penulis dapat mengingat kembali secara detail apa yang dialaminya sehingga dapat menuangkan dalam kisah secara kronologis.

Contoh Timeline

Pukul 04.30 Bangun Tidur

Bagaimana suasana di rumah dan sekeliling rumah saat bangun tidur?

Apa saja aktivitas yang dilakukan setelah bangun tidur?

Adakah kejadian menarik selama menjalankan aktivitas tersebut?

Pukul 06.00 Berangkat ke Kantor

Berangkat naik apa?

Bagaimana kondisi jalan yang dilalui?

Kejadian apa saya yang dilihat atau dirasakan selama perjalanan?

Pukul 07.00  Sudah beraktivitas di Kantor

Apa saja kegiatan yang dilaksanakan selama di kantor?

Bagaimana suasana kerja di kantor?

Bagaimana kondisi fisik kita saat melaksanakan aktivitas kantor sejak masuk hingga selesai

Adakah hal-hal menarik yang terjadi selama melaksanakan kegiatan di kantor?

Pukul 13.30 Pulang Kantor

Bagaimana kondisi lingkungan sekitar saat pulang kantor?

Adakah hal menarik yang dijumpai selama pulang kantor? 

Narasi dari timeline tersebut, yakni : bangun tidur jam berapa, bagaimana keadaan sekitar saat bangun tidur, setelah bangun tidur apa yang pertama kali dikerjakan, kemudian apa lagi … hingga waktu berangkat ke kantor. Kejadian apa yang dialami dan seterusnya.

Melalui rangkaian aktivitas dalam timeline maka ide penulis dapat mengalir secara logis dan kronologis. Timeline kejadian pada hari tertentu bisa dapat dijadikan sebagai latihan menemukan, mengalirkan dan menuangkan ide. Setelah timeline harian, barulah kita berproses para peristiwa yang lebih besar. Misalnya, proses hingga berhasil menulis buku.

Timeline juga dapat dipergunakan untuk mengatasi kondisi deadlock saat menulis. Saat deadlock, cobalah mengingat detik demi detik aktivitas yang telah dilalui. Oleh karena itu, ingatan kejadian yang dialami harus benar-benar dikuak secara detail sehingga menghasilkan kisah yang runtut. Potongan-potongan puzzle peristiwa harus dirangkai secara cermat dan kronologis (berturutan)

Sub materi terakhir adalah ‘Asupan Menulis: 4 Sehat 5 Sempurna”. Agar semakin nikmat dalam menulis, maka dibutuhkan asupan menulis yaitu 4 Sehat 5 Sempurna dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama : Sehat Penglihatan

Seorang penulis harus sehat penglihatan lahiriah dan batiniahnya. Maksud sehat penglihatan lahiriah yaitu jeli dalam melihat sesuatu dari sudut pandang dirinya dan orang lain secara obyektif. Pandai mengambil sudut pandang penulisan secara seimbang. Maksud sehat penglihatan batiniah yaitu menggunakan mata batin untuk membantu proses pendalaman penglihatan lahiriah.

Kedua : Sehat Pendengaran

Seorang penulis harus mendengarkan hal-hal yang sudah pasti kebenarannya. Penulis sejati hanya akan menulis apa yang didengarnya setelah melalui klarifikasi, sekalipun itu didengar dari narasumbernya langsung. Penulis sejati tidak pernah menulis apa yang hanya didengarnya seklias sebelum mengklarifikasi dan memvalidasi terlebih dahulu. Sebab jika tidak berhati-hati justru hanya menghasilkan tulisan yang bersifat hoax.

Ketiga : Sehat pikiran

Maksudnya tidak hanya sebatas sehat akal, namun seorang penulis harus selalu berpikir positif. Menyikapi sesuatu dengan selalu mengedepankan praduga tak bersalah dan selalu berbaik sangka. Berpikiran luas dalam menangkap sebuah fenomena. Menilai kelogisan sebuah peristiwa untuk dituliskan.

Keempat : Sehat Perasaan

Maksudnya seorang penulis tidak mudah terbawa emosi atau baper agar isi tulisannya tidak mengedepankan aspek emosi yang kadang tidak terkontrol. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menyentuh emosi pembaca. Bukan tulisan yang berisi luapan emosional penulisnya. Oleh karena itu, ritme perasaan saat menulis harus dikelola dengan baik.

Kelima : Sempurna didasari dengan HATI

Penglihatan, pendengaran, pikiran dan perasaan akan menjadi optimal saat semuanya dilandasi dengan HATI. Libatkan hati yang terdalam. Menulis benar-benar dari dalam hati. Menulislah dengan sepenuh hati. Tulisan yang keluar dari hati, akan sampai ke hati pembacanya.

Materi tersebut akhirnya saya sajikan di Kelas Menulis RPI NTT pada Kamis malam 25 Februari 2021. Tak seperti narasumber lainnya, respon peserta sebelum acara dimulai terkesan dingin. Mirip dinginnya udara Lereng Lawu yang saya rasakan karena bersamaan dengan hujan lebat. Ha…ha…ha… Saya juga tidak mengetahui siapa yang menjadi moderator kelas. Saya sempat pesimis, hingga akhirnya Bunda Lilis japri menjelang magrib, “Pak Eko menawi sampun kula di WA njih” (Pak Eko kalau sudah siap saya di WA ya).

Selepas magrib saya pun tancap gas menyajikan materi yang sudah siap di komputer. Mendadak, motivasi tiba-tiba berlipat, karena Bunda Lilis yang menemani saya menyajikan materi. Mengingat anggota grup sebagian dari kelas MBI serta anggota RPI yang sudah menghasilkan tulisan, maka saya tidak berbicara sebagai penulis, namun sebagai editor dan reviewer buku. Kenapa demikian? Karena dari situlah saya menemukan nikmatnya membaca tulisan dan seolah merasakan proses menulis dari para penulisnya.

Saat mengedit buku, tak jarang saya temukan tulisan yang dipaksakan. Efeknya, saat dibaca terasa hambar dan tidak nikmat. Tidak sampai ke hati, karena menulisnya tidak sepenuh hati. Produk tulisan jangan dipaksakan. Jangan menulis apa yang tidak diketahui, tidak dikuasai, dan tidak dipahami. Jika dipaksakan, hasilnya pasti terasa oleh pembaca yang jeli. Maka dari itu, saya pun sharing materi menulis itu nikmat seperti tertulis sebelumnya.

Saat menyajikan materi, saya sisipkan “Teori 10.000” Jam dari Malcolm Gladwell yang bunyinya: “Seseorang akan menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu yang diinginkan setelah dia melakukan atau mempelajarinya dalam waktu 10.000 jam”. Lepas dari benar tidaknya, teori tersebut memberikan pesan mendalam. Pesannya bahwa “keberhasilan merupakan buah ketekunan dan kerja keras. Keberhasilan bukan sesuai yang instan, datang secara mendadak atau kebetulan. Namun berproses dan melalui perjuangan.” Orang-orang yang sudah memiliki bakat bawaan pun, akan menonjol bakatnya setelah diasah dengan tekun.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 20.30 WIB tersebut memang terkesan berarus datar. Maklumlah, selain pesertanya sudah menghasilkan tulisan atau bahkan buku, kegiatan ini sifatnya hanya berbagi pengalaman. Maka sedari awal saya menegaskan bahwa ingin berguru dari anggota grup RPI. Grup Rumah Produktif Indonesia yang tentunya menghasilkan produk beraneka ragam khususnya tulisan khususnya.

Pada akhir penyajian, saya tutup dengan quote yang menjadi niche (ciri khas). Sebagai penulis, saya punya niche sebutan “Sang Pena Lereng Lawu” dan niche berupa quote “Menulis itu olah kata dengan rasa, karena menulis seperti berbicara dan teman bicaranya adalah HATI”. Terima kasih Bunda Lilis, rekan-rekan pengurus dan anggota RPI serta peserta Kelas Menulis RPI atas ruang berbagi yang disediakan untuk saya. Saya punya keyakinan bahwa RPI tidak hanya menjadi Rumah Produksi Indonesia, namun juga menjadi Ruang Penulis Inspiratif. Ruang yang insyaallah akan menghasilkan para penulis, editor, reviewer, motivator dan mentor buku yang hebat.

Setelah acara ditutup, respon dari para peserta ternyata sangat meriah. Saya sempat berpikir, “Saat acara belangsung adem ayem. Setelah acara sangat semarak. Apa penyajian saya tadi membingungkan, ya???” Ah…sudahlah…semua sudah berlalu. Ada kejutan pantun saya dapatkan dari Pak Y. Joni Liwu, S.Pd., seorang tenaga pendidik sekaligus penulis tenar yang aktif menulis di Radar NTT.

Kemarau panjang di bulan Juni,

Rumput kering di tanah Savana.

Sungguh beruntung di malam ini,

Raup ilmu 4 sehat 4 sempurna.

Kejutan tak terhenti selepas kegiatan saja. Keseokan paginya menjelang subuh, dapat kejutan lagi. Kali ini pantun dari Ibu Ni Ketut Suastiwi, S.Pd.AUD. Sosok ibu guru TK Negeri Desa Tusan Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali. Sosok yang multitalent, menyandang banyak prestasi, cakap dalam menulis, membuat pantun berikut.

Belanja barang kita ke toko

Mampir ke pasar beli seledri

Belajar Menulis bareng Pak Eko

Jiwa sehat karya terpatri.

Sungguh apresiasi yang luar biasa bagi saya, yang juga masih harus banyak belajar dalam bidang tulis menulis. Terima kasih atas semua apresiasi yang diberikan. Semoga apa yang telah saya bagikan dapat membantu kemajuan literasi nusantara.

Sebagai bagian dari inspirasi di masa pandemi, saya sisipkan puisi berikut ini. 

SAJAK CORONA 

 

Saat engkau hadir ….

Keramaian menjelma menjadi kesunyian

Hiruk pikuk dunia seolah senyap

Suara bising mesin seolah bungkam

Kepulan asap di jalanan seolah sirna

 

Saat logika belum genap berpikir

Nada sendu terlantun dalam kesunyian

Deru ambulan menggema meski sekejap

Lampu sirine menjadi penghias menuju makam

Tangisan menjadi musik pengiringnya

 

Teriakan tanah pemakaman keras terdengar

Tak kuasa menahan beban

Lambaian pencakar langit meminta belas kasihan

Tak kuasa menahan kesunyian

Detak urat nadi ekonomi lemah lunglai mati suri

Tak kuasa menahan resesi

 

 Saat engkau hadir ….

Yang dekat tak kuasa menyekat

Yang bersahabat tak kuasa mendekat

Yang kuat tak kuasa menggeliat

Yang hebat tak kuasa berbuat

 

Hanya terbayang takdir

Yang sehat bersandar iman dan imun kuat

Yang dirawat memandang yang berhazmat

Yang pergi berharap dilepas dengan hormat

Yang tinggal meratap penuh khidmat

 

Engkau runtuhkan tembok kesombongan

Engkau padamkan api keegoisan

Engkau sibakkan tabir kelemahan

Engkau tunjukkan jalan kebenaran

Engkau pahamkan hakikat makna kehidupan

Engkau kembalikan jati diri sebagai insan

  

27 Februari 2021

Sang Pena Lereng Lawu

Minggu, 20 Desember 2020

The Power of Pada Suatu Hari

 


Sebelum memulai materi, baru saya sadari bahwa dalam empat malam terakhir saya tampil di kelas MBI. Selasa, 1 Desember saya menyajikan materi Menulis itu Nikmat. Lanjut hari Kamis, 3 Desember 2020 saya didapuk menjadi moderator mendampingi Pak Nafrizal Eka Putra, M.Pd.  Jum'at malam, 4 Desember 2020, saya tampil lagi sebagai narasumber dengan tema 'The Power of "Pada suatu hari". Bingung juga...kok kayak acara One Man Show-nya Mas Thukul ya...padahal banyak nara sumber hebat di kelas MBI lho...

Yah...begitulah takdir kehidupan yang harus berjalan. Capek???? Alhamdulillah tak terasa sedikitpun rasa capek...Justru sebaliknya, sangat senang karena bisa berbagi pengalaman dalam menulis. Meski mempersiapkan materi presentasinya harus berpacu dengan waktu di tengah himpitan kesibukan yang tak henti.

Membaca judul tema kesannya...wouw...ngeri....bingung.... Lho, kenapa emang.... ????

Judul tema-nya sekilas kereen.....! Sok gaya ke-Inggris-inggrisan gitu loh .... !!!

Tapi ngeri juga....kok "Pada suatu hari" ada powernya....jangan-jangan kiamat nih, seremmmm...!!!

Akhirnya bingung....emang "Pada suatu hari" ada kekuatan apaan...?

Tema itu dipilih untuk menjawab rasa penasaran sahabat MBI, saat saya menyajikan teman Menulis itu Nikmat. Pada salah satu materi saya menjelaskan jurus jitu menulis mudah.

dok. pribadi

Jurus pertama itulah yang membuat orang penasaran, yaitu "Pada suatu hari". Ah...aneh.... jurus apaan tuh...??? Ya emang aneh....kalau tak paham jadinya malah bingung. Ide jurus itu memang didasari pada pengalaman pada masa sekolah dulu. Tujuannya agar sahabat MBI segera terbangun dari mimpi dengan mulai menulis. Teknik menulis itu tak sulit, yaitu :

"Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir." (James Whitfield Ellison)

Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya mikir.Tapi tetep mikr juga ah...mikirnya kalau kunci untuk mengawali sebuah tulisan apa??? Makanya biar tak bingung pakai jurus di atas tuh...!!!

 

Ada apa dengan "Pada suatu hari"?

Saya bawa sahabat MBI untuk mengenang kegiatan pembelajaran waktu di sekolah dasar. Masih ingat saat mengarang di Sekolah Dasar....???? Saat mulai membuat karangan, biasanya kita menggunakan kalimat "Pada suatu hari" ....." Bermula dari kalimat itulah ide di kepala muncul, yang kadang tak disadari. Untaian kata demi kata seperti kereta api....sambung menyambung menjadi tulisan... Semua tugas dari guru pun selesai...hingga kita lulus SD...SMP...SMA...

Kini setelah sekian puluh tahun, kita bilang "Aku bingung...ndak bisa nulis...!!!" Lho....emang waktu mengarang di sekolah itu bukan kegiatan menulis...??? Itu menulissss...... Lantas kalau itu menulis, kenapa sekarang bilang tidak bisa menulis? Bisa jadi penyebabnya kita lupa sejarah bahwa kita dulu pernah menulis. Dulu enjoay dan percaya diri pakai "Pada suatu hari" di awal tulisan, namun sekarang mungkin sudah lupa atau malu karena sekilas "Remeh banget, gue khan orang tua....masak pake kalimatnya anak-anak...ogah...!!!"

Belum puas juga....??? Masih ingat saat guru mendongeng....???? Di awal cerita bapak atau ibu guru biasanya juga memulai pembicaraan dengan "Pada suatu hari". Bahkan Buku dongeng berbahasa Inggris pun banyak yang diawali dengan kata "Once upon a time", "One day" atau yang intinya mengarah pada terminologi waktu.

Ndak sadar khan...kita semua ini sebenarnya adalah penulis... Kita ini penulis dan kemampuan menulis kita sudah diasah semenjak sekolah dasar.

dok. pribadi

 

Kenapa butuh "Pada suatu hari"?

Simak gambar berikut ini ya...!!!

dok. pribadi

 

Ibarat ide dengan menulis itu adalah air yang mengalir dalam keran. Saya yakin, sejuta ide ada di kepala kita masing-masing. Tapi karena terlalu banyak mikir, ide-ide itu menguap begitu saja. Apa sih yang dipikirin??? Biasanya mikir mau nulis apa, mulai dari mana, kata apa... Nah...biar ndak buntu atau tersumbat aliran idenya...makanya penutup ide yang namanya kebuntuan di puter...caranya mengawali tulisan dengan "Pada suatu hari".

Yakin dah...pasti bisa nulis meski awalnya hanya satu kalimat... Kalau satu kalimat terbentuk...maka ide akan mengalir untuk membuat kalimat lanjutannya... Misalnya : "Pada suatu hari aku berangkat ke kantor .......". Masak ndak bisa menemukan ide dengan kalimat itu....??? Ya tinggal lanjutin aja dengan kantornya dimana, jam berapa berangkatnya, sama siapa, naik apa, lewat mana, selama perjalanan liat apa, kondisi jalan bagaimana, sampai tujuan jam berapa,...... Nah..mengalir khan...

dok. pribadi

Intinya penggunaan "Pada suatu hari" di awal tulisan, merupakan teknik untuk memecah kebuntuan dalam mengawali tulisan. Sulitnya menemukan kata pertama memang menjadi syndrom yang banyak dialami penulis pemula. Jika kebuntuan bisa terpecahkan maka ide dapat dituliskan dengan lancar. Selanjutnya terserah Anda....kata iklan demikian... Jadi sudah mulai paham khan...Ternyata kekuatan "Pada suatu hari" cukup signifikan ya...!!!

 

Apa hebatnya "Pada suatu hari"?

Sesuatu yang kecil dan dianggap remeh bisa jadi memiliki manfaat yang besar atau justru sebaliknya. Demikian juga dengan kalimat "Pada suatu hari" yang kelihatannya remeh banget....kekanakan banget...gampangan banget.... Eee...punya kehebatan yang luar biasa, yaitu bisa membuka keran untuk mulai menulis, bisa jadi buku, puisi, lagu, dongeng. Orang bingung pun dengan menggunakan "Pada suatu hari" pun akan bisa menulis. Ndak percaya??? Simak berikut ini!!

dok. pribadi

Percaya khan.... Selanjutnya bisa jadi puisi seperti karya Sapardi Djoko Damono berjudul "Pada Suatu Hari Nanti" berikut ini !

dok. pribadi

Saya juga buat puisi dengan makna power "Pada suatu hari" dengan judul "Kebuntuan"

dok. pribadi

Selengkapnya dapat dibaca di sini.

Bisa jadi bagian lirik lagu seperti lagu berjudul "Dia" yang dinyanyikan sekaligus dipopulerkan Anji berikut ini !

dok. pribadi

Bisa jadi buku berjudul "Pada Suatu Hari -- Malam Wabah" yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono berikut ini !

dok. pribadi

Bisa jadi dongeng seperti dongeng "Tupai dan Kelinci Pemalas" berikut ini !

dok. pribadi

Berhentikah hanya pada kalimat "Pada suatu hari"? Tentu tidak, Setelah "Pada suatu hari" maka perlu pemahaman baiknya menulis apa... Jawabannya tulis saja isi hati. Apa yang dikata hati, tuliskan...tuliskan...tuliskan...itu sebagai langkah awal untuk memulai menulis.

"Pada suatu hari" pun jika sudah terbiasa menulis bisa diikuti kata-kata yang bervariasi dengan rasa yang berbeda-beda .....

"Pada suatu hari", saat sang surya mulai merona....

"Pada suatu hari", sepuluh tahun yang lalu ....

"Pada suatu hari", dikala ayam jantan berkokok ....

"Pada suatu hari", bersamaan dengan datangnya ......

"Pada suatu hari", di persimpangan jalan desa ....

"Pada suatu hari", saat aku menemani ayah ....

Bisa juga variasinya terletak pada kalimat "Pada suatu hari" contohnya

Di suatu hari ....

Saat matahari tenggelam ....

Saat hujan rintik-rintik ...

Saat aku duduk di SD ....

Saat aku masih remaja ....

Suatu hari, di bulan Desember sepuluh tahun lalu ...

Suatu ketika, aku berjumpa dengan ....

Suatu masa, di mana belum ada yang punya ....

Pada suatu pagi .....

Jadi banyak variasi yang bisa dijadikan alternatif. Intinya bahwa "Pada suatu hari" hanyalah kalimat pemancing, yang tidak berarti apa-apa saat kita tidak segera menulis....

Emang hanya "Pada suatu hari" aja kata pancingannya? Masih banyak kata pancingan untuk mengawali menulis. Selain terminology waktu, juga bisa menggunakan terminology tempat, obyek kebendaan, subjek misalnya: aku dan teman-teman, ibuku, ayahku, adikku. Pokoknya banyak teknik pancingannya. Tinggal kita mood untuk menulis itu kita mulai dari mana. Namun yang saya rasa mudah untuk dikembangkan adalah "Pada suatu hari".

 

Coretan Pena Lereng Lawu

04 Desember 2020

 

Diposting pertama kali dan dapat dibaca di :

https://www.kompasiana.com/ekodaryono/5fca863c8ede48686039dbd2/the-power-of-pada-suatu-hari?page=all

Rabu, 09 Desember 2020

Guru ngeBlog

 


Kelas MBI tak terasa sudah memasuki tengah pekan minggu kedua Desember 2020. Kelas yang memiliki motto “MBI Tanpa Henti Menginspirasi” menampilkan tema yang menarik yakni tentang blog. Hadir sebagai narasumber adalah Bapak Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd. atau biasa dipanggil Pak Brian, seorang penulis, editor, kurator, pegiat literasi nasional sekaligus tenaga pendidik. 

Pak Brian lahir di Jakarta, 30 Juni 1992. Kini tinggal di Bekasi dan berprofesi sebagai guru SD tepatnya di SD Negeri 01 Sumur Batu, Kebayoran, Jakarta Pusat. Memulai aktivitas menulis ketika blog pertamanya (www.praszetyawan.com) dibuat pada 2009. Profilnya pernah dimuat dalam buku berjudul "Majors For The Future" dan selengkapnya dapat dibaca di http://www.praszetyawan.com/p/profil.html

Pak Brian hadir ditemani dengan moderator yang paling aktif di kelas MBI yakni Bapak Sahat Serasi Naibaho, S.Si. Gr, yang juga seorang penulis, editor, kurator, pegiat literasi sekaligus tenaga pendidik di SMP Negeru 2 Dolog Sigumpolon Sumatera Utara. Pak Sahat sendiri sudah menghasilkan banyak karya semenjak bergabung dengan komunitas menulis melalui WA Group.

Pertemuan kali ini serasa spesial karena materinya lain dari biasanya. Jika narasumber sebelumnya lebih teknis ke bagaimana menulis, kali ini Pak Brian akan membawa peserta bagaimana menulis di blog dan apa manfaatnya. Mengawali pertemuan, Pak Sahat mengajak peserta berdo’a yang dipimpin oleh Pak Rahmadi, S.Ag., M.Pd.I, seorang tenaga pendidik dari Kalimantan Selatan.

Pak Sahat mengingatkan kembali aturan kelas yakni ada dua sesi kegiatan yang mana pada sesi 1 adalah pemaparan narasumber dan sesi ke 2 tanya jawab dengan narasumber yang dimoderasi Pak Sahat. Menyambut kehadiran narasumber, ditampilkan Tari Ondel-Ondel dari Jakarta. 

Selesai penyambutan, Pak Sahat mempersilahkan Pak Brian menyampaikan materinya tentang Blog bagi Guru Era 4.0. Mengawali pembicaraan, Pak Brian akan sharing tentang mulai menulis di blog hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku. Semua yang disampaikan Pak Brian berdasarkan pengalaman yang pernah dilaluinya.

Pak Brian membuat blog bukan karena suka menulis. Wah…aneh bukan? Biasanya orang membuat blog karena dia suka menulis. Awal membuat blog saat Pak Brian duduk di bangku kelas 3 SMA, pertengahan tahun 2009 karena ajakan teman. Saat itu beliau tidak tahu apa manfaatnya blog, sehingga sempat dibiarkan selama 5 bulan. Hingga akhirnya pada Desember 2009 beliau aktif ngeblog kembali.

Keaktifan ngeblog itupun juga karena ketidaksengajaan. Pak Brian nyasar ke blog seseorang dan dari blog itulah menjadi paham dan tertarik terhadap blog. Akhirnya beliau mulai memposting di blog hingga berlanjut bertahun-tahun menulis diblog. Barulah pada tahun 2013, beliau menyadari asyiknya menulis. Unik ya sobat MBI… dari kurang tertarik dengan menulis menjadi tertarik berkat ngeblog. Oh ya…perlu diketahui bahwa Pak Brian aktif ngeblog di blogspot karena menurut beliau lebih menguasai dan lebih cocok untuk blogger pemula.

Apa sih blog itu?

Menurut Raimundus Brian Prasetyawan (2020:7), blog berasal dari kata Web Blog. Web artinya internet sedangkan blog mempunyai makna catatan. Jadi makna harafiah blog adalah catatan yang ditulis oleh pemiliknya dan dipublikasikan di internet. Jadi intinya blog itu seperti buku untuk mencatat namun berada dalam sebuah website.

Blog (dari kata web log) adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web. Tulisan-tulisan ini sering kali dimuat dalam urutan isi terbaru dahulu sebelum diikuti isi yang lebih lama, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut (https://id.wikipedia.org/wiki/Blog).

Blogger atau wordpress?

Blogger atau wordpress sebenarnya sama, sama-sama blog, mudah digunakan dan gratis. Interest-nya tergantung pada blog mana yang pertama kali dikenal. Ada yang nyaman menggunakan blogspot ada juga yang senang mengunakan wordpress. Memang secara umum blogspot lebih cocok untuk pemula sedangkan wordpress cocok untuk blogger yang mau upgrade dan lebih serius ngeblog (berdasarkan pengalaman Pak Brian)

Kenapa menulis di blog?

1.  Fokus pada karya tulis sebagai wadah latihan menulis, mencurahkan isi pikiran dan sharing pengalaman.

2.     Dapat dibaca banyak orang, bahkan yang tidak dikenal sekalipun sehingga bermanfaat untuk orang lain.

3.     Menulis di blog dapat menjaga konsistensi untuk menulis.

Apa saja fitur blog?

Ada beberapa fitur di blog yang membuat kita tetap semangat menulis. Fitur tersebut adalah :

1.     Fitur untuk Menulis

      Blog menyediakan halaman untuk mencurahkan tulisan dan mempostingnya sehingga dapat dibaca oleh banyak orang.

2.     Statistik Jumlah Pengunjung

      Blog dapat menampilkan jumlah pengunjung yang membaca tulisan kita. Tentu membuat semangat ketika jumlah pengunjung terus meningkat dan menjadi motivasi tersendiri untuk menulis, karena ingin tulisan kita dibaca banyak orang.

3.     Kolom komentar

   Fitur komentar memungkinkan kita berinteraksi dengan pembaca postingan blog. Hal yang menyenangkan ketika tulisan kita dikomentari orang lain. Tentu saja komentar yang disampaikan harus sesuai dengan tulisan kita, tidak hanya "bagus", "keren", atau "mantap". Jika ada kritik atau saran justru lebih bagus sehingga menjadi sarana untuk perbaikan tulisan kita ke depannya. Menjadi sebuah apresiasi tersendiri dan menambah motivasi.

4.     Fitur Label

      Di blog juga ada fitur label (kategori) yang berfungsi untuk mengelompokkan tulisan berdasarkan tema tertentu

 

Pada dasarnya blog mudah membuat dan menggunakannya yang sulit adalah mempertahankan konsistensi menulis di blog. Kadang di awal-awal semangat, namun beberapa tahun kemudian mulai menghilang

Bagaimana cara membuat blog?

Bagi yang mau membuat blog, caranya dapat dilihat di https://www.praszetyawan.com/2020/04/cara-membuat-blog-di-bloggercom-terbaru.html Melalui tutorial tersebut, kita dapat mempraktikkannya sendiri. Sebagai ajang penambah semangat yakni bergabung dengan komunitas seperti MBI ini karena bisa saling berbagi dan mensupport.

Bagaimana membukukan tulisan yang ada di blog ?

Kalau tulisan di blog sudah banyak, tentu bisa dibukukan. Dalam hal inilah fitur Label pada blog menjadi penting. Misalnya postingan-postingan yang masuk di kategori best practice, nantinya bisa dibukukan menjadi buku best practice. Lebih lengkap cara membukukan tulisan di blog dapat dibaca pada https://www.praszetyawan.com/2020/06/membukukan-tulisan-di-blog.html

Karya Pak Brian

Buku pertama karya Pak Brian yang berisi tutorial membuat dan menggunakan blog dan lebih kepada penggunaan blog sebagai media pembelajaran daring. Meski demikian bisa juga untuk umum karena memang ada bagian-bagian yang bisa dipelajari untuk umum.

Buku kedua berisi kumpulan artikel yang berasal dari blog praszetyawan.com dan blog gurusiana. Pak Brian memilah yang sesuai dengan tema buku yaitu literasi. Sebagian lainnya merupakan tulisan baru yang belum pernah diposting ke blog. Berkat fitur label dalam blog maka begitu mudah untuk memilah tema tulisan.

Buku solo ketiga Pak Brian berjudul “Menerjang Tantangan Menulis Setiap Hari” berisi tentang best practice, aktivitas di sekolah, dan opini pendidikan. Tulisan-tulisan itu beliau buat ketika mengikuti program tantangan menulis setiap hari yang diadakan gurusiana.

Meski masih baru di dunia menulis karena buku pertama terbit Januari 2020, namun sudah banyak karya yang dihasilkan.  Pak Brian jujur mengakui bahwa masih harus banyak belajar dalam menulis khususnya dari segi penulisan juga masih perlu ditingkatkan.

Simak resep menulisnya Pak Brian berikut ini :

“Saya menulis ya menulis saja. Mencurahkan isi pikiran. Jadi bisa dibilang tulisan saya seadanya. Kita tidak perlu menunggu ide/kejadian hebat untuk bisa menulis. Saya memiliki prinsip, hal biasa yang kita lakukan/alami bisa jadi dianggap luar biasa bagi orang lain. Maka hal yang paling mudah ditulis adalah pengalaman/aktivitas sehari-hari di rumah atau di tempat kerja. Apalagi jika sebagai guru, tentu punya banyak cerita.”

Kesimpulan yang disampaikan Pak Brian sebelum mengakhiri pertemuan bahwa : "Membuat dan menggunakan blog itu mudah. Yang sulit adalah konsistensi menulisnya. Kemudian tulisan yang kita anggap biasa, bisa jadi luar biasa bagi orang lain. Maka percaya diri saja pada tulisan kita sendiri."

Pertemuan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin Pak Rahmadi dari Kalimantan Selatan.

Akhirnya selamat ngeblog dan jemputlah mimpimu menjadi penulis yang mendunia.