Rabu, 02 September 2020

Menempa Mental Baja

MENEMPA MENTAL BAJA DI ALASKA
 Penulis : Eko Daryono

"Karakter tidak dapat dikembangkan dalam kemudahan dan ketenangan. Hanya melalui pengalaman pencobaan dan penderitaan, jiwa dapat diperkuat, visi menjadi jelas, ambisi terinspirasi, dan kesuksesan dicapai." - Helen Keller.

Nukilan kata motivasi di atas rasanya identik dengan apa yang pernah saya alami. Ternyata tidak semua penderitaan membawa kesengsaraan. Apa yang saya rasakan justru sengsara itu membawa nikmat. Nikmat yang saya dapat adalah terbentuknya karakter bermental baja dan selalu berupaya untuk mengatasi segala persoalan. Alhamdulillah saya dapat berperan sebagai solution maker di berbagai posisi yang saya emban. Berkat penanaman karakter dari orang tua dan tempaan keadaan masa lalu.
Kisah ini saya ceritakan berdasarkan apa yang saya ingat sewaktu duduk di kelas 3 sekolah dasar atau saat berusia 10 tahun. Karena tak semua kisah di waktu kecil dapat saya ingat kembali dengan jelas. Saya lahir 45 tahun yang lalu, di sebuah dusun kecil yang masih jarang penduduknya. Dusun Ngasem, itulah nama dusun kelahiran saya. Letaknya kurang lebih 30 kilometer dari kota Kabupaten Karanganyar dan 3 kilometer dari kota Kecamatan Kerjo. Sebuah dusun yang sangat terisolir dari dunia luar karena letaknya di tengah hutan karet sehingga sering disebut kampung alaska atau kampung di tengah alas (hutan) karet.
Dusun Ngasem dapat dikatakan lebih dari tertinggal pada tahun 1980-an. Infrastruktur jalan yang jauh dari kata layak, karena hanya beralaskan tanah dan harus melewati perkebunan karet milik PTP VIII Kerjo Arum. Pada saat musim penghujan, jalan tidak dapat dilewati kendaraan. Selain banyak kubangan air, jalan juga licin karena bertekstur tanah liat. Waktu itu di dusun saya hanya segelintir orang yang memiliki kendaraan bermotor. Seingat saya, baru Pak Sutris (pegawai pos) dan Pak Jafar (pegawai bank) yang memiliki sepeda motor. Orang dusun lebih banyak beraktifitas dengan berjalan kaki betapapun jauhnya. Bahkan untuk pergi ke pasar terdekat, Pasar Batujamus, yang jaraknya 7 kilometer pun juga berjalan kaki.
Keadaan tersebut diperparah dengan ketiadaan aliran listrik, sehingga masyarakat hanya mengandalkan lampu minyak atau lampu teplok sebagai penerangan di waktu malam. Setiap malam saya belajar bersama adik-adik saya dibawah cahaya temaram lampu dinding. Beruntungnya pada masa itu masih jarang masyarakat yang menggunakan alat elektronik menggunakan listrik. Alat komunikasi yang dimiliki masyarakat Dusun Ngasem umumnya adalah radio transistor ditenagai baterai. Televisi menjadi barang yang sangat ekslusif karena satu kampung hanya Pak Mo yang memilikinya. Itupun hanya bisa ditonton seminggu sekali saat malam Minggu karena mengandalkan stroom accu di kota.
Kondisi dusun juga tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi warga yang hampir 97% berada di bawah garis kemiskinan. Masyarakat hanya dapat mengandalkan sektor pertanian, tanaman palawija di tanah tegalan, serta menjadi buruh di perkebunan karet. Hanya segelintir orang yang dapat mengenyam pekerjaan formal. Termasuk Bapak saya yang berprofesi sebagai guru. Namun apalah daya, gaji guru tahun 1970-an jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama satu bulan. Tak heran, Bapak harus banting tulang selepas mengajar di sekolah. Itulah mengapa Kakek dan Bapak mengatakan jangan pernah bercita-cita menjadi guru, jadilah pegawai bank. Kata-kata itu masih terngiang di telinga saya hingga sekarang.
Iseng-iseng saya pernah membuka file berkas Bapak di almari yang sudah keropos dimakan teter (seranggga pemakan kayu). Betapa terkejutnya saat saya tahu ternyata gaji Bapak hanya dua belas ribu rupiah untuk menghidupi lima orang anggota keluarga. Tak terasa menetes air mata saya, ternyata Bapak pantang menyerah agar mampu menyekolahkan kami bertiga hingga sarjana. Meskipun hingga pensiun empat belas tahun yang lalu, Bapak juga masih berhutang di bank untuk membiayai kami bertiga.
Beratnya kehidupan 35 tahun lalu masih terbayang jelas di kelompak mata saya. Saya sekeluarga tinggal di rumah berukuran enam kali lima meter persegi dengan dinding dari anyaman bambu dan menumpang di tanah milik orang. Hari-hari saya lalui dengan penderitaan yang mungkin tidak dirasakan anak zaman sekarang, apalagi sekelas anak seorang guru. Bangun sebelum waktu subuh, mengisi bak mandi, mengisi tempayan air minum, mencari rumput, menggembala kambing adalah aktivitas rutin yang menemani saya mengiring berputarnya waktu. Bapak adalah seorang pendidik yang keras baik di sekolah maupu di rumah. Mas Agung, mantan murid Bapak pernah bercerita kalau Bapak saya adalah guru killer kalau istilah sekarang.
Setiap pukul dua dini hari, ibu sudah membangunkan saya untuk menemaninya mengambil air di sumber mata air satu-satunya di kampung saya. Jarak tempuh pulang pergi sekitar lima kilometer. Berbekal dua jerigen air bervolume tujuh belas literan, saya memikul air bersih untuk mengisi dua tempayan air besar di dapur. Maklum saat itu belum ada layanan air bersih. Meskipun ada sumur di sebelah barat rumah, namun airnya tidak layak diminum karena berwarna coklat. Setiap hari saya harus bolak-balik sebanyak dua kali di waktu pagi dan dua kali di waktu sore ke mata air itu. Meskipun berjalan hampir dua puluh kilometer setiap hari, tetapi ringan terasa karena banyak teman yang beraktifitas serupa.
Selepas mengisi tempayan air, tugas selanjutnya menimba air untuk memenuhi bak mandi rumah. Sekilas pekerjaan itu mudah, tapi kedalaman sumur di rumah saya tiga puluh tiga meter. Setidaknya saya harus menimba sepuluh kali untuk dapat memenuhi bak mandi setiap pagi dan sore. Capek memang, namun sedikitpun tak terbersit perasaan mengeluh. Mungkin karena usia saya masih sekolah dasar. Pikiran yang terlintas hanyalah ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa segera ke sekolah jika pagi atau bermain jika sore hari.
Setiap pagi jam setengah tujuh, saya harus bersiap berangkat sekolah. Kebetulan sekolah saya dekat, letaknya hanya di seberang jalan depan rumah. Waktu sekolah pun dengan kondisi seadanya tanpa memakai alas kaki. Saya masih ingat hingga lulus SD tidak pernah memakai sepatu. Fasilitas sekolahpun juga sangat terbatas. Meja dan kursi panjang ditempati oleh empat siswa sekaligus. Papan tulis dari papan kayu bercat hitam dengan kapur sebagai alat tulisnya. Buku pelajaran pun diberikan turun temurun dari kakak angkatan sebelumnya. Baju seragam sekolah pun hanya tiga pasang yang dipakai dua hari sekali.
Guru dalam mengajar tidaklah seramah guru model era milenial. Karakter mendidik dengan kedisiplinan tingkat tinggi selalu saya rasakan hingga lulus sekolah dasar. Saya masih ingat dan terkenang dengan dua orang guru saya yang sudah almarhum yaitu Pak Kas (kepala sekolah) dan Pak Di (wali kelas enam). Sebelum masuk kelas, satu persatu harus dapat menjawab soal pengurangan, penjumlahan, perkalian dan pembagian. Apabila tidak mampu menjawab maka tidak boleh masuk kelas bahkan hingga pelajaran selesai.
Pak Di khususnya selalu mengajar dengan sangat disiplin. Saat pelajaran mencongak, kedua tangan siswa harus diletakkan di atas meja. Apabila tidak dapat menjawab maka pemukul rotan akan melayang ke tangan. Kondisi tersebut berlangsung setiap pembelajaran Matematika. Meskipun demikian, tidak ada rasa takut ataupun dendam baik kepada Pak Kas maupun Pak Di. Saat beliau datang setiap pagi, tetap saja kami berebut membawakan tas beliau berdua ke dalam kantor. Entah magis apa yang membuat kami selalu menaruh rasa hormat yang begitu mendalam kepada beliau berdua.
Jangan pernah membandingkan dengan kondisi sekarang yang apa-apa sedikit anak mengeluh diperlakukan guru dan bahkan orang tua mengkasuskan guru. Kerasnya pendidikan pada masa lalu bukan dimaksudkan untuk menyiksa atau membuat siswa menderita, namun membentuk karakter agar siswa memiliki mental baja serta memiliki daya ingat yang baik. Apalagi pendidikan menjadi barang yang tergolong mahal karena tidak semua anak bisa merasakan bangku sekolah.
Sehabis maka siang sepulang sekolah jam satu siang, saya berangkat menggembala kambing bersama teman sepermainan. Sabit dan karung bekas pupuk selalu saya bahwa untuk mencari rumput. Saat kambing makan rumput di padang rumput, saya dan teman-teman mencari rumput di pematang sawah. Waktu menggembala kambing dan mencari rumput pun terbatas hanya sampai jam setengah empat sore. Oleh karena itu, saya benar-benar memanfaatkan waktu sekalian untuk bermain bersama teman-teman sebaya.
Kegiatan harian begitu ketat dijadwal oleh Bapak dan tidak ada toleransi keterlambatan. Apabila terlambat maka konsekuensinya mendapat hukuman pukul pantat dengan rotan atau tidak mendapat jatah makan. Maklum saat itu nasi menjadi barang yang mahal. Nasi jagung dan tiwul (nasi singkong) adalah makanan sehari-hari kami sekeluarga. Meskipun menggarap sebidang tanah sawah punya Kakek, namun hasil panen padi tidak mencukupi untuk dimakan. Penyebabnya sering gagal panen akibat serangan hama tikus dan wereng. Tak jarang pula dusun saya mengalami paceklik sehingga masyarakat harus makan seadanya.
Waktu setengah empat hingga menjelang magrib saya gunakan untuk mengambil air bersih dan memenuhi bak mandi seperti aktivitas di pagi hari. Selepas magrib, Bapak sudah bersiap di meja belajar membimbing saya belajar. Bapak paling keras mengajarkan matematika. Bapak mengatakan yen kowe pinter matematika, kowe ora bakal diapusi uwong (kalau kamu pandai matematika, kamu tidak akan ditipu orang). Saya sering menangis karena kerasnya Bapak mengajar. Saat kondisi itulah, Ibu muncul sebagai pahlawan yang membela dan menenangkan hati saya. Memang efek positif yang saya terima dari bimbingan Bapak. Semenjak kelas tiga SD hingga kelas tiga SMP, saya selalu menduduki rangking satu di kelas. Saat penerimaan siswa SMA pun, saya berhasil masuk sekolah paling favorit di Karesidenan Surakarta pada saat itu.
Rasa lelah, capek, kehilangan kebahagiaan masa anak-anak, penderitaan hidup yang saya rasakan hingga kelas tiga SMP adalah pengorbanan luar biasa yang telah saya lalui. Mengapa hanya sampai SMP, karena semenjak SMA hingga menikah saya selalu berada di perantauan. Nenek To dan Nenek Emo, saksi hidup atas apa yang saya alami, selalu meneteskan air mata saat bertemu dengan saya hingga sekarang. Mereka tidak pernah membayangkan saya mampu bertahan hingga bisa menjadi seperti sekarang. Mereka begitu terharu dan berulang kali mengatakan bocah ki yen manut bakal nemoni dalan padhang uripe (anak kalau penurut akan menemukan jalan sukses hidupnya).
Semua yang saya rasakan dahulu tak satupun yang menumbuhkan rasa dendam. Saya begitu hormat dengan Bapak yang kini sudah memasuki 74 tahun dan Ibu yang sudah memasuki usia 70 tahun. Selalu tersemat senyum kebanggaan saat melihat anak-anaknya telah berhasil berkat tempaan didikan mereka. Tak jarang Bapak bercerita saat bertemu dengan teman-teman sebayanya sering ditanya piye carane anak-anakmu iso sukses kabeh (bagaimana caranya anak-anakmu dapat sukses semua). Saya merasakan manfaat yang mendalam dari apa yang mereka ajarkan pada masa lalu.
Kini kehidupan di dusun kelahiran saya sudah berubah drastis ibarat membalik dunia. Sejak masuknya listrik tahun 1994 dan pengerasan jalan tahun 2000, dusun saya mulai mengalami modernisasi. Kondisi sosial ekonomi naik strata dari miskin menjadi menengah ke atas. Masyarakat banyak yang merantau baik di dalam maupun luar negeri serta bekerja di sektor formal. Mulai banyak anak yang mengenyam jenjang perguruan tinggi. Tahun 2010 boleh dibilang sebagai tahun keemasan, karena Pemerintah Kabupaten Karanganyar membuka akses jalan tembus yang menghubungkan dua Kecamatan berbatasan, sehingga jalur transportasi semakin ramai menuju lokasi wisata di Lereng Utara Gunung Lawu.
Kondisi memang telah berubah drastis. Gaya mendidik maupun pengalaman hidup yang dulu saya alami mungkin tidak lagi dijumpai oleh anak-anak di dusun saya sekarang. Namun saya menaruh harapan besar bahwa apapun gayanya, menempa mental baja pada anak merupakan sesuatu yang harus terus ditanamkan. Anak-anak pada masa mendatang akan menghadapi kondisi kehidupan yang lebih keras dari apa yang saya alami dahulu.
Setelah meresapi dan merenungi masa lalu, saya banyak mendapat hikmah. Hikmah yang saya petik dari pengalaman ini bahwa jangan pernah menyerah dengan keadaan. Justru dengan bertahan dalam penderitaan akan menempa mental petarung dalam mengarungi hidup. Hidup ini keras seperti besi maka hadapilah dengan mental sekeras baja. Karenanya teruslah belajar dan belajar dari pengalaman hidup yang kita jalani. 

Lereng Lawu, 25 Agustus 2020.

Profil Penulis


Eko Daryono, S.Kom lahir di Karanganyar, 20 Desember 1975. Profesi sebagai guru TIK di SMP Negeri 3 Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Mulai menulis sejak tahun 1999 dan ngeBlog mulai tahun 2013. Banyak menulis buku tentang sejarah nasional, budaya lokal, karya ilmiah bidang pendidikan, jurnal dan buku antologi. No HP/WA: 088220032204, email: masdaryono1275@gmail.com, blog: maseko1275.blogspot.com, facebook: Eko Daryono, instagram: masdaryono1275, twitter : @Maseko06550776

Previous Post
Next Post

6 komentar:

  1. Mntpp bnr2 mnginspirasi bpk eko..tooppp

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Nengah... Pak Nengah juga sangat luar biasa berprestasi

      Hapus
  2. Mas EKO, MENGINSPIRASI SAYA KELUAR DARI MULUT SINGA KEMISKINAN VS KALA INI MENJADI KEPALA SEKOLAH. BAGAIMANA HAL INI TETJADI IKUTILAH KISAHNYA BERSAMA PENUTUR SIMON ANUNU

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu kisahnya Bapak Simon... Salam kenal dan salam literasi

      Hapus
  3. Kisah yang Luar biasa menginspirasi.

    Kalau sempat, mampirlah di teaching-is-touching.blogspot.com

    Matur suwun.Gb!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bapak atas apresiasinya....
      Saya sudah berkunjung ke blog Bapak. Ternyata banyak sekali tulisan yang menginspirasi...Salut

      Hapus