Jumat, 09 Juli 2021

The Power of Penulis Surabaya

 THE POWER OF PADA SUATU HARI

BERSAMA KOMUNITAS PENULIS SURABAYA

 

Seminggu di penghujung akhir April hingga seminggu di penghujung awal Juni menjadi waktu yang paling sibuk bagi saya. Betapa tidak. Daftar kegiatan yang panjangnya seperti kereta senja harus saya jalani. Mulai dari olah nilai kelulusan, pelepasan virtual kelas IX, penilaian akhir semester, sosialisasi hingga proses penerimaan peserta didik baru secara online di tengah pandemi. Belum lagi tugas sebagai “staf ahli” dalam pengelolaan GTK di sekolah, penilaian e-kinerja pegawai, dapodik, dan sejumlah agenda online lainnya.  

Padatnya kegiatan tersebut membuat saya nyaris tak merasakan jika sedang berjuang untuk sembuh dari sakit stroke. Seolah ada energi luar biasa yang membuat tubuh saya menjelma menjadi superman. Kegiatan demi kegiatan pun tanpa terasa dapat terselesaikan dengan baik. Rasa tanggung jawab untuk mengelola kegiatan di sekolah menjadi motivasi yang tak terhingga. Terselesaikannya semua kegiatan sekolah memang membutuhkan pengorbanan. Selain tenaga dan pikiran, waktu santai yang biasa saya nikmati pun seolah berlalu. Memegang benda ajaib bernama handphone pun nyaris tak sempat. Bahkan WA pun saya nonaktifkan agar notifikasinya tidak mengganggu selama mengerjakan semua kegiatan.

Barulah tanggal 6 Juni 2021, si mungil handphone kembali aktif. Bisa dibayangkan betapa bejibunnya pesan whatsapp yang tertahan hampir selama dua minggu. Setelah scroll satu per satu pesan yang masuk, mata tertuju pada pesan yang selalu saya anggap istimewa. Pesan yang selalu saya rindukan karena selalu penuh makna dan mutiara. Pesan dari Sang Pendekar Literasi NTT, Bunda Dra. Lilis Herpianti Sutiko, SH atau biasa saya panggil dengan Bunda Lilis.

Pesan itu telah masuk tanggal 2 Juli 2021 pukul 06.48 WIB. Saya jadi membayangkan betapa berharapnya Bunda Lilis agar pesan segera dibaca. Pesan yang beberapa hari terlihat hanya centang satu. Padahal inti pesannya sangat penting, yakni meminta saya menjadi nara sumber belajar menulis online.

“Sanget nyuwun tolong narsum anak-anak SD”
“The Power Of Pada Suatu Hari”
“Anak-anaknya Dosen UNESA mau nulis buku antologi”
“Sama Menulis itu Nikmat”
“Jika bersedia akan saya masukkan group”

 Begitulah untaian chat dari Bunda Lilis yang baru saya baca. Sebenarnya sudah beberapa kali Bunda Lilis meminta saya menjadi nara sumber. Namun kali ini mungkin yang paling spesial karena audiencenya adalah anak-anak setingkat SD. Mereka adalah anak-anak dari para dosen UNESA. Saya diminta menyajikan materi The Power of Pada Suatu Hari dan Menulis Itu Nikmat.

Saya gamang memutuskan antara bersedia atau tidak. Kenapa? Karena pada saat bersamaan saya berada dalam situasi sisi dua keping mata uang dan buah simalakama. Padatnya kegiatan pada akhirnya membuat saya sakit. Isteri saya kebetulan juga sedang sakit karena colitisnya kambuh sehingga harus bedrest total. Anak-anak membutuhkan pengasuhan. Tugas-tugas kantor pun juga harus terselesaikan. Pada akhirnya, saya pun menerima tawaran Bunda Lilis dengan segudang rasa berkecamuk. Saya memang orang yang pekewuhan (Ind: sungkan). Tidak sampai rasa hati jika harus mengecewakan orang lain. Bermodal keyakinan dan niat ibadah, saya yakin bisa menunaikan tugas dari Bunda Lilis.

Waktu untuk mempersiapkan materi pun ternyata hanya tersisa 24 jam. Meski sebenarnya kedua materi yang diminta sudah pernah saya sajikan di kelas menulis online yang diselenggarakan AGUPENA NTT maupun Rumah Produktif Indonesia NTT, namun stylenya harus saya rubah. Saya harus membahasakan materi sesuai dengan tingkatan usia anak-anak sekolah dasar. Pada akhirnya beberapa menit sebelum kelas online dibuka, materi pun selesai saya kerjakan.

Rabu tanggal 7 Juli 2021 selepas isya, saya menjadi nara sumber kelas menulis online melalui whatsapp group PENULIS SURABAYA didamping Pak Novataman Adi Nugraha, S.Pd., Gr. dari Bojonegoro. Setelah diberikan kesempatan, saya menyampaikan materi dengan gaya mengajar online di kelas PJJ untuk anak didik ketika di sekolah. Agar suasana akrab, saya menggunakan panggilan Mr. Yon's. Panggilan yang disematkan anak didik saya di sekolah.

Materi saya awali dengan menceritakan latar belakang menjadi seorang penulis. Saya sebenarnya lulusan sekolah komputer, namun karena kebiasaan menulis sedari kecil maka bisa jadi penulis. Motivasinya berawal saat duduk di SD. Saya sangat hobi membaca majalah, yang waktu itu bernama Si Kuncung serta buku-buku cerita di perpustakaan sekolah. Awalnya hanya seneng membaca saja. Suatu hari saya melihat tulisan kakek dalam bentuk tulisan Jawa yang sangat indah dan rapi. Hal itulah yang membuat saya termotivasi agar pada suatu hari bisa menjadi penulis seperti kakek. Seiring waktu berjalan saya berhasil menulis puluhan buku solo, beberapa buku antologi dan telah menjadi editor ribuan buku.

Jadi modal awal untuk menjadi seorang penulis adalah senang membaca. Kenapa? Karena penulis yang baik itu adalah pembaca yang baik. Untuk menghidupkan suasana, saya berikan pertanyaan untuk audience, “Sebenarnya mengapa seseorang itu harus menulis?”

Menurut saya menulis itu membawa manfaat bagi penulis maupun pembacanya antara lain:

  1. Memperluas Pengetahuan Penulisnya
  2. Membagi Pengetahuan Kepada Para Pembaca
  3. Memperluas relasi (dikenal banyak orang)
  4. Melatih berkomunikasi dengan para pembaca
  5. Menambah penghasilan

Pertanyaan kedua, “Bisakah menjadi penulis sejak usia dini?” JAWABANNYA SANGAT-SANGAT BISA. Terbukti dari terbitan buku Kecil-kecil Punya Karya ditulis oleh adik-adik yang saat menulis buku baru berusia 9 tahun dan berhasil menjadi buku best seller seperti adik Ramya dalam karya berjudul “Dunia Es Krim”

Jadi, semua harus optimis kalau bisa menulis. Itulah gunanya belajar melalui grup whatsapp kelas menulis online seperti ini. Selanjutnya tibalah saya sampaikan materi The Power of Pada Suatu Hari.

“Wah judulnya kok bikin pusing pake ke-Inggris-inggrisan ya? Bahasanya juga blasteran Indonesia Inggris!!!! Tenang ya adik-adik...”
“Sebenarnya begini kisahnya Mr Yon's menyajikan materi yang pernah Mr sajikan di kelas MBI NTT dan termuat di blog Kompasiana”

“Taraaaaa....... sejarahnya bermula dari pengalaman Mr Yon's saat diberi tugas membuat karangan oleh guru waktu duduk di SD bahkan hingga SMP.”
“Saat bingung mau menulis apa, ya setiap mulai menulis didahului dengan Pada suatu hari...”
“Bermula dari 3 kata tersebut....eeeee....seluruh ide di kepala pun keluar dengan lancar ..... Karangan selesai dan nilainya pun bagus... Buktinya????? Mr Yon's bisa lulus sarjana....hiii...hiii.....hiiii.... Coba kalau nilainya jelek pastinya tidak naik kelas. Benar khan adik-adik?”
“Jadi kalau malam ini adik-adik belajar ilmu menulis, sebenarnya adik-adik sudah bisa menulis lhoh....!!!!!”

Begitulah prolog materi yang saya sampaikan. Intinya bahwa saat duduk di bangku sekolah dasar setiap siswa sudah pernah mendapat tugas mengarang dari bapak ibu gurunya di sekolah. Jika adik-adik sudah pernah mengarang, ya seperti itulah yang dinamakan menulis. Aktivitas yang biasanya kental dengan penggunaan kalimat pengantar “Pada suatu hari…” adalah mendongeng. Contohnya bisa disimak pada video dengan link : https://www.youtube.com/watch?v=xry3z7NR91I. Pendongeng dalam video tersebut mengawali kisahnya dengan Pada suatu hari....

“Bapak/ibu guru atau Papa/Mama di rumah mungkin saat mendongeng juga menggunakan pembuka Pada suatu hari... Coba dinget-inget lagi ya....”, saya coba mengingatkan Kembali audience

Apa sih kehebatan Pada suatu hari sampai-sampai dipasangkan dengan The Power of? Ada lima kehebatan Pada suatu hari yakni membuka kran ide, bisa jadi buku, bisa jadi lagu, bisa jadi puisi, bisa jadi dongeng.

1.      Pembuka kran ide untuk menulis.

“Simak contoh dari Mr Yon’s ya, yang diambil dari pengalaman belajar malam ini!”

“Nah tuh....terbuka tho kran idenya... Tulisan itu tidak harus muluk-muluk, namun enak dinikmati dan renyah dibaca...eh....kok kayak cemilan ya....ha…ha…ha…”

2.      Bisa jadi buku

Bukunya berjudul Pada Suatu Hari Nanti karya Eyang Sapardi, salah satu sastrawan yang sangat terkenal

3.      Bisa jadi lagu

http://pelanginada.com/suatu-hari-aku-bisa/

“Nah itu liriknya. Lagunya asyik loh didengar dari suara emas Kak Mira Julia”

4.      Bisa jadi puisi

5.      Bisa jadi dongeng

“Nah, gimana adik-adik....ternyata hanya dengan Pada suatu hari ternyata menjadi bermacam-macam karya...wooooowwwwwww.......keren khan....!!!”

Kalau dibuat ilustrasi mengenai fungsi pada suatu hari adalah .....

Kenyataannya, banyak penulis pada suatu ketika mengalami kebuntuan. Mau nulis apa, mulai dari mana dan seribu kebuntuan yang bersliweran. Nah jurusnya....


Intinya penggunaan "Pada suatu hari" di awal tulisan, merupakan teknik untuk memecah kebuntuan dalam mengawali tulisan. Sulitnya menemukan kata pertama memang masalah yang banyak dialami penulis pemula. Jika kebuntuan bisa terpecahkan maka ide dapat dituliskan dengan lancar.

“Menulis itu sebenarnya mudah loh adik-adik. Kalau kemarin Kak Aam memberi contoh bunga melati, Mr Yon' memberi contoh yang mudah adalah sosok ibu.”

“Adik-adik tentu sangat lekat dengan sosok ibu, dengan tiga kata kunci : melahirkan, mengasuh, mendidik sudah bisa jadi persembahan istimewa bagi ibu”

“Adik-adik yang suka diajak travelling bisa menuliskan : Kapan berangkatnya, siapa saya yang ikut berangkat, naik apa, rute mana yang dilalui, bagaimana suasana selama perjalanan, berapa lama perjalanan, sampai ditujuan kapan jam berapa, bagaimana suasana tempat tujuan, bagaimana perasaan setelah sampai tujuan, apa saja yang ada di tempat tujuan, ngapai aja selama di tempat tujuan, kemudian pulang jam berapa, beli apa, langsung pulang atau mampir, sampai di rumah jam berapa dan seterusnya...”

“Itu kalau dituruti bisa jadi buku ber bab-bab. Makanya kalau diajak traveling jangan hanya kepikiran selfie aza ya....hi…hi…hi….”, canda saya ke audience

Akhirnya pada pukul 20.45 WIB, sesi materi saya akhiri dengan permintaan maaf jika banyak salah kata. Teriring do’a bagi para audience, “Mr doakan pada suatu hari nanti adik-adik akan menjadi penulis Generasi Emas Indonesia. Penerus Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya.”

 

 Sang Pena Lereng Lawu

7 Juli 2021

Kamis, 18 Maret 2021

Kacamata Religi Menyikapi Pandemi

Kacamata Religi Menyikapi Pandemi

Pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari satu tahun. Virus yang sebelumnya disebut dengan Corona itu masih masif menyebar di permukaan bumi. Tanda-tanda akan berakhirnya pandemi Covid-19 pun semakin tidak jelas. Terlebih Covid-19 termasuk virus yang “cerdas” karena mampu bermutasi menjadi berbagai jenis sehingga semakin menyulitkan dalam penanganannya.  Adanya mutasi virus tersebut mengancam efektivitas vaksin yang saat ini sedang dipergunakan secara massal.

Kilas balik pada awal munculnya, penyebaran virus Covid-19 memang tidak dibayangkan akan membawa dampak separah sekarang ini. Virus yang awalnya menyebar di Wuhan, Cina ini diprediksi akan mudah ditangani seperti jenis virus lainnya (flu burung, flu babi, Mers). Kenyataannya, semua negara dibuat kalang kabut menghadapi makhluk yang sebenarnya sangat lemah tersebut. Manusia juga harus belajar beradaptasi pada keadaan kenormalan baru, karena tidak dapat kembali menjalani kehidupan normal seperti keadaan sebelum pandemi.

Yah….kehadiran makhluk yang hanya berukuran nano tersebut, ternyata telah meruntuhkan kesombongan manusia. Bukankah selama ini manusia pamer bisa membuat teknologi canggih? Bukankan manusia selama ini pamer kehebatan senjata yang dimilikinya? Bukankah manuusia selama ini pamer akan kecerdasan yang dimilikinya sehingga tak segan menyalahi hukum Allah?

Melihat semua bentuk pamer dari makhluk yang bernama manusia, Allah pun masih menunjukkan sifat kasih sayangNya. Bukan burung Ababil yang membawa batu kerikil dari neraka yang diturunkan seperti saat Allah menghukum Raja Abrahah yang menyerang Ka’bah. Bukan pula azab berat yang menimpa umat-umat sebelum kita seperti zamannya Nabi Nuh dan Nabi Luth. Allah pun mengutus makhluk yang menurut ukuran manusia sangat lemah bernama Covid-19. Makhluk yang bisa mati hanya dengan air sabun. Allah masih begitu cinta kepada makhluknya, berkat permohonan Rasulullah SAW agar umatnya mendapatkan perlindungan sepeninggal beliau.

Belajar dari pandemi ini bahwa Covid-19 ternyata mampu menjadi “guru” yang mengajarkan betapa manusia itu sangat lemah. IQ yang dibangga-banggakan tak mampu segera menemukan solusi. Senjata canggih hanya teronggok tak berguna, Pondasi kokoh ekonomi pun goyah. Adikuasa dan adidaya dibuat bertekuk lutut. Tak terbayangkan jika Allah mengutus makhluk yang ukurannya lebih besar dan lebih mematikan. Tentu manusia di bumi ini akan musnah. Masih ingat serangan semut dan lebah di beberapa daerah beberapa waktu lalu? Manusia sudah dibuat kalang kabut.

Di tengah hiruk pikuk wabah Covid-19, berkecamuk perdebatan tentang keberadaan virus tersebut. Ada yang berpandangan bahwa virus itu alamiah adanya, Sebagian yang lain berpandangan bahwa virus itu sengata dibuat dan disebarkan. Pandangan tentang kesengajaan ini bahkan semakin kuat. Alasannya terkait dengan pemberitaan bahwa Pemerintah Cina membatasi akses Tim WHO untuk mendeteksi asal muasal virus, tidak segeranya WHO mengumumkan hasil investigasinya, hingga ada yang mengaitkan vaksin Sinovac dengan konspirasi virus sengata dibuat.

Semua analogi pun berkembang liar di masyarakat. Berbagai analisis dan praduga pun diungkap oleh banyak pakar baik yang membenarkan maupun menyanggah. Salahkah? Tak ada yang salah karena semua mengikuti takdir Allah. Bukankah Allah menganugerahi manusia dengan akal? Maka wajar jika manusia berlogika sebab Allah menganugerahkan kecerdasan untuk berpikir.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).

Ayat tersebut tersirat makna bahwa manusia adalah makhluk yang mulia serta memiliki kelebihan dibandingkan makhluk lain yang telah diciptakan manusia. Salah satu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia adalah akal yang digunakan untuk berpikir.

Terkait dengan keberadaan Covid-19, saya tak ingin larut dalam polemik. Selain tidak memiliki pemahaman terhadap dunia virus, juga bukan kapasitas saya untuk membahas persoalan mewabahnya Covid-19. Saya mengakui bukan ahlinya sehingga saya khawatir jika ikut berpolemik akan membuat kehancuran muka bumi lebih cepat..

Sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam (SAW): "Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya: 'Bagaimana maksud amanah disia-siakan?' Nabi menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR Al-Bukhari)

Sesuai dengan keyakinan pribadi, bahwa lepas dari polemik wabah Covid-19 itu direncanakan atau tidak direncanakan oleh manusia, saya haqul yaqin semua kejadian di atas bumi ini adalah kehendak Allah. Tugas yang saya sadari hanyalah mengimaninya dan bersabar atas semua kehendak Allah. Semua adalah sunatullah yang wajib diimani, terlebih bagi saya sebagai orang Islam yang salah satu rukun imannya adalah iman atas kehendak Allah.

Berdasarkan apa yang saya pahami dari banyak sumber ilmiah, bahwa Covid-19 itu termasuk makhluk hidup. Jika demikian, bisakah manusia membuat makhluk hidup? Berdasarkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, tak ada satupun makhluk di atas bumi ini, secerdas apapun dan secanggih apapun yang sanggup membuat makhluk hidup. Jadi mustahil manusia dapat menciptakan makhluk hidup. Jangankan makhluk, membuat satu surat semisal Qur'an saja tidak sanggup. Sebagaimana firman Allah :

Dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak dapat membuat, dan (pasti) kamu tidak akan mampu, maka takultal kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah (2): 23-24).

Kesimpulannuya bahwa semua ada yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Allah berfirman : “Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, Celakalah bagi orang yang ingkar kepada Tuhan karena siksaan yang sangat berat,” (QS. Ibrahim (14) : 23-24).

Covid-19 sebagai makhluk hidup, sudah pasti ciptaan Allah. Bagaimana dia ada dan menyebar ke seluruh penjuru bumi itu juga atas izin Allah. "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, akan tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka."(QS. Al-Israa': 44). Tidak mungkin jika Covid-19 menyebar tanpa seizin Allah. Virus juga hanya menginfeksi orang-orang yang telah dipilih oleh Allah. Menjadi perantara kematian bagi orang-orang yang telah tiba saatnya berpulang ke hadirat Allah.

Bukankah selembar daun yang jatuh dari pohonnya pun juga atas izin Allah? “Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 59).

Meski Allah telah menjelaskan secara gamblang di dalam Al Qur’an, tetap saja manusia mengandalkan alam logikanya untuk mencari kebenaran secara ilmiah. Apakah itu di larang? Tidak ada yang melarang. Sebagaimana telah di jelaskan di atas bahwa anugerah yang bernama akal itu digunakan untuk berpikir. Namun, berpikir yang dimaksud adalah berpikir akan tanda-tanda kebesaran Allah. Setelah itu menumbuhkan keimanan yang kuat, Bukan sebaliknya, justru melahirkan pandangan yang membawa pada kekufuran. Jika kita menganggap Covid-19 itu buatan orang Cina sama halnya kita telah kufur. Mengapa? Secara tidak langsung kita telah mengakui bahwa ada kuasa lain yang mampu membuat virus (baca: menciptakan makhluk hidup).

Tak hanya sekedar urusan virus saja yang membuat manusia terkadang terlalu mengandalkan akal ilmiahnya, hingga tak sadar membuatnya jauh dari Allah. Membuatnya tidak mengimani ayat-ayat Allah. Apa buktinya? Hingga saat ini masih ada yang mempersoalkan alasan haramnya daging babi dan minum khamr. Bahkan ada yang memberikan pandangan bahwa haramnya daging babi karena mengandung cacing pita. Haramnya khamr karena membuat orang mabuk sehingga melupakan Allah.

Nah… di zaman modern dengan berbagai peralatan canggihnya, cacing pita dalam daging babi akhirnya dapat disingkirkan. Dagingnya pun tidak lagi mengandung cacing pita. Khamr yang aslinya memabukkan, akhirnya dipergunakan untuk mengolah makanan yang sering ditemui di berbagai tempat makan. Orang yang memakan makanan yang dioleh dengan mencampurkan khamr pun tidak mabuk.

Jika daging babi bebas cacing dan khamr dalam makanan tidak memabukan, apakah lantas membuatnya jadi halal? Tentu tidak!!! Apapun yang diharamkan oleh Allah di dunia ini, tentu buruk bagi manusia. Hukumnya wajib bagi orang yang beriman untuk tunduk dan patuh tanpa harus bertanya “mengapa”. Bukankah Rasulullah sebagai hamba yang sangat dikasihi Allah juga tidak pernah bertanya kepada Allah jika sesuatu hal itu diharamkan Allah? Rasulullah SAW pun menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah.

Tak sebatas hal halal haram saja. Urusan ghaib saja masih juga diperdebatkan seperti peristiwa yang baru saja diperingati yakni Isra’ Mi’raj. Masih saja muncul polemik, bagaimana perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa  kemudian ke langit ketujuh? Seperti apa kecepatan tunggangan Rasulullah? Saat mi’raj hingga langit ke tujuh itu hanya jiwanya saja jiwa dan raganya? Bolehkan kita melogika, tentu saja boleh. Namun melogika kuasa Allah yang hanya cukup dengan berkata “Kun Fayakun” tentu diluar batas logika manusia.

Gara-gara berpolemik soal Isra’ Mi’raj terkadang umat Islam sendiri lupa akan esensi peristiwa tersebut. Yakni, Rasulullah menerima wahyu untuk melaksanakan shalat lima waktu. Kenyataannya, berapa banyak orang yang mengaku Islam justru tidak shalat? Berapa banyak yang paham isra’ mi’raj tapi shalatnya tidak tertib atau bahkan bolong-bolong?

Intinya bahwa semua yang ada di dunia ini dijadikan Allah sebagai ujian  bagi manusia. Perintah dari Allah untuk menguji sejauh mana manusia dapat menjaga ketaatannya, sedangkan larangan dari Allah untuk menguji seberapa tangguh manusia dapat menjauhinya. Bagaimana dengan Covid-19? Ia adalah ujian bagi keimanan kita. Banyak justru yang terjebak dalam polemik, tapi lupa bahwa semua terjadi atas kehendak Allah.

Marilah kita segera membangun kesadaran. Covid-19 adalah ciptaan Allah. Covid-19 bertasbih kepada Allah. Covid-19 bukan makhluk brutal. Ia hanya akan menginfeksi orang yang dikehendaki Allah. Jangan hanya terpenjara dengan alam ilmiah, tapi gunakan hati untuk mengimani. Agar kita tidak semakin jauh dari Illahi. Kita makhluk yang lebih sempurna dari Covid-19, tapi belum tentu kita lebih mulia darinya. Mengapa? Covid-19 hanya taat kepada perintah Allah, sedangkan kita terkadang masing mengingkari perintah Allah.

Selain senantiasa berusaha dan berdoa, hal terbaik yang perlu untuk segera dilaksanakan di masa pandemi ini adalah, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (Qs, Ali Imran (3): 133).  Bersegeralah berarti menyegerakan untuk mengerjakan hal-hal yang baik, yakni meraih ampunan Allah. Tetaplah waspada, karena Covid-19 bisa menyebabkan kita jatuh dalam kekufuran.

 

Lereng Lawu,

18 Maret 2021

Jumat, 12 Maret 2021

Berbagi Endorsment #4

Berbagi Endorsment #4

Judul Buku : Memberi Inpirasi Untuk Negeri

Antologi Wardah Inspiring Teacher 2021 


Endorsement

Menikmati lembar demi lembar kisah dalam buku Memberi Inpirasi Untuk Negeri” mampu membimbing pembaca untuk menemukan hakikat bagaimana seharusnya menjadi seorang guru. Guru yang care, open minded , be a role models, adaptable, yang mampu menjawab semua tantangan zaman.  Semua kisah yang tersaji seolah menjadi aktualisasi konsep merdeka belajar, yakni kemerdekaan berpikir yang dimulai dari dalam diri guru. Kemerdekaan yang memberikan keleluasaan guru untuk mendidik sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik.  

Semua terlukis melalui pengalaman yang dibagikan para penulis dalam buku ini. Pengalaman nyata yang berharga dan penuh bermakna. Pengalaman yang inspiratif, unik serta mengandung nilai-nilai positif yang patut diteladani. Buku ini sekaligus menjadi miniatur best practice yang ilmiah sifatnya, namun disajikan dalam bentuk karya nonfiksi bergaya kekinian. Penyajiannya yang ringan namun penuh makna, membuat buku ini layak dibaca oleh pecinta literasi di manapun berada. Selamat berliterasi dan temukan hakikat merdeka belajar dalam kehidupan nyata melalui kisah dalam buku ini!

Minhajul Ngabidin, S.Pd, M.Si
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Daerah Istimewa Yogyakarta

 

 

Endorsement

Menyimak lembar pertama buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri” sudah tercemin spirit para penulisnya dalam memberikan inspirasi kepada para pembaca. Tak salah menduga, buku yang ditulis  oleh para alumnus WIT 2020 ini memang “menakjubkan” contentnya. Para penulis yang semuanya berprofesi sebagai guru yang cerdas dan inspiratif, yang mampu menyajikan pengalamannya dalam praktik mengajar dan mendidik yang baik, secara detail, lugas dan cerdas.

Kebhinekaan latar belakang para penulis, memberikan nilai tambah yang membuat kisah dalam buku ini sayang dilewatkan begitu saja. Didukung dengan sudut pandang penyajian yang bervariasi membuat buku ini sangat istimewa dan enak dinikmati.

Lembaran kisah yang luar biasa dalam karya ini juga layak dibaca.  Tidak saja sebagai bahan literasi namun sumber inspirasi tentang bagaimana kiprah guru dalam melaksanakan tugasnya secara kreatif dan inovatif. Salut atas terbitnya buku yang istimewa ini. Ayo pembaca, segera berliterasi dengan buku ini! Banyak nilai positif yang akan Anda peroleh setelah berkontemplasi dengan isi buku ini. Salam literasi.

 

Prof. Pujiati, M.Soc. Sc., Ph.D.

Guru Besar Ilmu Telaah Pranata Sosial Masyarakat Arab

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara

Medan


 

Endorsement

Mencermati sinopsis pada cover belakang buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri” tersirat akan kebermanfaatan buku ini. Kisah dalam buku ini merupakan pengalaman nyata dari para penulisnya dalam belajar, menggali potensi diri sekaligus melakukan karya nyata demi kemajuan bangsa. Pengalaman baik para penulisnya sebagai seorang guru mampu menggugah semangat untuk turut serta memberikan inspirasi kepada para anak bangsa, khususnya di masa pandemi Covid-19. Pandemi yang ternyata menjadi pembuka tabir inspirasi sebagai jalan mengatasi berbagai keterbatasan dalam aktivitas pembelajaran.

Saat mulai membaca isi buku sejak lembar pertama, seolah mata tak berkedip, samudera logika penuh dengan inspirasi dan relung jiwa seolah dialiri sejuta percikan makna. Kisah yang disajikan mampu menyihir siapapun yang membacanya, sekaligus mengantarkan para pembaca memperoleh mutiara inspirasi. Selamat membaca!

 

Eko Daryono, S.Kom.

Tenaga Pendidik SMP Negeri 3 Mojolaban, Penulis, Editor

Karanganyar, Jawa Tengah

Senin, 08 Maret 2021

Berbagi Endorsment #3

Berbagi Endorsment #3

 

“HADIAH UNTUK BUNDAKU”

Jilid 2

 Antologi Persembahan Khusus Buat IBU,

Bersama “KELAS WAG MBI” Bunda Lilis Sutikno


Perjuangan dan pengorbanan seorang ibu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berkat ibulah mentari pagi selalu tersenyum karena setiap hari berganti terlahir generasi dari kandungan sang ibu. Sosok yang penuh kasih yang tidak saja mengandung, namun merawat, melindungi, mendidik agar kita siap mengarungi bahtera kehidupan. Semua itu tercermin dalam kisah yang dibagikan para penulis tentang ibundanya pada buku “Hadiah untuk Bundaku Jilid 2” ini. Banyak nilai yang bisa dipetik setelah membaca buku ini terutama tentang nilai kejuangan, pengorbanan dan keluhuran budi seorang ibu. Buku ini layak dibaca agar setiap orang dapat lebih menghargai peran dan kedudukan seorang ibu, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Eko Daryono

Guru SMP Negeri 3 Mojolaban Sukoharjo, Editor, dan Penulis buku

Karanganyar Jawa Tengah



Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

 KATA SAMBUTAN


Assalamu’alaikum wr, wb.

Manusia merupakah makhluk sempurna, karena dibekali dengan cipta, rasa dan karsa. Dimilikinya tridaya tersebut menjadikan manusia sebagai insan yang inspiratif, termasuk sosok guru. Sesuai konsep Ki Hajar Dewantara, guru memikul tanggung jawab yang besar tidak hanya secara keilmian, namun juga secara moral dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh sebab itu, guru sebagai tenaga profesional tidak cukup hanya menguasai materi yang diajarkan. Namun, dituntut memahami kondisi peserta didik yang dihadapinya.

 

Diperlukan guru inspiratif, yang mampu mendidik, memberi teladan, memahami kondisi psikologis, serta mampu memotivasi peserta didik agar lebih maju. Clay P. Bedford menyatakan “You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.” Sebuah konsep yang menunjukkan betapa vitalnya peran guru inspiratif. Guru yang mampu menciptakan rasa ingin tahu peserta didik agar dapat melanjutkan pembelajaran secara mandiri sepanjang hayatnya.

 

Keberadaan sosok guru inspiratif relevan dengan tuntutan pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya terkait dengan konsep merdeka belajar. Hakikat merdeka belajar bahwa guru mendapat keleluasaan dalam mendesain pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, namun memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berinovasi, belajar mandiri dan kreatif. Konsep merdeka belajar tersebut menyiratkan betapa guru berada pada posisi sebagai inspirator dalam membangun inovasi, kemandirian dan pengembangan kreativitas peserta didik. Muara dari konsep tersebut adalah menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat.

 

Agar menjadi sosok inspiratif, guru seyogyanya berpegang teguh pada prinsip care, share, dan trust. Care, yakni memberi perhatian atas perbedaan latar belakang peserta didik, baik perbedaan fisik, intelektual, maupun sosio-emosional. Guru harus merangkul, memberi semangat, dan memotivasi peserta didik. Share, yakni mampu berbagi ilmu sesuai kompetensinya melalui proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menantang. Guru dituntut mampu merancang metode dan strategi pembelajaran yang menarik dengan dukungan media yang tersedia. Trust, yakni menjadi sosok yang digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani) serta mampu menanamkan karakter yang baik bagi peserta didik.

 

Guna menampilkan sosok-sosok guru inspiratif dari seluruh penjuru nusantara, maka Wardah menyelenggarakan ajang Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Ajang kompetisi bagi para guru untuk menunjukkan kemampuannya dalam menginspirasi lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Selain perlombaan, melalui ajang tersebut para guru mendapatkan pelatihan guna lebih meningkatkan kompetensinya sebagai guru yang inspiratif. Guru yang menjadi ujung tombak pelaksanaan merdeka belajar. Guru pembelajar yang peduli dengan peran dan tanggung jawabnya.

 

Salah satu bentuk inspirasi dari guru yang menjadi peserta WIT 2020 adalah lahirnya buku ini. Buku yang ditulis oleh Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH., seorang guru inspiratif dari NTT, bersama sepuluh penulis alumni WIT 2020 ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi para guru di seantero nusantara. Kesebelas penulis tersebut seolah menjadi pengejawantahan Dewi Sartika era milenial, karena semangatnya dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas melalui berbagai inovasi yang dilakukannya.

 

Semua terlukis jelas melalui lembar demi lembar kisah dalam buku ini. Mencermati keseluruhan kisah diperoleh nilai inspirasi dalam mengupdrage diri, membangun karakter, menebarkan kepedulian, mengembangkan kompetensi dengan penuh keterbukaan, serta menjalankan profesinya secara totalitas meski dalam suasana pandemi. Pantaslah mereka layak dinobatkan sebagai guru inspiratif.

 

Kisah sebelas penulis dalam buku ini identik dengan kata mutiara Brad Henry, bahwa "Seorang guru yang baik dapat mengilhami harapan, menyalakan imajinasi, dan menanamkan cinta belajar". Harapan dari buku ini tentunya tidak hanya sekedar menjadi bahan bacaan, namun mampu mengilhami para pembacanya tentang hakikat seorang guru inspiratif. Guru yang tak henti berinovasi, tak lelah menjalani profesi, totalitas dalam mengabdi, patut diteladani, pantang menyerah meski di masa pandemi, serta terus mengembangkan kapasitas diri.

 

Setelah buku ini, saya berharap akan lahir karya-karya berikutnya dari para peserta WIT 2020 khususnya maupun para guru umumnya. Karya yang dapat dijadikan sebagai bukti sejarah bahwa jiwa guru adalah jiwa petarung. Mampu menjawab semua tantangan, pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan serta mampu merubah hambatan menjadi peluang.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada Dra. Ika Lilis Herpianti Sutikno, SH., atas terbitnya buku inspiratif ini. Semoga selalu istiqomah dalam mengabdi dan berkarya demi majunya pendidikan di negeri ini.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Selasa, 02 Maret 2021

Berbagi Endorsment #2

Berbagi Endorsment #2

 Endors Buku "Panggil Aku Kak NUS"

Karya : Kak Nus


Setiap waktu berlalu, selalu menggoreskan kisah dalam kenangan. Tak sedikit kenangan yang hanya terkubur di dasar samudera logika hingga hilang tak berbekas, namun ada kisah yang tertanam di relung jiwa hingga terkenang sepanjang hayat. Buku ini menggambarkan betapa kenangan demi kenangan sebagai hadiah dari berlalunya waktu ternyata mengandung makna mendalam. Makna yang jika direfleksi dapat menjadi permata sebagai bekal dalam mengarungi perjalanan di masa depan dengan lebih baik lagi. Buku ini pula menyiratkan bahwa banyak makna dalam setiap jejak langkah manusia dalam mengarungi jalan hidupnya masing-masing. Makna yang tidak hanya berguna bagi pelakunya namun juga orang lain.


Eko “Sang Pena Lereng Lawu” Daryono

Pengajar Informatika, Penulis dan Editor Buku

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah