Kamis, 18 Maret 2021

Kacamata Religi Menyikapi Pandemi

Kacamata Religi Menyikapi Pandemi

Pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari satu tahun. Virus yang sebelumnya disebut dengan Corona itu masih masif menyebar di permukaan bumi. Tanda-tanda akan berakhirnya pandemi Covid-19 pun semakin tidak jelas. Terlebih Covid-19 termasuk virus yang “cerdas” karena mampu bermutasi menjadi berbagai jenis sehingga semakin menyulitkan dalam penanganannya.  Adanya mutasi virus tersebut mengancam efektivitas vaksin yang saat ini sedang dipergunakan secara massal.

Kilas balik pada awal munculnya, penyebaran virus Covid-19 memang tidak dibayangkan akan membawa dampak separah sekarang ini. Virus yang awalnya menyebar di Wuhan, Cina ini diprediksi akan mudah ditangani seperti jenis virus lainnya (flu burung, flu babi, Mers). Kenyataannya, semua negara dibuat kalang kabut menghadapi makhluk yang sebenarnya sangat lemah tersebut. Manusia juga harus belajar beradaptasi pada keadaan kenormalan baru, karena tidak dapat kembali menjalani kehidupan normal seperti keadaan sebelum pandemi.

Yah….kehadiran makhluk yang hanya berukuran nano tersebut, ternyata telah meruntuhkan kesombongan manusia. Bukankah selama ini manusia pamer bisa membuat teknologi canggih? Bukankan manusia selama ini pamer kehebatan senjata yang dimilikinya? Bukankah manuusia selama ini pamer akan kecerdasan yang dimilikinya sehingga tak segan menyalahi hukum Allah?

Melihat semua bentuk pamer dari makhluk yang bernama manusia, Allah pun masih menunjukkan sifat kasih sayangNya. Bukan burung Ababil yang membawa batu kerikil dari neraka yang diturunkan seperti saat Allah menghukum Raja Abrahah yang menyerang Ka’bah. Bukan pula azab berat yang menimpa umat-umat sebelum kita seperti zamannya Nabi Nuh dan Nabi Luth. Allah pun mengutus makhluk yang menurut ukuran manusia sangat lemah bernama Covid-19. Makhluk yang bisa mati hanya dengan air sabun. Allah masih begitu cinta kepada makhluknya, berkat permohonan Rasulullah SAW agar umatnya mendapatkan perlindungan sepeninggal beliau.

Belajar dari pandemi ini bahwa Covid-19 ternyata mampu menjadi “guru” yang mengajarkan betapa manusia itu sangat lemah. IQ yang dibangga-banggakan tak mampu segera menemukan solusi. Senjata canggih hanya teronggok tak berguna, Pondasi kokoh ekonomi pun goyah. Adikuasa dan adidaya dibuat bertekuk lutut. Tak terbayangkan jika Allah mengutus makhluk yang ukurannya lebih besar dan lebih mematikan. Tentu manusia di bumi ini akan musnah. Masih ingat serangan semut dan lebah di beberapa daerah beberapa waktu lalu? Manusia sudah dibuat kalang kabut.

Di tengah hiruk pikuk wabah Covid-19, berkecamuk perdebatan tentang keberadaan virus tersebut. Ada yang berpandangan bahwa virus itu alamiah adanya, Sebagian yang lain berpandangan bahwa virus itu sengata dibuat dan disebarkan. Pandangan tentang kesengajaan ini bahkan semakin kuat. Alasannya terkait dengan pemberitaan bahwa Pemerintah Cina membatasi akses Tim WHO untuk mendeteksi asal muasal virus, tidak segeranya WHO mengumumkan hasil investigasinya, hingga ada yang mengaitkan vaksin Sinovac dengan konspirasi virus sengata dibuat.

Semua analogi pun berkembang liar di masyarakat. Berbagai analisis dan praduga pun diungkap oleh banyak pakar baik yang membenarkan maupun menyanggah. Salahkah? Tak ada yang salah karena semua mengikuti takdir Allah. Bukankah Allah menganugerahi manusia dengan akal? Maka wajar jika manusia berlogika sebab Allah menganugerahkan kecerdasan untuk berpikir.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).

Ayat tersebut tersirat makna bahwa manusia adalah makhluk yang mulia serta memiliki kelebihan dibandingkan makhluk lain yang telah diciptakan manusia. Salah satu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia adalah akal yang digunakan untuk berpikir.

Terkait dengan keberadaan Covid-19, saya tak ingin larut dalam polemik. Selain tidak memiliki pemahaman terhadap dunia virus, juga bukan kapasitas saya untuk membahas persoalan mewabahnya Covid-19. Saya mengakui bukan ahlinya sehingga saya khawatir jika ikut berpolemik akan membuat kehancuran muka bumi lebih cepat..

Sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam (SAW): "Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya: 'Bagaimana maksud amanah disia-siakan?' Nabi menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR Al-Bukhari)

Sesuai dengan keyakinan pribadi, bahwa lepas dari polemik wabah Covid-19 itu direncanakan atau tidak direncanakan oleh manusia, saya haqul yaqin semua kejadian di atas bumi ini adalah kehendak Allah. Tugas yang saya sadari hanyalah mengimaninya dan bersabar atas semua kehendak Allah. Semua adalah sunatullah yang wajib diimani, terlebih bagi saya sebagai orang Islam yang salah satu rukun imannya adalah iman atas kehendak Allah.

Berdasarkan apa yang saya pahami dari banyak sumber ilmiah, bahwa Covid-19 itu termasuk makhluk hidup. Jika demikian, bisakah manusia membuat makhluk hidup? Berdasarkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, tak ada satupun makhluk di atas bumi ini, secerdas apapun dan secanggih apapun yang sanggup membuat makhluk hidup. Jadi mustahil manusia dapat menciptakan makhluk hidup. Jangankan makhluk, membuat satu surat semisal Qur'an saja tidak sanggup. Sebagaimana firman Allah :

Dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak dapat membuat, dan (pasti) kamu tidak akan mampu, maka takultal kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah (2): 23-24).

Kesimpulannuya bahwa semua ada yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan Allah. Allah berfirman : “Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, Celakalah bagi orang yang ingkar kepada Tuhan karena siksaan yang sangat berat,” (QS. Ibrahim (14) : 23-24).

Covid-19 sebagai makhluk hidup, sudah pasti ciptaan Allah. Bagaimana dia ada dan menyebar ke seluruh penjuru bumi itu juga atas izin Allah. "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, akan tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka."(QS. Al-Israa': 44). Tidak mungkin jika Covid-19 menyebar tanpa seizin Allah. Virus juga hanya menginfeksi orang-orang yang telah dipilih oleh Allah. Menjadi perantara kematian bagi orang-orang yang telah tiba saatnya berpulang ke hadirat Allah.

Bukankah selembar daun yang jatuh dari pohonnya pun juga atas izin Allah? “Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 59).

Meski Allah telah menjelaskan secara gamblang di dalam Al Qur’an, tetap saja manusia mengandalkan alam logikanya untuk mencari kebenaran secara ilmiah. Apakah itu di larang? Tidak ada yang melarang. Sebagaimana telah di jelaskan di atas bahwa anugerah yang bernama akal itu digunakan untuk berpikir. Namun, berpikir yang dimaksud adalah berpikir akan tanda-tanda kebesaran Allah. Setelah itu menumbuhkan keimanan yang kuat, Bukan sebaliknya, justru melahirkan pandangan yang membawa pada kekufuran. Jika kita menganggap Covid-19 itu buatan orang Cina sama halnya kita telah kufur. Mengapa? Secara tidak langsung kita telah mengakui bahwa ada kuasa lain yang mampu membuat virus (baca: menciptakan makhluk hidup).

Tak hanya sekedar urusan virus saja yang membuat manusia terkadang terlalu mengandalkan akal ilmiahnya, hingga tak sadar membuatnya jauh dari Allah. Membuatnya tidak mengimani ayat-ayat Allah. Apa buktinya? Hingga saat ini masih ada yang mempersoalkan alasan haramnya daging babi dan minum khamr. Bahkan ada yang memberikan pandangan bahwa haramnya daging babi karena mengandung cacing pita. Haramnya khamr karena membuat orang mabuk sehingga melupakan Allah.

Nah… di zaman modern dengan berbagai peralatan canggihnya, cacing pita dalam daging babi akhirnya dapat disingkirkan. Dagingnya pun tidak lagi mengandung cacing pita. Khamr yang aslinya memabukkan, akhirnya dipergunakan untuk mengolah makanan yang sering ditemui di berbagai tempat makan. Orang yang memakan makanan yang dioleh dengan mencampurkan khamr pun tidak mabuk.

Jika daging babi bebas cacing dan khamr dalam makanan tidak memabukan, apakah lantas membuatnya jadi halal? Tentu tidak!!! Apapun yang diharamkan oleh Allah di dunia ini, tentu buruk bagi manusia. Hukumnya wajib bagi orang yang beriman untuk tunduk dan patuh tanpa harus bertanya “mengapa”. Bukankah Rasulullah sebagai hamba yang sangat dikasihi Allah juga tidak pernah bertanya kepada Allah jika sesuatu hal itu diharamkan Allah? Rasulullah SAW pun menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah.

Tak sebatas hal halal haram saja. Urusan ghaib saja masih juga diperdebatkan seperti peristiwa yang baru saja diperingati yakni Isra’ Mi’raj. Masih saja muncul polemik, bagaimana perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa  kemudian ke langit ketujuh? Seperti apa kecepatan tunggangan Rasulullah? Saat mi’raj hingga langit ke tujuh itu hanya jiwanya saja jiwa dan raganya? Bolehkan kita melogika, tentu saja boleh. Namun melogika kuasa Allah yang hanya cukup dengan berkata “Kun Fayakun” tentu diluar batas logika manusia.

Gara-gara berpolemik soal Isra’ Mi’raj terkadang umat Islam sendiri lupa akan esensi peristiwa tersebut. Yakni, Rasulullah menerima wahyu untuk melaksanakan shalat lima waktu. Kenyataannya, berapa banyak orang yang mengaku Islam justru tidak shalat? Berapa banyak yang paham isra’ mi’raj tapi shalatnya tidak tertib atau bahkan bolong-bolong?

Intinya bahwa semua yang ada di dunia ini dijadikan Allah sebagai ujian  bagi manusia. Perintah dari Allah untuk menguji sejauh mana manusia dapat menjaga ketaatannya, sedangkan larangan dari Allah untuk menguji seberapa tangguh manusia dapat menjauhinya. Bagaimana dengan Covid-19? Ia adalah ujian bagi keimanan kita. Banyak justru yang terjebak dalam polemik, tapi lupa bahwa semua terjadi atas kehendak Allah.

Marilah kita segera membangun kesadaran. Covid-19 adalah ciptaan Allah. Covid-19 bertasbih kepada Allah. Covid-19 bukan makhluk brutal. Ia hanya akan menginfeksi orang yang dikehendaki Allah. Jangan hanya terpenjara dengan alam ilmiah, tapi gunakan hati untuk mengimani. Agar kita tidak semakin jauh dari Illahi. Kita makhluk yang lebih sempurna dari Covid-19, tapi belum tentu kita lebih mulia darinya. Mengapa? Covid-19 hanya taat kepada perintah Allah, sedangkan kita terkadang masing mengingkari perintah Allah.

Selain senantiasa berusaha dan berdoa, hal terbaik yang perlu untuk segera dilaksanakan di masa pandemi ini adalah, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (Qs, Ali Imran (3): 133).  Bersegeralah berarti menyegerakan untuk mengerjakan hal-hal yang baik, yakni meraih ampunan Allah. Tetaplah waspada, karena Covid-19 bisa menyebabkan kita jatuh dalam kekufuran.

 

Lereng Lawu,

18 Maret 2021

Jumat, 12 Maret 2021

Berbagi Endorsment #4

Berbagi Endorsment #4

Judul Buku : Memberi Inpirasi Untuk Negeri

Antologi Wardah Inspiring Teacher 2021 


Endorsement

Menikmati lembar demi lembar kisah dalam buku “Memberi Inpirasi Untuk Negeri” mampu membimbing pembaca untuk menemukan hakikat bagaimana seharusnya menjadi seorang guru. Guru yang care, open minded , be a role models, adaptable, yang mampu menjawab semua tantangan zaman.  Semua kisah yang tersaji seolah menjadi aktualisasi konsep merdeka belajar, yakni kemerdekaan berpikir yang dimulai dari dalam diri guru. Kemerdekaan yang memberikan keleluasaan guru untuk mendidik sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik.  

Semua terlukis melalui pengalaman yang dibagikan para penulis dalam buku ini. Pengalaman nyata yang berharga dan penuh bermakna. Pengalaman yang inspiratif, unik serta mengandung nilai-nilai positif yang patut diteladani. Buku ini sekaligus menjadi miniatur best practice yang ilmiah sifatnya, namun disajikan dalam bentuk karya nonfiksi bergaya kekinian. Penyajiannya yang ringan namun penuh makna, membuat buku ini layak dibaca oleh pecinta literasi di manapun berada. Selamat berliterasi dan temukan hakikat merdeka belajar dalam kehidupan nyata melalui kisah dalam buku ini!

Minhajul Ngabidin, S.Pd, M.Si
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Daerah Istimewa Yogyakarta

 

 

Endorsement

Menyimak lembar pertama buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri” sudah tercemin spirit para penulisnya dalam memberikan inspirasi kepada para pembaca. Tak salah menduga, buku yang ditulis  oleh para alumnus WIT 2020 ini memang “menakjubkan” contentnya. Para penulis yang semuanya berprofesi sebagai guru yang cerdas dan inspiratif, yang mampu menyajikan pengalamannya dalam praktik mengajar dan mendidik yang baik, secara detail, lugas dan cerdas.

Kebhinekaan latar belakang para penulis, memberikan nilai tambah yang membuat kisah dalam buku ini sayang dilewatkan begitu saja. Didukung dengan sudut pandang penyajian yang bervariasi membuat buku ini sangat istimewa dan enak dinikmati.

Lembaran kisah yang luar biasa dalam karya ini juga layak dibaca.  Tidak saja sebagai bahan literasi namun sumber inspirasi tentang bagaimana kiprah guru dalam melaksanakan tugasnya secara kreatif dan inovatif. Salut atas terbitnya buku yang istimewa ini. Ayo pembaca, segera berliterasi dengan buku ini! Banyak nilai positif yang akan Anda peroleh setelah berkontemplasi dengan isi buku ini. Salam literasi.

 

Prof. Pujiati, M.Soc. Sc., Ph.D.

Guru Besar Ilmu Telaah Pranata Sosial Masyarakat Arab

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara

Medan


 

Endorsement

Mencermati sinopsis pada cover belakang buku “Memberi Inspirasi Untuk Negeri” tersirat akan kebermanfaatan buku ini. Kisah dalam buku ini merupakan pengalaman nyata dari para penulisnya dalam belajar, menggali potensi diri sekaligus melakukan karya nyata demi kemajuan bangsa. Pengalaman baik para penulisnya sebagai seorang guru mampu menggugah semangat untuk turut serta memberikan inspirasi kepada para anak bangsa, khususnya di masa pandemi Covid-19. Pandemi yang ternyata menjadi pembuka tabir inspirasi sebagai jalan mengatasi berbagai keterbatasan dalam aktivitas pembelajaran.

Saat mulai membaca isi buku sejak lembar pertama, seolah mata tak berkedip, samudera logika penuh dengan inspirasi dan relung jiwa seolah dialiri sejuta percikan makna. Kisah yang disajikan mampu menyihir siapapun yang membacanya, sekaligus mengantarkan para pembaca memperoleh mutiara inspirasi. Selamat membaca!

 

Eko Daryono, S.Kom.

Tenaga Pendidik SMP Negeri 3 Mojolaban, Penulis, Editor

Karanganyar, Jawa Tengah

Senin, 08 Maret 2021

Berbagi Endorsment #3

Berbagi Endorsment #3

 

“HADIAH UNTUK BUNDAKU”

Jilid 2

 Antologi Persembahan Khusus Buat IBU,

Bersama “KELAS WAG MBI” Bunda Lilis Sutikno


Perjuangan dan pengorbanan seorang ibu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berkat ibulah mentari pagi selalu tersenyum karena setiap hari berganti terlahir generasi dari kandungan sang ibu. Sosok yang penuh kasih yang tidak saja mengandung, namun merawat, melindungi, mendidik agar kita siap mengarungi bahtera kehidupan. Semua itu tercermin dalam kisah yang dibagikan para penulis tentang ibundanya pada buku “Hadiah untuk Bundaku Jilid 2” ini. Banyak nilai yang bisa dipetik setelah membaca buku ini terutama tentang nilai kejuangan, pengorbanan dan keluhuran budi seorang ibu. Buku ini layak dibaca agar setiap orang dapat lebih menghargai peran dan kedudukan seorang ibu, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Eko Daryono

Guru SMP Negeri 3 Mojolaban Sukoharjo, Editor, dan Penulis buku

Karanganyar Jawa Tengah



Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

Kata Sambutan untuk Sang Profesor #2

 KATA SAMBUTAN


Assalamu’alaikum wr, wb.

Manusia merupakah makhluk sempurna, karena dibekali dengan cipta, rasa dan karsa. Dimilikinya tridaya tersebut menjadikan manusia sebagai insan yang inspiratif, termasuk sosok guru. Sesuai konsep Ki Hajar Dewantara, guru memikul tanggung jawab yang besar tidak hanya secara keilmian, namun juga secara moral dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh sebab itu, guru sebagai tenaga profesional tidak cukup hanya menguasai materi yang diajarkan. Namun, dituntut memahami kondisi peserta didik yang dihadapinya.

 

Diperlukan guru inspiratif, yang mampu mendidik, memberi teladan, memahami kondisi psikologis, serta mampu memotivasi peserta didik agar lebih maju. Clay P. Bedford menyatakan “You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.” Sebuah konsep yang menunjukkan betapa vitalnya peran guru inspiratif. Guru yang mampu menciptakan rasa ingin tahu peserta didik agar dapat melanjutkan pembelajaran secara mandiri sepanjang hayatnya.

 

Keberadaan sosok guru inspiratif relevan dengan tuntutan pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya terkait dengan konsep merdeka belajar. Hakikat merdeka belajar bahwa guru mendapat keleluasaan dalam mendesain pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, namun memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berinovasi, belajar mandiri dan kreatif. Konsep merdeka belajar tersebut menyiratkan betapa guru berada pada posisi sebagai inspirator dalam membangun inovasi, kemandirian dan pengembangan kreativitas peserta didik. Muara dari konsep tersebut adalah menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat.

 

Agar menjadi sosok inspiratif, guru seyogyanya berpegang teguh pada prinsip care, share, dan trust. Care, yakni memberi perhatian atas perbedaan latar belakang peserta didik, baik perbedaan fisik, intelektual, maupun sosio-emosional. Guru harus merangkul, memberi semangat, dan memotivasi peserta didik. Share, yakni mampu berbagi ilmu sesuai kompetensinya melalui proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menantang. Guru dituntut mampu merancang metode dan strategi pembelajaran yang menarik dengan dukungan media yang tersedia. Trust, yakni menjadi sosok yang digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani) serta mampu menanamkan karakter yang baik bagi peserta didik.

 

Guna menampilkan sosok-sosok guru inspiratif dari seluruh penjuru nusantara, maka Wardah menyelenggarakan ajang Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Ajang kompetisi bagi para guru untuk menunjukkan kemampuannya dalam menginspirasi lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Selain perlombaan, melalui ajang tersebut para guru mendapatkan pelatihan guna lebih meningkatkan kompetensinya sebagai guru yang inspiratif. Guru yang menjadi ujung tombak pelaksanaan merdeka belajar. Guru pembelajar yang peduli dengan peran dan tanggung jawabnya.

 

Salah satu bentuk inspirasi dari guru yang menjadi peserta WIT 2020 adalah lahirnya buku ini. Buku yang ditulis oleh Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH., seorang guru inspiratif dari NTT, bersama sepuluh penulis alumni WIT 2020 ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi para guru di seantero nusantara. Kesebelas penulis tersebut seolah menjadi pengejawantahan Dewi Sartika era milenial, karena semangatnya dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas melalui berbagai inovasi yang dilakukannya.

 

Semua terlukis jelas melalui lembar demi lembar kisah dalam buku ini. Mencermati keseluruhan kisah diperoleh nilai inspirasi dalam mengupdrage diri, membangun karakter, menebarkan kepedulian, mengembangkan kompetensi dengan penuh keterbukaan, serta menjalankan profesinya secara totalitas meski dalam suasana pandemi. Pantaslah mereka layak dinobatkan sebagai guru inspiratif.

 

Kisah sebelas penulis dalam buku ini identik dengan kata mutiara Brad Henry, bahwa "Seorang guru yang baik dapat mengilhami harapan, menyalakan imajinasi, dan menanamkan cinta belajar". Harapan dari buku ini tentunya tidak hanya sekedar menjadi bahan bacaan, namun mampu mengilhami para pembacanya tentang hakikat seorang guru inspiratif. Guru yang tak henti berinovasi, tak lelah menjalani profesi, totalitas dalam mengabdi, patut diteladani, pantang menyerah meski di masa pandemi, serta terus mengembangkan kapasitas diri.

 

Setelah buku ini, saya berharap akan lahir karya-karya berikutnya dari para peserta WIT 2020 khususnya maupun para guru umumnya. Karya yang dapat dijadikan sebagai bukti sejarah bahwa jiwa guru adalah jiwa petarung. Mampu menjawab semua tantangan, pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan serta mampu merubah hambatan menjadi peluang.

Terakhir, saya ucapkan selamat kepada Dra. Ika Lilis Herpianti Sutikno, SH., atas terbitnya buku inspiratif ini. Semoga selalu istiqomah dalam mengabdi dan berkarya demi majunya pendidikan di negeri ini.

Wassalamu’alaikum wr, wb.

Selasa, 02 Maret 2021

Berbagi Endorsment #2

Berbagi Endorsment #2

 Endors Buku "Panggil Aku Kak NUS"

Karya : Kak Nus


Setiap waktu berlalu, selalu menggoreskan kisah dalam kenangan. Tak sedikit kenangan yang hanya terkubur di dasar samudera logika hingga hilang tak berbekas, namun ada kisah yang tertanam di relung jiwa hingga terkenang sepanjang hayat. Buku ini menggambarkan betapa kenangan demi kenangan sebagai hadiah dari berlalunya waktu ternyata mengandung makna mendalam. Makna yang jika direfleksi dapat menjadi permata sebagai bekal dalam mengarungi perjalanan di masa depan dengan lebih baik lagi. Buku ini pula menyiratkan bahwa banyak makna dalam setiap jejak langkah manusia dalam mengarungi jalan hidupnya masing-masing. Makna yang tidak hanya berguna bagi pelakunya namun juga orang lain.


Eko “Sang Pena Lereng Lawu” Daryono

Pengajar Informatika, Penulis dan Editor Buku

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

Sabtu, 27 Februari 2021

MENULIS ITU NIKMAT

 


Pandemi tak terasa sudah hampir setahun menjelang. Makhluk mikro yang bernama virus Covid-19 telah mengubah wajah dunia. Masa depan dunia seolah makin tak menentu. Jurang resesi menganga di seluruh penjuru dunia. Dunia yang semula hiruk pikuk, mendadak sunyi. Bising suara mesin dan kepulan asap kendaraan bermotor seolah senyap. Manusia yang semula abai dengan nikmat yang bernama imun, mendadak begitu perhatian.

Cuci tangan yang jarang dilakukan mendadak menjadi trend. Begitupun kewaspadaan sosial yang meningkat dengan saling menjaga jarak. Hingga rela membatasi ruang gerak oksigen dengan memakai masker. Berbagai kebijakan pembatasan yang bernama lockdown, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM), maupun PPKM Mikro seolah memenjara ruang gerak aktivitas masyarakat.

Meski demikian, berkurangnya ruang gerak tak serta merta membatasi ruang kreativitas. Sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan sempurna, banyak aktivitas positif yang dapat dilakukan di masa pandemi. Terlebih wajah dunia memang telah berubah berkat kemajuan ilmu dan teknologi, sehingga aktivitas manusia semakin tak terbatas tempat dan waktu.

Tanpa disadari, Covid-19 telah menjelma menjadi “guru besar” yang membuka cakrawala manusia. Cakrawala tentang pemanfaatan teknologi digital dalam rangka membangun peradaban baru manusia yang lebih berkarakter. Beberapa bentuk di antaranya adalah work from home (bekerja dari rumah), learn from home (belajar dari rumah), training from home (pelatihan dari rumah) dan masih banyak yang lainnya.

Salah satu kegiatan pelatihan dari rumah adalah diklat menulis online melalui grup WhatsApp yang diselenggarakan Rumah Produktif Indonesia (RPI) Nusa Tenggara Timur ini. Saya akhirnya juga ikut terlibat dalam kegiatan diklat online tersebut sebagai penyedekah ilmu. Perkenalan saya dengan RPI tak lepas dari peran Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, SH. atau Bunda Lilis. Sosok guru inspiratif dari NTT. Guru cantik inspirasi dunia. Penulis buku best seller “Guru adalah Inspirasi”.

Kisah saya mengenal RPI bermula pada tanggal 20 Februari 2021 selepas waktu asar. Saya menerima pesan Bunda Lilis melalui WA yang bunyinya, “Pak Eko, minggu depan kita sedekah ilmu saget? Njenengan malam Jum’at Menulis itu Nikmat”. Spontan saya membalas, “Kelas MBI Bunda?” Maklum, selama ini saya bekerja sama dengan beliau di Kelas Menulis Buku Inspirasi (MBI). Sejak bulan Agustus 2020 saya aktif di Kelas MBI. Bunda Lilis menjawab, “Bukan. RPI (Rumah Produktif Indonesia) NTT. Mau launching buku sebagai penanda RPI ada di Kupang.” Wah… sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya diajak bersedekah ilmu.

Saya pun menyanggupi permintaan beliau untuk bersedekah ilmu seperti di kelas MBI maupun di kelas menulis online lainnya. Menjelang waktu zuhur tanggal 21 Februari 2021, Bunda Lilis memasukkan saya ke WhatsApp group RPI MENULIS BUKU BER-ISBN. Sore harinya sekira jam 16.00 WIB, saya menerima jadwal dari Bunda Lilis. Sesuai schedule, kegiatan berlangsung selama lima hari dari tanggal 22 hingga 26 Februari 2021. Saya mendapatkan jadwal hari Kamis malam tanggal 25 Februari 2021 dengan materi “Menulis Itu Nikmat”. Materi yang sudah tersampaikan dua kali pada Kelas MBI Gelombang I dan II. Meski judul temanya sama, namun secara content saya buat berbeda.

Foto 1. Jadwal Kelas Menulis Online Bersama RPI NTT

(Sumber : WA Image Bunda Lilis Tanggal 21 Februari 2021 Pukul 16.13 WIB)

Setelah menerima jadwal, saya menggali informasi lebih dalam tentang RPI dari Bunda Lilis. Tujuannya agar mengetahui secara jelas siapa audience kelas RPI, sehingga materi yang saya sajikan nantinya tepat sasaran. Saya sempatkan juga membuka keanggotaan grup, dan ternyata sebagian anggotanya berasal dari kelas MBI. Adapun peserta kelas RPI sendiri sebagian sudah membuat tulisan dengan tema Kisah Inspirasi. Kondisi itu membuat saya harus membuat style yang berbeda dalam menyajikan materi “Menulis itu Nikmat”.

Maksud hati, saya ingin mempersiapkan materi sejak dini agar content-nya berbobot. Namun, ada sesuatu tak terduga selepas subuh tanggal 23 Februari 2021. Bola mata kiri saya merah dengan urat-urat yang nampak jelas mengalami perdarahan seperti syarat pecah. Semula saya tak menyadari, hingga isteri mengingatkan bahwa bola mata kiri saya memerah. Awalnya tak terasa sakit, sehingga saya tetap ke kantor karena terpaku jadwal piket dengan absensi online. Sepulang kantor, barulah terasa sakit terlebih saat berada di depan layar komputer. Setelah konsultasi medis secara online, saya mendapatkan obat tetes mata yang alhamdulillah dapat meredam rasa sakitnya.

Rabu pagi tanggal 24 Februari 2021, Bunda Lilis berbicara langsung melalui call WA tentang teknis kegiatan pada Kamis malam. Setelah ada kesepakatan teknis, Rabu malam saya mulai melakukan persiapan. Saya mulai berselancar di dunia maya mencari informasi lebih dalam mengenai RPI secara menyeluruh. Sempat tak berhasil menemukan informasi, akhirnya Bunda Lilis memberikan alamat website rpi.or.id.

Website rpi.or.id. ternyata belum menyediakan informasi komprehensif tentang apa dan bagaimana RPI. Namun melihat content yang banyak diunggah di website RPI, saya punya keyakinan bahwa kegiatannya bersifat positif khususnya dalam membangun literasi. Selanjutnya, saya membuat flyer sesuai permintaan Bunda Lilis supaya mempersiapkannya sendiri. Meski menahan rasa sakit, saya berhasil menyelesaikan flyer yang sederhana. Flyer tersebut saya share ke Bunda Lilis jelang tengah malam.

Gambar 2. Flyer Penyaji Materi Eko Daryono

(Sumber : Dokumen Pribadi didesain dengan PosterMyWal) 

Sejak tanggal 25 Februari 2021 pagi, saya sempatkan menulis bahan materi untuk disajikan malam harinya. Rasa sakit begitu menyiksa di mata, namun saya berusaha menulis baris demi baris naskah dengan tema “Menulis itu Nikmat”. Tujuannya, agar saat berada di kelas saya tinggal copy paste sehingga mempercepat proses penyajian materi. Sambil mengetik naskah, saya sesekali melihat grup RPI. Hinggal jam 09.00 WIB tercatat 45 anggota yang telah bergabung di grup. Namun dalam waktu dua jam setelahnya, anggota grup bertambah 34 orang hingga keseluruhan menjadi 79 peserta.

Kondisi tersebut menambah motivasi untuk membagikan sesuatu yang bermanfaat bagi para peserta. Menjelang asar, materi selesai saya ketik mencakup empat sub, yakni mengapa menulis itu nikmat, mengapa menulis harus nikmat, jurus timeline serta asupan 4 sehat 5 sempurna dalam menulis.

Sub materi “Mengapa menulis itu nikmat?” berisi tentang latar belakang menulis itu nikmat. Menurut saya, ada delapan hal yang menjadikan menulis itu nikmat, yaitu:

1.   Menulis dapat melepaskan beban jiwa karena menulis seperti terapi jiwa. Menulis bahkan membantu berpikir lebih jernih melalui penyaluran emosi yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Misalnya bentuk curahan hati atau pelampiasan yang dituangkan dalam diary.

2.   Membuat orang bahagia karena dapat berbagi kebaikan dengan orang lain, misalnya berbagi pengalaman, kisah inspirasi, tips, ilmu, resep dan sebagainya.

3.   Menyampaikan ide atau gagasan, misalnya opini atau kritik. Ide atau gagasan bisa topik simpel yang ada di lingkungan sekitar atau pengalaman hidup sendiri maupun orang lain

4.   Sarana aktualisasi diri atau menunjukkan who am I (siapa diri kita sebenarnya) tanpa harus mengataknya pada orang lain. Biasanya saat kita menunjukkan aktualisasi diri dengan berbicara umumnya kita dianggap sombong. Namun, tidak dengan aktualisasi melalui tulisan.

5.   Menyalurkan bakat, minat ataupun hobi.

6.   Menunjang karier, khususnya bagi ASN atau dosen yang membutuhkan poin angka kredit dari pengembangan ilmiah

7.   Sumber pendapatan. Ingat JK Rowling? Dia adalah penulis seri novel “Harry Potter”. Bukunya telah terjual sebanyak 500 juta copy dalam 80 bahasa dan menghasilkan pendapatan sekitar 16 trilyun. Luar biasa bukan …!!!

8.   Ladang ibadah dan amal jariyah. Endingnya sebagai bekal di akhirat. Sebuah quote dari Ali bin Abi Thalib, “Semua orang akan mati kecuali karyanya maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”.

Sub materi “Mengapa Menulis itu harus dengan nikmat?” berisi tentang alasan menulis harus dilakukan dengan nikmat. Nikmat biasanya membuat orang merasa bahagia, senang, lega. Misalnya saat sedang galau atau sedih. Coba lampiaskan dengan menulis! Biasanya perasaan akan menjadi lega. Rasa lega membuat orang tenang dan terasa nikmat. Oleh karenanya, menulis dengan nikmat akan membuat kita merasa senang dan bahagia dalam menulis. Kalau perasaan senang dan bahagia, penulis akan enjoy dalam menulis.

Kenapa kita kesulitan mengawali kegiatan menulis? Bisa jadi karena kita tidak bahagia dalam menulis. Terbebani dengan aktivitas menulis. Menulis sesuatu yang sangat abstrak. Sesuatu yang belum pernah dialami, tidak diketahui, tidak dikuasai atau tidak dipahami. Bukankah beban merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan? Jika kita terpaksa dalam menulis, maka sulit untuk menghasilkan tulisan yang merdeka atau sulit melepaskan ide yang terpenjara. Misalnya, saat dikejar target dan dibatasi deadline, biasanya akan membuat perasaan penulis tertekan. Dampaknya, bukan proses menulis yang nikmat, tetapi menulis karena dituntut kewajiban.

Lantas, “Bagaimana cara nikmat dalam menulis?” Saat mulai menulis, suasana hati harus santai, rileks, senang dan bahagia. Maka, pilihlah waktu yang ideal untuk menulis dengan kondisi fisik yang fit. Lalu mulailah menerawang. Apa yang diterawang? Apa yang pernah dialami, dirasakan, dijumpai. Intinya yang mudah ditulis itu adalah yang kita tahu dan kita kuasai. Jangan menulis yang tidak kita pahami atau kita kuasai. Pasti dalam proses menulisnya akan menjumpai banyak kebuntuan.

Langkah selanjutnya, mulailah menulis. Nah, untuk tahap ini, proses awalnya memang harus dipaksa. Jangan terbawa suasana hati dan jangan hanya terpaku pada mood. Penulis yang baik bukan menunggu waktu luang, tapi meluangkan waktu untuk menulis. Apapun itu, yang penting mulailah menulis, tulis, tulis, dan tulis hingga selesai. Jangan merasa takut salah! Jangan pernah mengoreksi sambal menulis! Selesaikan saja semua tulisan hingga ide terakhir berhasil dituangkan! 

Saat menulis, abaikan aturan baku dalam menulis agar tidak mengalami deadlock. Saat menulis sambil mengoreksi, maka tulisan tidak akan pernah selesai. Penulis akan terjebak dalam lingkaran kebuntuan. Oleh karena itu, biarkan ide mengalir secara alamiah. Abaikan terlebih dahulu aspek kesempurnaan dalam setiap kalimat, agar tidak menjadi penghalang dalam merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dalam tulisan kita.

Pak Nafrizal, sahabat saya dari Sumatera Barat, pernah mengatakan, “Menulislah. Tidak usah berpikir dengan urusan titik koma dan tata bahasa.” Setelah tulisan selesai hingga tetes ide yang terakhir, barulah mencari waktu lain untuk mengoreksi. Ingat! Masih ada editor dan reviewer yang akan beraksi.

Sub materi ketiga adalah “Jurus Timeline”. Jurus ini sebagai sarana agar penulis dapat menikmati proses menulis. Timeline maksudnya garis waktu atau rangkaian kejadian yang urut berdasarkan waktu. Jurus ini biasa saya digunakan untuk melatih menuangkan ide dengan alur yang runtut dan enak dibaca. Adanya timeline membuat alur cerita mudah dipahami dan tidak meloncat-loncat, sehingga membingungkan pembaca.

Kejadian tiba-tiba yang tidak ada dalam timeline menjadi titik menariknya. Jadi, idealnya yang ditulis dalam timeline adalah kejadian yang sudah dialami. Sebab, “sesuatu yang tiba-tiba” itu hanya muncul saat kejadian berlangsung. Modal utama timeline adalah memori jangka pendek dan jangka panjang atau ingatan. Mengapa demikia? Karena hanya berbekal ingatan, seorang penulis dapat mengingat kembali secara detail apa yang dialaminya sehingga dapat menuangkan dalam kisah secara kronologis.

Contoh Timeline

Pukul 04.30 Bangun Tidur

Bagaimana suasana di rumah dan sekeliling rumah saat bangun tidur?

Apa saja aktivitas yang dilakukan setelah bangun tidur?

Adakah kejadian menarik selama menjalankan aktivitas tersebut?

Pukul 06.00 Berangkat ke Kantor

Berangkat naik apa?

Bagaimana kondisi jalan yang dilalui?

Kejadian apa saya yang dilihat atau dirasakan selama perjalanan?

Pukul 07.00  Sudah beraktivitas di Kantor

Apa saja kegiatan yang dilaksanakan selama di kantor?

Bagaimana suasana kerja di kantor?

Bagaimana kondisi fisik kita saat melaksanakan aktivitas kantor sejak masuk hingga selesai

Adakah hal-hal menarik yang terjadi selama melaksanakan kegiatan di kantor?

Pukul 13.30 Pulang Kantor

Bagaimana kondisi lingkungan sekitar saat pulang kantor?

Adakah hal menarik yang dijumpai selama pulang kantor? 

Narasi dari timeline tersebut, yakni : bangun tidur jam berapa, bagaimana keadaan sekitar saat bangun tidur, setelah bangun tidur apa yang pertama kali dikerjakan, kemudian apa lagi … hingga waktu berangkat ke kantor. Kejadian apa yang dialami dan seterusnya.

Melalui rangkaian aktivitas dalam timeline maka ide penulis dapat mengalir secara logis dan kronologis. Timeline kejadian pada hari tertentu bisa dapat dijadikan sebagai latihan menemukan, mengalirkan dan menuangkan ide. Setelah timeline harian, barulah kita berproses para peristiwa yang lebih besar. Misalnya, proses hingga berhasil menulis buku.

Timeline juga dapat dipergunakan untuk mengatasi kondisi deadlock saat menulis. Saat deadlock, cobalah mengingat detik demi detik aktivitas yang telah dilalui. Oleh karena itu, ingatan kejadian yang dialami harus benar-benar dikuak secara detail sehingga menghasilkan kisah yang runtut. Potongan-potongan puzzle peristiwa harus dirangkai secara cermat dan kronologis (berturutan)

Sub materi terakhir adalah ‘Asupan Menulis: 4 Sehat 5 Sempurna”. Agar semakin nikmat dalam menulis, maka dibutuhkan asupan menulis yaitu 4 Sehat 5 Sempurna dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama : Sehat Penglihatan

Seorang penulis harus sehat penglihatan lahiriah dan batiniahnya. Maksud sehat penglihatan lahiriah yaitu jeli dalam melihat sesuatu dari sudut pandang dirinya dan orang lain secara obyektif. Pandai mengambil sudut pandang penulisan secara seimbang. Maksud sehat penglihatan batiniah yaitu menggunakan mata batin untuk membantu proses pendalaman penglihatan lahiriah.

Kedua : Sehat Pendengaran

Seorang penulis harus mendengarkan hal-hal yang sudah pasti kebenarannya. Penulis sejati hanya akan menulis apa yang didengarnya setelah melalui klarifikasi, sekalipun itu didengar dari narasumbernya langsung. Penulis sejati tidak pernah menulis apa yang hanya didengarnya seklias sebelum mengklarifikasi dan memvalidasi terlebih dahulu. Sebab jika tidak berhati-hati justru hanya menghasilkan tulisan yang bersifat hoax.

Ketiga : Sehat pikiran

Maksudnya tidak hanya sebatas sehat akal, namun seorang penulis harus selalu berpikir positif. Menyikapi sesuatu dengan selalu mengedepankan praduga tak bersalah dan selalu berbaik sangka. Berpikiran luas dalam menangkap sebuah fenomena. Menilai kelogisan sebuah peristiwa untuk dituliskan.

Keempat : Sehat Perasaan

Maksudnya seorang penulis tidak mudah terbawa emosi atau baper agar isi tulisannya tidak mengedepankan aspek emosi yang kadang tidak terkontrol. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menyentuh emosi pembaca. Bukan tulisan yang berisi luapan emosional penulisnya. Oleh karena itu, ritme perasaan saat menulis harus dikelola dengan baik.

Kelima : Sempurna didasari dengan HATI

Penglihatan, pendengaran, pikiran dan perasaan akan menjadi optimal saat semuanya dilandasi dengan HATI. Libatkan hati yang terdalam. Menulis benar-benar dari dalam hati. Menulislah dengan sepenuh hati. Tulisan yang keluar dari hati, akan sampai ke hati pembacanya.

Materi tersebut akhirnya saya sajikan di Kelas Menulis RPI NTT pada Kamis malam 25 Februari 2021. Tak seperti narasumber lainnya, respon peserta sebelum acara dimulai terkesan dingin. Mirip dinginnya udara Lereng Lawu yang saya rasakan karena bersamaan dengan hujan lebat. Ha…ha…ha… Saya juga tidak mengetahui siapa yang menjadi moderator kelas. Saya sempat pesimis, hingga akhirnya Bunda Lilis japri menjelang magrib, “Pak Eko menawi sampun kula di WA njih” (Pak Eko kalau sudah siap saya di WA ya).

Selepas magrib saya pun tancap gas menyajikan materi yang sudah siap di komputer. Mendadak, motivasi tiba-tiba berlipat, karena Bunda Lilis yang menemani saya menyajikan materi. Mengingat anggota grup sebagian dari kelas MBI serta anggota RPI yang sudah menghasilkan tulisan, maka saya tidak berbicara sebagai penulis, namun sebagai editor dan reviewer buku. Kenapa demikian? Karena dari situlah saya menemukan nikmatnya membaca tulisan dan seolah merasakan proses menulis dari para penulisnya.

Saat mengedit buku, tak jarang saya temukan tulisan yang dipaksakan. Efeknya, saat dibaca terasa hambar dan tidak nikmat. Tidak sampai ke hati, karena menulisnya tidak sepenuh hati. Produk tulisan jangan dipaksakan. Jangan menulis apa yang tidak diketahui, tidak dikuasai, dan tidak dipahami. Jika dipaksakan, hasilnya pasti terasa oleh pembaca yang jeli. Maka dari itu, saya pun sharing materi menulis itu nikmat seperti tertulis sebelumnya.

Saat menyajikan materi, saya sisipkan “Teori 10.000” Jam dari Malcolm Gladwell yang bunyinya: “Seseorang akan menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu yang diinginkan setelah dia melakukan atau mempelajarinya dalam waktu 10.000 jam”. Lepas dari benar tidaknya, teori tersebut memberikan pesan mendalam. Pesannya bahwa “keberhasilan merupakan buah ketekunan dan kerja keras. Keberhasilan bukan sesuai yang instan, datang secara mendadak atau kebetulan. Namun berproses dan melalui perjuangan.” Orang-orang yang sudah memiliki bakat bawaan pun, akan menonjol bakatnya setelah diasah dengan tekun.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 20.30 WIB tersebut memang terkesan berarus datar. Maklumlah, selain pesertanya sudah menghasilkan tulisan atau bahkan buku, kegiatan ini sifatnya hanya berbagi pengalaman. Maka sedari awal saya menegaskan bahwa ingin berguru dari anggota grup RPI. Grup Rumah Produktif Indonesia yang tentunya menghasilkan produk beraneka ragam khususnya tulisan khususnya.

Pada akhir penyajian, saya tutup dengan quote yang menjadi niche (ciri khas). Sebagai penulis, saya punya niche sebutan “Sang Pena Lereng Lawu” dan niche berupa quote “Menulis itu olah kata dengan rasa, karena menulis seperti berbicara dan teman bicaranya adalah HATI”. Terima kasih Bunda Lilis, rekan-rekan pengurus dan anggota RPI serta peserta Kelas Menulis RPI atas ruang berbagi yang disediakan untuk saya. Saya punya keyakinan bahwa RPI tidak hanya menjadi Rumah Produksi Indonesia, namun juga menjadi Ruang Penulis Inspiratif. Ruang yang insyaallah akan menghasilkan para penulis, editor, reviewer, motivator dan mentor buku yang hebat.

Setelah acara ditutup, respon dari para peserta ternyata sangat meriah. Saya sempat berpikir, “Saat acara belangsung adem ayem. Setelah acara sangat semarak. Apa penyajian saya tadi membingungkan, ya???” Ah…sudahlah…semua sudah berlalu. Ada kejutan pantun saya dapatkan dari Pak Y. Joni Liwu, S.Pd., seorang tenaga pendidik sekaligus penulis tenar yang aktif menulis di Radar NTT.

Kemarau panjang di bulan Juni,

Rumput kering di tanah Savana.

Sungguh beruntung di malam ini,

Raup ilmu 4 sehat 4 sempurna.

Kejutan tak terhenti selepas kegiatan saja. Keseokan paginya menjelang subuh, dapat kejutan lagi. Kali ini pantun dari Ibu Ni Ketut Suastiwi, S.Pd.AUD. Sosok ibu guru TK Negeri Desa Tusan Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali. Sosok yang multitalent, menyandang banyak prestasi, cakap dalam menulis, membuat pantun berikut.

Belanja barang kita ke toko

Mampir ke pasar beli seledri

Belajar Menulis bareng Pak Eko

Jiwa sehat karya terpatri.

Sungguh apresiasi yang luar biasa bagi saya, yang juga masih harus banyak belajar dalam bidang tulis menulis. Terima kasih atas semua apresiasi yang diberikan. Semoga apa yang telah saya bagikan dapat membantu kemajuan literasi nusantara.

Sebagai bagian dari inspirasi di masa pandemi, saya sisipkan puisi berikut ini. 

SAJAK CORONA 

 

Saat engkau hadir ….

Keramaian menjelma menjadi kesunyian

Hiruk pikuk dunia seolah senyap

Suara bising mesin seolah bungkam

Kepulan asap di jalanan seolah sirna

 

Saat logika belum genap berpikir

Nada sendu terlantun dalam kesunyian

Deru ambulan menggema meski sekejap

Lampu sirine menjadi penghias menuju makam

Tangisan menjadi musik pengiringnya

 

Teriakan tanah pemakaman keras terdengar

Tak kuasa menahan beban

Lambaian pencakar langit meminta belas kasihan

Tak kuasa menahan kesunyian

Detak urat nadi ekonomi lemah lunglai mati suri

Tak kuasa menahan resesi

 

 Saat engkau hadir ….

Yang dekat tak kuasa menyekat

Yang bersahabat tak kuasa mendekat

Yang kuat tak kuasa menggeliat

Yang hebat tak kuasa berbuat

 

Hanya terbayang takdir

Yang sehat bersandar iman dan imun kuat

Yang dirawat memandang yang berhazmat

Yang pergi berharap dilepas dengan hormat

Yang tinggal meratap penuh khidmat

 

Engkau runtuhkan tembok kesombongan

Engkau padamkan api keegoisan

Engkau sibakkan tabir kelemahan

Engkau tunjukkan jalan kebenaran

Engkau pahamkan hakikat makna kehidupan

Engkau kembalikan jati diri sebagai insan

  

27 Februari 2021

Sang Pena Lereng Lawu